Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Yang mulia Uskup Agung Kupang, Mgr. Hironimus Pakaenoni memimpin Misa Rabu Abu bersama para warga binaan di Lapas Kelas IIA Kupang, Rabu (18/2/2026). Perayaan ini menandai dimulainya masa Prapaskah bagi umat Katolik.
Dalam homilinya, Uskup Agung Kupang menyampaikan bahwa agama kaya akan tanda dan simbol suci, seperti tanda salib, doa, salam damai, serta pemberkatan air, garam, dan abu.
Menurut Mgr. Hironimus Pakaenoni, praktik-praktik tersebut telah dikenal sejak agama-agama kuno dan berakar kuat dalam tradisi Kitab Suci, khususnya Perjanjian Lama.
Ia menjelaskan bahwa abu memiliki makna mendalam dalam tradisi suci. Penggunaan abu yang berulang dalam Alkitab menunjukkan simbol pertobatan, penyesalan, dan kerendahan hati manusia di hadapan Allah.
“Dalam Kitab Ayub kita membaca bagaimana ia berkata, ‘Aku menjadi seperti debu dan abu’ (Ayub 30:19), dan ‘Dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu’ (Ayub 42:6). Itu adalah ungkapan pertobatan dan pengakuan diri,” ujarnya.
Menurut Uskup Agung Kupang, praktik duduk dalam abu juga ditemukan dalam tradisi Israel kuno sebagai tanda duka dan penghormatan kepada Allah. Daniel dan Raja Daud dalam Mazmur 102 pun menggunakan gambaran abu untuk melukiskan kesedihan dan pertobatan yang mendalam.
Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa bagi Gereja Katolik, abu merupakan sakramentali yang digunakan pada Rabu Abu, hari pertama dari 40 hari masa Prapaskah.
Sakramentali, katanya, adalah tanda atau tindakan suci yang ditetapkan Gereja untuk membantu umat menerima rahmat Tuhan dalam kehidupan sehari-hari, dan berbeda dari sakramen.
Selanjutnya, Uskup Agung Kupang mengingatkan manusia akan kefanaan hidup dan keberdosaan. Saat menerima abu, umat mendengar seruan, “Ingatlah engkau berasal dari debu,” atau “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil.”
“Menerima abu saja tidak cukup. Nabi Yoel sudah mengingatkan, ‘Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu.’ Artinya, yang dibutuhkan adalah pertobatan sejati,” tegasnya.
Mgr. Hironimus Pakaenoni juga menjelaskan tiga pilar utama Prapaskah, yakni doa, puasa, dan sedekah. Doa, katanya, membuka ruang bagi Allah dalam hidup manusia. Puasa melatih pengendalian diri sekaligus solidaritas terhadap sesama. Sedekah menjadi wujud nyata kasih kepada mereka yang membutuhkan.
“Tuhan Yesus mengingatkan agar doa, puasa, dan sedekah tidak dilakukan untuk pamer kesalehan, tetapi sebagai jalan untuk kembali kepada Bapa. Sebab Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya,” ujarnya.
Mengutip Rasul Paulus dalam Surat kepada Jemaat di Korintus, Uskup Agung Kupang menyatakan pentingnya momentum pertobatan. “Sekaranglah waktu perkenanan itu, sekaranglah hari penyelamatan itu,” katanya.
Ia menegaskan, Rabu Abu bukanlah hari penghukuman atau sekadar kesedihan, melainkan hari penuh harapan. Abu yang dioleskan di dahi, menurut Mgr. Hironimus Pakaenoni, bukan tanda akhir kehidupan, tetapi simbol bahwa dari kerapuhan dan kehancuran, Tuhan mampu membangun sesuatu yang baru dan baik.
Sebagai informasi, pada tahun 2026, umat Kristiani merayakan Minggu Paskah pada 5 April.














