Ratusan Warga Bermigrasi, Komunitas Tun Afnekan Hadir Ubah Pola Pikir Generasi Muda

Get To Know Tun Afnekan.

Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Radio TIRILOLOK menggelar program Gen-Z Bicara dengan topik Get To Know Tun Afnekan, Rabu (8/4/2026) di Studio Radio TIRILOLOK. Kegiatan ini menghadirkan pendamping komunitas Tun Afnekan, Yesriyani Imelda Lopo.

Dalam sesi interaktif, Imelda menjelaskan keterlibatannya dalam lembaga swadaya masyarakat Jaringan Perempuan Indonesia Timur yang berfokus pada penelitian dan publikasi terkait isu perempuan, agama, dan budaya.

“Pada awalnya, kami bergerak melalui divisi penanganan tindak pidana perdagangan orang, sekaligus mendampingi mantan pekerja migran di Kabupaten Kupang, termasuk di Desa Bokong,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pembentukan komunitas Tun Afnekan berawal dari kolaborasi antara Jaringan Perempuan Indonesia Timur dan organisasi Asia Justice and Rights (AJAR) di Jakarta dalam melakukan analisis sosial di desa-desa kantong pekerja migran Indonesia.

“Desa Bokong menjadi salah satu lokasi dengan tingkat migrasi yang cukup tinggi, sehingga menjadi fokus dalam proses pendampingan,” katanya.

Menurut Imelda, analisis dilakukan menggunakan metode partisipatif seperti Participatory Active Research dan Peta Kampung. “Pendekatan ini digunakan untuk memetakan kondisi wilayah, mulai dari infrastruktur, permukiman, hingga potensi sumber daya yang dimiliki masyarakat,” ujarnya.

Selain penelitian, program juga mencakup pendidikan kritis yang berlangsung sejak 2021 hingga 2023. “Setelah program selesai, muncul kebutuhan untuk menjaga keberlanjutan proses belajar, sehingga dibentuklah komunitas Tun Afnekan sebagai ruang diskusi dan pengembangan kapasitas,” katanya.

Ia menambahkan, nama Tun Afnekan berasal dari bahasa Dawan yang berarti Pucuk Harapan. “Nama ini mencerminkan semangat untuk menghadirkan perubahan pola pikir serta membuka peluang baru bagi generasi muda di desa,” ujarnya.

Hasil pendataan menunjukkan sekitar 200 warga melakukan migrasi kerja. Imelda mengungkapkan, sejumlah kasus menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. “Ada yang tidak menerima upah, mengalami kecelakaan kerja, bahkan kehilangan nyawa saat bekerja di luar negeri,” katanya.

Kondisi tersebut mendorong penguatan kesadaran kritis melalui komunitas. “Kami ingin generasi muda lebih memahami risiko migrasi non-prosedural dan mampu mengambil keputusan secara lebih bijak,” ujarnya.