Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Di Kota Kupang, khususnya bagi pendengar setia Radio Tirilolok era 1980–2000-an, nama Bung Kikok menjadi salah satu yang menggema di telinga para pendengar Radio yang berfrekuensi FM. 1010.1 MHz.
Bung Kikok adalah penyiar radio yang sering membuat para pendengar terlihat “gila” pada pukul 14:00 Wita lantaran suara tawa yang tak bisa dibendung di siang hari yang panas di Kota Kupang. Bung Kikok adalah penghibur setia yang kehadirannya selalu dinantikan tepat pukul 14:00 Wita.
Nama aslinya Fantinus Nano Malubala, namun orang-orang lebih akrab menyapanya Opa Nano atau Bung Kikok. Julukan itu melekat erat dengan sosoknya—ceria, penuh humor, dan selalu berhasil membuat suasana menjadi hidup.
Setiap kali siarannya dimulai, pendengar langsung tahu, siulan khas disusul jargon legendaris, “Kikok… Kikok…”, menggema dari radio-radio di rumah warga Kota Kupang.
Bung Kikok bukan hanya penyiar. Ia adalah seniman, tentara, pejuang, atlet sepeda, sekaligus pemusik.
Dedikasinya bagi negara dibuktikan dengan diterimanya Bintang Seroja, sebuah penghargaan atas jasanya. Setelah pensiun dari Radio Tirilolok, namanya tetap hidup dalam ingatan para penggemar yang mengagumi gaya siarannya yang unik dan penuh warna.
Crew Radio Tirilolok berkesempatan berkunjung ke rumah Almarhum Bung Kikok pada Selasa (03/02/2026). Rumahnya amat sederhana, namun hangat dan penuh keceriaan, seolah mencerminkan kepribadian pemiliknya. Anak-anaknya masih menyimpan rapi benda-benda peninggalan sang legendaris itu; alat musik, lukisan, hingga motor kesayangannya.
Semua terawat, seakan Bung Kikok masih ada di sana, tersenyum sambil melontarkan lelucon khasnya.
Di sudut rumah, terdapat sebuah ruangan khusus, ruang band sekaligus ruang relaksasi. Di sanalah Bung Kikok biasa bermain musik, menciptakan lagu, melukis, atau sekadar melepas penat sepulang siaran. Anak bungsunya mengenang dengan senyum, “Kalau bapak lagi bosan atau dimarahi mama, biasanya bapak lari ke ruangan itu.”
Ruangan itu dipenuhi gitar, keyboard, dan peralatan musik lainnya, saksi bisu kreativitas seorang Bung Kikok. Di sanalah ide-ide segar lahir, yang kelak mengudara dan menghibur ribuan pendengar.
Karier Bung Kikok sendiri bermula sebagai penyiar di Radio RRI dengan siaran ABRI. Sejak awal, humor sudah menjadi napas hidupnya.
Bahkan hingga akhir hayat, sifat itu tak pernah pudar. Jemmy, Anak ke-4 dari Bung Kikok mengatakan bahwa ketika ayahnya dirawat di rumah sakit, ia masih sempat melontarkan Jokes dan lelucon yang juga membuat pasien lain ikut terhibur di tengah rasa sakit.
Isi siaran Bung Kikok sederhana namun bermakna. Cerita lucu, joke-joke segar yang sering diambil dari kejadian sehari-hari, baik dari rumah maupun dari apa yang ia lihat di sekitarnya.
Selain itu, selalu ada teka-teki berhadiah yang membuat pendengar setia menunggu dan ikut berpartisipasi.
Cerita tentang Bung Kikok bukan hanya soal tawa. Di balik kisah kocak dan cerita konyolnya, selalu terselip makna hidup yang mendalam.
Puput, anak bungsunya menjelaskan bahwa semua inspirasi itu berasal dari kehidupan sehari-hari. Bahkan nama “KIKOK” sendiri adalah singkatan dari KISAH KOCAK DAN KONYOL, sebuah konsep sederhana yang berhasil menghibur sekaligus mengedukasi.
Bung Kikok telah tiada. Namun, suaranya, tawanya, dan semangatnya masih hidup, menggema dalam kenangan para pendengar Radio Tirilolok, dan terus dikenang sebagai penyiar legenda yang membuat dunia terasa lebih ringan, satu tawa dalam satu siaran.














