Krisis Pendidikan Menghantui NTT, Melki Laka Lena Minta Sekolah Katolik Turun Tangan

Gubernur NTT Buka Fakta Mengejutkan: "Separuh Anak Putus Sekolah Sejak SMP."

Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena, menghadiri Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-51 Majelis Nasional Pendidikan Katolik (MNPK) yang digelar selama empat hari di Hotel Kristal Kupang.

Kegiatan ini mengusung tema “Ut Omnes Unum Sint: All Together Now — Mewujudkan Sekolah Unggul Katolik di Bumi Nusantara” sebagai momentum refleksi dan pembaruan semangat pelayanan pendidikan Katolik di Indonesia.

Tema tersebut menegaskan panggilan untuk bersatu dalam kasih dan kolaborasi lintas wilayah, generasi, dan peran, guna menghadirkan sekolah-sekolah Katolik yang unggul, inklusif, serta berakar pada nilai-nilai Injili.

Rangkaian kegiatan diawali dengan Misa Pembukaan Hari Studi dan HUT ke-51 MNPK yang dipimpin Uskup Agung Kupang, Mgr. Hironimus Pakaenoni, pada Senin, (15/12/2025).

Dalam pemaparannya mengenai kontribusi sekolah Katolik terhadap pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) di NTT, pada Rabu (17/12/2025), Gubernur Melki Laka Lena menjelaskan tantangan serius di sektor pendidikan, khususnya angka partisipasi sekolah yang terus menurun di setiap jenjang.

“Di NTT, hampir 100 persen anak usia sekolah masuk SD. Namun saat masuk SMP, jumlahnya turun sekitar 50 persen. Dari SMP ke SMA, kembali turun 50 persen. Artinya, hanya sekitar 25 persen anak usia sekolah yang bisa bertahan hingga SMA,” ujar Melki.

Ia menjelaskan, kondisi tersebut menunjukkan tingginya angka putus sekolah yang terjadi secara berjenjang, terutama di tingkat SMP dan SMA. Menurutnya, persoalan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik struktural maupun kultural.

“Masih banyak wilayah yang belum terjangkau layanan pendidikan secara optimal karena keterbatasan tenaga pendidik, infrastruktur sekolah, hingga pendanaan,” katanya.

Selain pendidikan, Melki juga menyatakan persoalan kemiskinan dan kesehatan masyarakat yang saling berkaitan dan berdampak langsung pada kualitas SDM di NTT.

“Kemiskinan sosial-ekonomi di NTT masih tinggi, terutama di daerah dengan basis kepercayaan yang kuat. Di sisi lain, masalah kesehatan dan gizi masyarakat juga masih menjadi persoalan mendasar,” ungkapnya.

Ia menambahkan, rendahnya kualitas kesehatan menyebabkan sebagian besar tenaga kerja di NTT masih didominasi oleh pekerja berkemampuan rendah (low skill), sehingga belum mampu bersaing pada level keterampilan yang lebih tinggi.

“Karena itu, kami melihat sekolah Katolik memiliki peran strategis dalam transformasi NTT, tidak hanya dalam pendidikan formal, tetapi juga dalam membentuk karakter, keterampilan, dan daya saing generasi muda,” tegasnya.