512 Sekolah di Flores Terdampak Gempa, 675 Ruang Kelas Darurat Dibutuhkan

Tujuh kabupaten yang terdampak.

Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Sebanyak 512 satuan pendidikan di tujuh kabupaten di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), terdampak gempa bumi. Data tersebut dihimpun Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT berdasarkan pendataan sementara di lapangan.

Dari 512 sekolah terdampak, sebanyak 373 sekolah atau sekitar 73 persen telah mengisi data kerusakan, sementara 139 sekolah lainnya masih dalam proses pendataan.

Tujuh kabupaten yang terdampak yakni Kabupaten Manggarai dengan 160 sekolah, Nagekeo 86 sekolah, Ngada 74 sekolah, Ende 69 sekolah, Manggarai Timur 64 sekolah, Sikka 36 sekolah, dan Manggarai Barat 23 sekolah.

Dampak gempa juga dirasakan warga satuan pendidikan. Data sementara mencatat sebanyak 94.452 siswa terdampak, terdiri dari 47.991 siswa laki-laki dan 46.461 siswa perempuan. Selain itu, terdapat 8.755 guru dan tenaga kependidikan yang turut terdampak, terdiri dari 7.920 guru dan 835 tenaga kependidikan.

Dari pendataan yang telah dilakukan, tercatat 1.925 ruang kelas mengalami kerusakan dari 2.941 ruang kelas yang telah terdata. Sebanyak 166 sekolah atau sekitar 32,4 persen dari total sekolah terdampak masuk kategori rusak berat atau rusak total.

Sementara itu, sebanyak 9.777 warga sekolah dilaporkan mengungsi. Dalam laporan tersebut juga tercatat 22 korban meninggal dunia.

Untuk mendukung keberlangsungan proses belajar mengajar, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT memperkirakan kebutuhan ruang kelas darurat mencapai 675 unit.

Dalam wawancara bersama wartawan, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT, Ambrosius Kodo, S.Sos., M.M., menegaskan kegiatan belajar mengajar untuk sementara tidak boleh dilakukan di ruang kelas permanen di wilayah yang masih terdampak gempa.

“Untuk sementara tidak boleh dilakukan di ruang kelas karena gempa masih terus terjadi,” ujar Ambrosius dalam wawancara bersama wartawan.

Menurut Kadis Pendidikan, sekolah dapat memberikan penugasan kepada siswa. Jika kondisi memungkinkan, pembelajaran juga dapat dilakukan secara daring dengan tetap berada dalam pengawasan orang tua.

“Karena masih terus terjadi gempa, anak-anak bergerak ke mana-mana. Sebaiknya selalu dalam pengawasan orang tua,” katanya.

Khusus bagi siswa kelas XII yang sedang mempersiapkan Tes Kemampuan Akademik, kegiatan pembelajaran tetap dapat dilakukan apabila diperlukan, tetapi tidak di ruang kelas permanen.

“Kalau kelas XII dalam rangka persiapan Tes Kemampuan Akademik dan perlu dilakukan pembelajaran, itu dilakukan di tenda-tenda atau ruang kelas darurat, tidak boleh di ruang kelas permanen,” jelasnya.

Langkah tersebut, kata Ambrosius Kodo, dilakukan untuk mengurangi risiko terhadap keselamatan siswa dan tenaga pendidik selama gempa susulan masih terjadi.

Dorong Pendidikan Aman Bencana

Ambrosius Kodo mengatakan kondisi tersebut menjadi pembelajaran penting bagi pemerintah dan dunia pendidikan untuk memperkuat penerapan pendidikan aman bencana di sekolah.

Menurut Ambross, setiap pembangunan ruang kelas harus memperhatikan kekuatan konstruksi agar mampu memberikan perlindungan maksimal bagi siswa dan tenaga pendidik ketika terjadi gempa.

“Ke depan, di sekolah-sekolah kita harus terus mendorong pendidikan aman bencana,” katanya.

Ia menjelaskan, pendidikan aman bencana tidak hanya berkaitan dengan konstruksi bangunan, tetapi juga pemahaman seluruh warga sekolah terhadap potensi bencana di lingkungan sekitar.

Peserta didik, guru, dan tenaga kependidikan perlu mengetahui potensi bencana, memahami langkah mitigasi, serta rutin mengikuti simulasi penyelamatan diri.

Dengan demikian, ketika bencana terjadi, warga sekolah telah mengetahui tindakan yang harus dilakukan untuk menyelamatkan diri dan mengurangi risiko korban.

Ambrosius Kodo juga menyampaikan pesan kepada para siswa yang terdampak bencana di Pulau Flores agar tetap semangat menghadapi situasi tersebut.

“Kita hidup di wilayah yang rawan bencana alam. Kita harus hidup harmoni dengan kondisi itu, mengenal dan memahami cara memitigasi serta menyelamatkan diri,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya membangun kesiapsiagaan sehingga menghadapi potensi bencana menjadi bagian dari kebiasaan warga sekolah di wilayah rawan bencana.

Data sementara sekolah terdampak gempa per kabupaten:

  • Manggarai: 160 sekolah
  • Nagekeo: 86 sekolah
  • Ngada: 74 sekolah
  • Ende: 69 sekolah
  • Manggarai Timur: 64 sekolah
  • Sikka: 36 sekolah
  • Manggarai Barat: 23 sekolah

Data kerusakan sekolah diklasifikasikan dalam kategori rusak total, rusak berat, rusak sedang, rusak ringan, dan belum dilaporkan. Pendataan mencakup jenjang PAUD, SD, SMP, SMA, SMK, SLB, dan pendidikan kesetaraan.