Larantuka, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Umat Gereja Stasi Kristus Raja Semesta Alam Lamaole melakukan peletakan batu pertama pembangunan gereja stasi pada Sabtu, 31/01 di halaman gereja Stasi Kristus Raja Semesta Alam.
Peristiwa ini dihadiri oleh Pastor Paroki Ritaebang RP. Daniel Nara Gere, SVD, Bapak Camat Solor Barat Petrus Kera Kewuan, Kepala Desa Lewotana Ole, Siprianus Kaya Seda, Ibu Penjabat Desa Lamaole Maria Imakulata Peni Niron, tokoh-tokoh adat setempat dan juga umat Stasi Lamaole.
Kegiatan ini dimulai dengan ibadat peletakan batu pertama oleh RP Daniel selaku pastor Paroki Ritaebang. Sebagai masyarakat kultur Lamaholot, ibadat ini juga dibarengi dengan seremonial adat yang dilakukan oleh beberapa tokoh adat dari suku-suku yang memiliki peranan masing-masing.
Yosef Gapun, Ketua Stasi Lamaole memberikan gambaran tentang pembangunan gereja ini.
“Melihat kondisi bangunan gereja yang sudah tidak layak ini, sengnya sudah bocor, temboknya mulai renggang, maka secara mufakat kami bersepakat untuk membangun gereja yang baru diseputaran kintal gereja ini” tegasnya.
Ia juga mengatakan bahwa menjadi sebuah keprihatinan bersama, apabila tidak dibangun (gereja) sekarang ini, lantas apakah generasi muda kelak bisa mendirikannya.
Selepas ibadat peletakan batu pertama, acara dilanjutkan dengan ritus adat oleh empat tokoh adat dari empat suku. Suku Ole sebagai keten/ kepala, suku Keraf sebagai kelen/kaki, suku Gapun bertugas memotong hewan dan suku Kolo bertugas menuturkan bahasa adat. Seremoni ini dimulai dengan acara penyembelihan babi.
Setelah proses adat selesai, semua orang menggali fondasi sebanyak 40 tiang. Untuk itu, semua orang tua muda berjibaku bersama-sama menggali fondasi tersebut.
Peristiwa itu telah menjadi sebuah momentum kepulangan banyak orang, sebab sebagian dari masyarakat Lamaole telah berpindah penduduk efek transmigrasi lokal pada tahun 1970-an.
RP Daniel selaku Pastor paroki Ritaebang pun turut memberikan tanggapan tentang perayaan iman ini.
“Gereja baru sangat dibutuhkan umat stasi ini. Gereja lama dibangun oleh P. Van Vessen, SVD misionaris asal Belanda pada tahun 1962-1963. Sudah 60 tahun gereja ini berdiri dengan sukacita dan juga dukacita di dalamnya. Untuk itu, semua kita bergerak bersatu hati untuk membangun iman di Lewotana ini,” jelas RP. Daniel.
Semua orang bahu membahu membangun gereja ini, tua muda turun tangan bergotong-royong. Semuanya dilakukan menggunakan tenaga manusia tanpa adanya mesin pembantu.
Selain mengalami keterbatasan alat proyek, pembangunan gereja ini juga mengalami kekurangan dana. Namun bagi umat Lamaole, yang terpenting ialah berani melangkah untuk membangun fondasi gereja terlebih dahulu.
“Total dana yang kita rencanakan ialah Rp. 3,7 miliar. Namun, yang ada ditangan sekarang hanylah Rp. 160.000.000 juta” tandas Yosef Gapun, ketua dewan stasi Lamaole.
Pembangunan tetap berjalan dengan dana yang minim, sambil berharap pada donasi dari semua orang yang rela membantu. Pater Daniel mengajak semua umat bersatu hati dalam iman dan siap bekerja sama membangun gereja ini demi kepentingan iman dan juga kepentingan Lewotana ini.














