Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL –Kelurahan Fatubesi menggelar evaluasi kegiatan skrining tuberkulosis (TB) paru sekaligus pemaparan hasil survei kepada masyarakat pada Selasa, (8/9/2026). Kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat untuk mendeteksi secara dini risiko TB paru, ISPA, serta gangguan kesehatan paru lainnya.
Dalam kegiatan yang melibatkan kader, RT, RW, Posyandu, dan masyarakat tersebut, sebanyak 183 warga dari keluarga yang berisiko TB telah menjalani skrining.
Dosen Poltekkes Kemenkes Kupang, Dr. Dewa Ayu Putu Mariana Kencana Wati, SSIT., M.Kes, mengatakan sebagian besar warga yang menjalani skrining tidak menunjukkan masalah kesehatan. Namun, ditemukan sejumlah warga yang masuk dalam kategori berisiko dan membutuhkan perhatian lebih lanjut.
“Dari 183 orang yang kita skrining, ditemukan 21 orang memiliki risiko TB, enam orang memiliki tanda bahaya, dan empat orang memiliki risiko ISPA,” jelasnya dalam wawancara bersama Radio TIRILOLOK.
Menurut Ayu, enam warga yang menunjukkan tanda bahaya merupakan kelompok yang harus segera mendapatkan rujukan medis. Kondisi tersebut dinilai penting untuk ditindaklanjuti karena penyakit paru, termasuk TB, dapat menular melalui udara.
Ia menegaskan, skrining menjadi penting karena memungkinkan masalah kesehatan ditemukan lebih awal sehingga penanganan dapat segera dilakukan.
“Kalau sudah ditemukan melalui skrining dan langsung diobati, kemungkinan untuk sembuh lebih besar,” katanya.
Dewa Ayu juga mengungkapkan bahwa sebagian besar dari 21 warga yang berisiko TB merupakan anak-anak. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena hasil skrining menunjukkan tingginya risiko pada kelompok usia tersebut.
Selain faktor usia, kondisi rumah warga juga menjadi perhatian. Menurutnya, sejumlah rumah belum memenuhi kondisi rumah sehat, terutama dari sisi ventilasi.
“Rumah sehat harus memiliki ventilasi. Ini yang perlu mendapat perhatian, karena kalau tidak dilakukan skrining, risikonya tidak akan diketahui,” ujarnya.
Ia menilai kegiatan skrining perlu diperluas ke wilayah lain di Kota Kupang mengingat tingginya risiko penyakit TB paru di daerah tersebut. Skrining, menurutnya, merupakan langkah pencegahan dan deteksi dini sebelum kondisi penyakit berkembang menjadi lebih berat.
Setelah pemaparan hasil, masyarakat bersama RT, RW, kader Posyandu, dan pihak terkait melakukan diskusi untuk merumuskan langkah penyelesaian terhadap masalah kesehatan yang ditemukan. Rencana tindak lanjut tersebut akan mulai diterapkan dan kembali dievaluasi pada 15 September 2026.
Sementara itu, Lurah Fatubesi, Anak Agung G.S.M. Putera, S.E., mengatakan kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut dari temuan kasus TB paru di tengah masyarakat yang sebelumnya diketahui melalui Puskesmas Pasir Panjang.
Temuan tersebut kemudian dibawa dalam musyawarah kelurahan yang melibatkan Lembaga Kemasyarakatan Kelurahan (LKK), RT, RW, dan tokoh masyarakat. Hasil musyawarah menyepakati pemanfaatan dana pemberdayaan masyarakat yang tersedia dalam DPA kecamatan untuk mendukung pelaksanaan skrining TB paru di Kelurahan Fatubesi.
“Kami bersama-sama dengan kader merumuskan rencana pendataan, skrining, evaluasi, dan rencana tindak lanjut ke depan bagi warga yang sudah terdeteksi TB paru, ISPA, maupun penyakit lainnya,” ujar Putera.
Ia menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Kupang yang setiap tahun mengalokasikan dana kelurahan, khususnya untuk kegiatan pemberdayaan masyarakat.
Menurut Lurah Fatubesi, dukungan anggaran tersebut harus diarahkan pada kegiatan yang benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat, termasuk penanganan masalah kesehatan secara cepat dan tepat.
“Kami berharap dana pemberdayaan masyarakat ini benar-benar dimanfaatkan dan menyentuh kepentingan hakiki masyarakat, terutama ketika mereka membutuhkan penanganan yang cepat, tepat, dan bermanfaat bagi kita semua,” katanya.
Kegiatan evaluasi skrining di Kelurahan Fatubesi diharapkan tidak berhenti pada tahap pendataan, tetapi dilanjutkan dengan intervensi dan pemantauan terhadap warga yang teridentifikasi berisiko.
Dengan demikian, temuan skrining dapat menjadi dasar bagi masyarakat dan pemangku kepentingan untuk melakukan pencegahan serta penanganan lebih dini.














