Gereja Dituntut Respon Cepat Tantangan Zaman, Komunitas Basis Jadi Contoh Nyata

Ziarah Mencari Tuhan di Dalam Kelompok Umat Basis.

Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Sekolah Tinggi Ilmu Pastoral (STIPAS) Keuskupan Agung Kupang (KAK) bekerja sama dengan Komunitas Sastra Dusun Flobamora menggelar diskusi buku “Ziarah Mencari Tuhan di Dalam Kelompok Umat Basis” pada Sabtu, (31/1/2026), bertempat di Aula STIPAS.

Acara menghadirkan narasumber RD. Dr. Leonardus Mali (Ketua Komisi Kerawam KAK), RD. Dr. Herman Punda Panda (Dosen Teologi UNWIRA Kupang), dan Pdt. Yulian Widodo, M.Th (Ketua BP4S GMIT), dengan moderator Herman Seran.

Dalam sambutan pembuka, Ketua STIPAS KAK, RD. Dr. Maksi Un Bria menyampaikan rasa syukur atas kehadiran para narasumber dan peserta. Ia mengungkapkan relevansi diskusi buku ini sebagai bagian dari perjalanan iman umat dan pendidikan pastoral:

“Hari ini kita bersyukur bisa hadir bersama para narasumber dan tokoh awam untuk meneguhkan perjalanan iman kita di awal tahun. Diskusi ini relevan karena pendidikan dan persekutuan adalah kunci pertumbuhan manusia dan gereja.”

Dalam paparan materi, RD. Dr. Herman Punda Panda menjelaskan perkembangan Komunitas Umat Basis (KUB) dan Komunitas Basis Kirejali (KBK) di Indonesia dan dunia. Menurutnya, komunitas ini berfungsi sebagai ruang pertumbuhan iman sekaligus transformasi sosial:

“Intinya sama, umat adalah gereja. Di sini, iman bertumbuh seperti pohon: berakar dalam Tuhan, bertumbuh melalui pengalaman spiritual, dan berbuah dalam transformasi sosial masyarakat. Komunitas Basis Gereja mengajarkan kita bahwa iman harus nyata dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya di liturgi.”

RD. Dr. Leonardus Mali menegaskan pentingnya pengalaman iman yang nyata dalam komunitas:

“Berakar dalam Kristus artinya iman lahir dari kehidupan nyata. Di komunitas basis, Kristus dialami dalam perjumpaan sehari-hari, dalam konflik, kesulitan ekonomi, bahkan masalah keluarga. Iman yang sejati harus berbuah dalam tindakan nyata.”

Ia menambahkan bahwa proses pencarian Tuhan harus sampai pada pengalaman dicintai oleh Tuhan, karena tanpa itu, iman tidak bisa menjadi otentik:

“Proses pertumbuhan iman harus sampai di tahap itu sehingga berujung pada misi. Iman yang hidup tidak berhenti pada doa atau refleksi, tetapi diwujudkan dalam tindakan konkret yang membawa kebaikan bagi lingkungan sekitar.”

Pdt. Yulian Widodo, M.Th membahas kohesi dan dinamika komunitas umat basis dalam kehidupan sehari-hari:

“Dalam komunitas umat basis, anggota berkumpul bukan untuk gosip, tapi membaca kitab suci, berdoa, berdiskusi, dan berkomitmen bersama. Ini mengajarkan kita bahwa gereja harus merespons tantangan zaman, memperkuat persekutuan, dan melayani masyarakat secara nyata.”

Ia juga mengingatkan pentingnya refleksi dan evaluasi gereja terhadap perkembangan masyarakat dan kebutuhan umat:

“Penulis buku ini mengingatkan bahwa gereja sering lambat merespons tantangan. Yang dibutuhkan adalah apresiasi terhadap persekutuan yang kuat dan kegiatan nyata untuk menanggapi kebutuhan aktual masyarakat.”

Diskusi buku ini menegaskan bahwa komunitas umat basis bukan sekadar tempat berdoa, tetapi lokus spiritual dan sosial di mana iman bertumbuh, solidaritas terbentuk, dan tindakan nyata bagi masyarakat lahir.

Buku-buku yang dibahas memberikan pedoman refleksi teologis dan filosofis bagi pertumbuhan iman serta pelayanan sosial gereja, mengajak setiap peserta untuk menjalani proses iman yang berakar, bertumbuh, dan berbuah.