Program MBG Tak Hanya Penuhi Gizi Anak, tetapi Juga Beri Dampak Ekonomi bagi Pekerja Lokal

Pengelola MBG jelaskan sistem pengupahan tenaga kerja yang terlibat.

Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak hanya menjadi upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas gizi anak dan menekan angka stunting, tetapi juga memberikan dampak ekonomi melalui penciptaan lapangan kerja serta pemberdayaan masyarakat lokal.

Dalam wawancara bersama Radio TIRILOLOK pada Rabu (15/7/2026) di SMKS Swastisari Kupang, Ketua Koordinator Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Nefonaek yang dikelola Yayasan Litra Prabu, Polce, menjelaskan bahwa sistem pendistribusian makanan MBG saat ini telah menggunakan basis Nomor Induk Siswa (NIS).

Menurut Polce, penerapan sistem tersebut bertujuan memastikan jumlah makanan yang disalurkan sesuai dengan jumlah peserta didik yang terdaftar di setiap sekolah, sekaligus mencegah terjadinya ketidaksesuaian data penerima manfaat.

Saat ini, SPPG Nefonaek secara rutin mendistribusikan makanan bergizi ke 18 titik Posyandu dan empat sekolah setiap Senin hingga Jumat. Proses distribusi dilakukan dalam dua tahap, yakni pagi hari untuk Posyandu dan taman kanak-kanak (TK), serta siang hari untuk sekolah umum.

Pada jadwal distribusi siang, petugas juga melakukan pengambilan kembali wadah makanan atau ompreng yang telah digunakan oleh penerima manfaat.

Selain mendukung pemenuhan gizi anak, pelaksanaan program MBG juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar melalui penyerapan tenaga kerja lokal. Salah satunya adalah tenaga pengantar makanan, pencuci ompreng, serta petugas pendukung lainnya.

Polce menjelaskan, tenaga kerja yang terlibat dalam operasional SPPG Nefonaek memperoleh upah yang dihitung berdasarkan jumlah hari kerja. Besaran upah tersebut sekitar Rp110.000 per hari untuk beberapa jenis pekerjaan, seperti sopir pengantar makanan dan petugas pencuci ompreng.

Meskipun pembayaran dilakukan secara berkala, seperti setiap dua minggu atau satu bulan sekali sesuai mekanisme masing-masing dapur, perhitungan gaji tetap menggunakan sistem harian. Artinya, tenaga kerja hanya menerima pembayaran sesuai jumlah hari mereka bekerja dan tidak dihitung apabila tidak masuk kerja.

Di akhir wawancara, Polce mengimbau para guru, orang tua, dan pendamping agar mendorong anak-anak segera mengonsumsi makanan setelah diterima.

Menurut Polce, makanan yang disantap dalam kondisi masih hangat akan lebih baik dalam menjaga kualitas serta kandungan gizi untuk mendukung pertumbuhan anak.