Seabad Seminari Mataloko: Jejak Sejarah dan Harapan Masa Depan

Menuju 1 Abad Seminari Mataloko.

Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Radio TIRILOLOK menggelar program Viral NTT dengan tema Menuju 1 Abad Seminari Mataloko pada Sabtu, (31/1/2026), bertempat di Studio Radio TIRILOLOK, Kupang.

Dialog ini menghadirkan Pembina Seminari Mataloko RD. Marianus Agustinus Gare Sera, Ketua POT Seminari Mataloko Maria Rosalinda Uta Teku, S.E., M.M., serta alumnus Seminari Mataloko Kunibertus Ganti Gai, S.Fil., M.Si.

Dalam dialog interaktif tersebut, RD. Marianus Agustinus Gare Sera menjelaskan bahwa pelaksanaan kegiatan menuju satu abad Seminari Mataloko di Kupang merupakan bagian dari rangkaian besar gerakan refleksi dan pembaruan lembaga pendidikan calon imam tersebut.

Ia menegaskan bahwa kegiatan ini tidak sekadar bersifat perayaan, tetapi menjadi ruang proses pembinaan bagi para siswa, sekaligus momentum perjumpaan antara seminari, orang tua, dan alumni.

“Perayaan satu abad Seminari Mataloko tidak boleh berhenti pada seremoni. Ini adalah gerakan bersama untuk meneguhkan panggilan hidup imamat serta membangun kesadaran kolektif seluruh umat akan pentingnya pendidikan calon imam,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua POT Seminari Mataloko, Maria Rosalinda Uta Teku, S.E., M.M., mengisahkan bahwa keterlibatan orang tua dalam POT Seminari Mataloko berawal dari situasi pandemi Covid-19.

Saat para siswa dipulangkan dan mengikuti pembelajaran jarak jauh, orang tua di Kupang mulai membangun koordinasi intensif untuk mendampingi pendidikan anak-anak seminari.

“Dari komunikasi yang terus terbangun, kami merasa perlu memiliki wadah bersama. Awalnya sederhana, tetapi kemudian berkembang menjadi organisasi resmi orang tua sebagai bentuk tanggung jawab dan kepedulian,” tutur Linda.

Ia menegaskan bahwa POT hadir bukan semata karena kepentingan pribadi orang tua, melainkan sebagai panggilan bersama untuk mendukung pendidikan calon imam di tengah tantangan zaman.

Menurutnya, pilihan anak-anak untuk masuk seminari di era ketergantungan pada gawai merupakan bentuk komitmen dan keberanian yang patut mendapat perhatian serta pendampingan serius dari orang tua.

“Di tengah dunia yang serba instan, keputusan menjadi seminaris adalah pilihan yang tidak mudah dan perlu kita dukung sepenuh hati,” tambahnya.

Sementara itu, alumnus Seminari Mataloko, Kunibertus Ganti Gai, S.Fil., M.Si., menilai bahwa perkembangan Seminari Mataloko saat ini jauh lebih terbuka dibandingkan masa lalu. Ia melihat adanya kemajuan signifikan dalam relasi sosial, keterlibatan siswa, serta keterbukaan lembaga terhadap dunia luar.

“Seminari hari ini jauh lebih terbuka. Ada ruang dialog, relasi sosial yang lebih luas, dan pembentukan pribadi yang lebih kontekstual dengan zaman,” ungkapnya. Perubahan tersebut, menurutnya, merupakan langkah positif dalam membentuk calon imam yang matang, relevan, dan mampu menjawab tantangan pastoral masa kini.

Kunibertus juga menekankan bahwa momentum menuju satu abad Seminari Mataloko menjadi panggilan emosional bagi para alumni untuk kembali pulang dan terlibat aktif. Ia mengingatkan bahwa Seminari Mataloko, sebagai salah satu seminari tertua di Indonesia dan yang pertama di Nusa Tenggara Timur, memiliki nilai sejarah yang kuat serta menjadi sumber kebanggaan lintas generasi.

Melalui program Viral NTT, Radio TIRILOLOK menjadi ruang dialog yang mempertemukan pembina, orang tua, dan alumni dalam semangat kebersamaan. Gerakan menuju satu abad Seminari Mataloko diharapkan menjadi momentum refleksi, penguatan komitmen, serta langkah bersama dalam menyiapkan masa depan lembaga pendidikan calon imam ini.