Pangan Layak Menjadi Prioritas untuk Hidup Bermartabat

Hak Atas Pangan untuk Kehidupan dan Masa Depan yang Lebih Baik.

Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Misa Hari Pangan Sedunia dilaksanakan pada Minggu, 12 Oktober 2025, di Paroki Sancta Familia Sikumana. Perayaan ini dipimpin oleh RD. Sebas Wadjang, SVD, dengan mengusung tema: “Hak Atas Pangan untuk Kehidupan dan Masa Depan yang Lebih Baik.”

Dalam homilinya, RD. Sebas Wadjang, SVD,membacakan surat gembala dari Uskup Agung Kupang, Mgr. Hironimus Pakaenoni. Surat tersebut menegaskan bahwa peringatan Hari Pangan Sedunia setiap 16 Oktober merupakan momentum global untuk memperkuat komitmen terhadap ketahanan pangan, kesejahteraan petani, serta akses yang adil terhadap makanan bergizi.

“Tema tahun ini kembali menekankan bahwa pangan adalah hak asasi manusia, bukan sekadar komoditas. Gereja memandang ini sebagai prioritas, karena pangan adalah kebutuhan dasar untuk hidup yang layak dan bermartabat,” ujar <span;><span;>RD. Sebas Wadjang, SVD.

Namun, kenyataannya masih banyak masyarakat kecil yang hak atas pangannya diabaikan. Karena itu, menurut RD. Sebas, sistem pangan perlu ditransformasi secara menyeluruh.

“Kita butuh sistem pangan yang menghadirkan keberagaman sumber makanan yang sehat, bergizi, terjangkau, dan berkelanjutan. Peran petani lokal sangat penting dalam hal ini,” tegasnya.

Ia menyebutkan bahwa produksi pangan lokal—seperti beras, jagung, singkong, sorghum, talas, sukun, serta sayur dan buah-buahan lokal—harus didukung secara nyata. Infrastruktur pertanian seperti irigasi, benih lokal unggul, pupuk organik, dan akses pasar menjadi faktor kunci untuk memperkuat sistem tersebut.

Lebih lanjut, RD. Sebas Wadjang, SVD menyatakan pentingnya dimensi sosial dan budaya dalam produksi pangan.

“Kebijakan pangan tak bisa hanya bersifat teknis. Pembuat kebijakan harus mendengar suara dari petani kecil dan keluarga yang langsung bergantung pada hasil bumi,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa solusi atas persoalan pangan harus mengedepankan prinsip subsidiaritas dan solidaritas—yakni berpihak pada para petani, pekerja, masyarakat miskin, dan kelompok rentan di pedesaan.

Mengutip Kitab Keluaran, RD. Sebas Wadjang, SVD, mengingatkan umat akan panggilan untuk bertindak nyata.

“Tuhan berkata: Aku telah melihat kesengsaraan umat-Ku dan mendengar jeritan mereka. Maka, kita pun tak boleh tinggal diam di tengah ketidakadilan,” ungkapnya.

RD. Sebas Wadjang, SVD juga menyerukan kolaborasi lintas sektor dan lintas iman demi mewujudkan dunia yang damai, adil, dan sejahtera.

“Kita butuh semangat persaudaraan sejati, serta paradigma ekologi integral—agar kebutuhan setiap orang terpenuhi, martabat manusia dijaga, dan relasi dengan sesama serta alam tetap harmonis,” ujarnya.

Dalam konteks Nusa Tenggara Timur, pendekatan ini sangat relevan. Wilayah yang rawan kekeringan dan penuh tantangan ekologis ini membutuhkan langkah-langkah konkret.

“Teknologi ramah lingkungan, perlindungan keanekaragaman hayati, dan penguatan ekonomi petani adalah kunci untuk masa depan yang lebih baik,” tegas RD. Sebas.

Ia menutup homilinya dengan mengingatkan bahwa transformasi pangan tidak cukup hanya dengan bantuan teknis seperti pupuk atau irigasi. Dibutuhkan perubahan sosial, budaya, dan moral dalam pengelolaan sumber daya.

“Setiap kebijakan pembangunan—termasuk infrastruktur, industri, maupun pariwisata—harus mempertimbangkan dampak ekologis dan sosial jangka panjang,” pungkasnya.