25 Tahun Imamat RD Adrianus Dimu, Wali Kota Kutip Pesan Kesetiaan dan Kepemimpinan

Menurut dr. Christian Widodo, "nilai ketulusan, pengorbanan, dan kesetiaan yang dihidupi seorang imam relevan pula bagi setiap pemimpin."

Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – “Mengucapkan kata ‘ya’ saat tahbisan adalah keberanian. Namun, menghidupi kata ‘ya’ itu setiap hari selama 25 tahun adalah kesetiaan.” Pesan reflektif tersebut disampaikan Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, saat menghadiri Perayaan Syukur 25 Tahun Imamat RD. Adrianus Dimu, Pr., di Kapela Stasi Santa Theresia Tenau, Selasa (13/10/2026).

Baginya seperempat abad perjalanan imamat bukan sekadar penanda waktu, melainkan kesaksian tentang pengorbanan, keteguhan hati, dan kesetiaan dalam melayani Tuhan serta umat.

Perayaan yang berlangsung dalam suasana penuh syukur itu turut dihadiri Anggota DPRD Kota Kupang Dapil Alak, Yafet Yeverson Horo dan Dicky Fitzgerald Tallo; Ketua Unio Imam Projo Indonesia, RD. Dr. Florens Maxi Un Bria, Pastor Paroki Santo Gregorius Agung Oeleta, RD. Bob Muda; para imam, biarawan dan biarawati; keluarga yubilaris; serta umat.

Dalam sambutannya, Wali Kota Kupang menyampaikan apresiasi kepada Gereja Katolik, khususnya Keuskupan Agung Kupang, yang selama ini menjadi mitra pemerintah dalam membangun masyarakat Kota Kupang. Menurutnya, kontribusi gereja tidak hanya terlihat dalam pendidikan formal, tetapi juga melalui pembentukan iman, karakter, moral, dan kepedulian sosial.

“Pembangunan sumber daya manusia bukan hanya tentang membuat orang pintar secara akademik, tetapi juga bagaimana membentuk manusia yang kuat imannya dan tinggi karakternya. Di sinilah peran gereja sangat penting,” ungkapnya.

Ia menilai, kemajuan sebuah kota tidak cukup diukur dari pembangunan jalan, gedung, dan berbagai infrastruktur.

Kemajuan juga ditentukan oleh kualitas manusianya, bagaimana masyarakat hidup dalam kejujuran, memiliki kepedulian terhadap sesama, serta mampu menjaga persaudaraan di tengah keberagaman.

Dari perjalanan imamat RD. Adrianus Dimu, Wali Kota Kupang juga merefleksikan makna kepemimpinan dalam pemerintahan. Ia menegaskan bahwa prinsip “Memerintah adalah Melayani” bukan sekadar slogan, melainkan komitmen yang harus diwujudkan melalui kebijakan dan tindakan nyata yang berpihak kepada masyarakat.

“Bukan tentang seberapa tinggi status kita atau seberapa besar kewenangan yang kita miliki, tetapi tentang seberapa dalam kita mampu menyelam dalam pelayanan. Kekuasaan itu bukan hanya otoritas, melainkan kesediaan untuk melayani dan menghadirkan kebijakan yang berpihak kepada rakyat,” tegasnya.

Menurut dr. Christian Widodo, nilai ketulusan, pengorbanan, dan kesetiaan yang dihidupi seorang imam relevan pula bagi setiap pemimpin. Jabatan pada akhirnya bukan tentang kedudukan yang harus dipertahankan, melainkan amanah yang harus dijalankan demi kebaikan orang lain.

Ia pun menyampaikan proficiat kepada RD. Adrianus Dimu dan mendoakan agar sang imam senantiasa dianugerahi kesehatan, kekuatan, kebijaksanaan, serta sukacita dalam melanjutkan tugas perutusannya.

Sementara itu, RD. Adrianus Dimu mengungkapkan rasa syukur atas penyertaan Tuhan selama 25 tahun perjalanan imamatnya. Ia memilih semboyan, “Jiwaku Memuliakan Tuhan dan Hatiku Bergembira karena Allah, Juru Selamatku,” sebagai ungkapan iman yang membingkai perjalanan panggilannya.

Ia mengakui bahwa imamat merupakan rahmat yang tidak pernah dianggap sebagai sesuatu yang pantas diterima begitu saja. Dalam pelayanan sakramental, khususnya saat konsekrasi Ekaristi, ia senantiasa menyadari dirinya sebagai manusia biasa yang dipilih Tuhan untuk menghadirkan Kristus di tengah umat.

Kesadaran tersebut menjadi sumber kerendahan hati sekaligus kekuatan untuk tetap setia, termasuk ketika menghadapi berbagai tantangan dalam perjalanan pelayanan.

Panggilannya tumbuh sejak masa kecil, terinspirasi oleh sosok misionaris yang bersedia hidup dan menderita bersama umat di wilayah pelayanannya. Ketertarikan itu kemudian berkembang menjadi tekad untuk menjadi imam, hingga akhirnya ia menjalani pendidikan calon imam dan menerima tahbisan.

Dalam perjalanan pelayanannya, RD. Adrianus Dimu pernah bertugas di Seminari Menengah Santo Rafael Oepoi, Paroki Santo Yosef Naikoten, Paroki Santo Paulus Sikumana, dan Paroki Santa Maria Dolorosa Sikumana, sebelum melanjutkan pelayanan di Paroki Santo Gregorius Agung Oeleta.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada pimpinan Keuskupan Agung Kupang, para imam, rekan sepelayanan, keluarga, pengurus gereja, donatur, serta umat yang telah mendukung perjalanan panggilan dan pelayanannya.

Pastor Paroki Santo Gregorius Agung Oeleta, RD. Bob Muda, dalam kesempatan yang sama menegaskan bahwa perayaan 25 tahun imamat bukan sekadar memperingati perjalanan waktu, melainkan mensyukuri kesetiaan, doa, pengorbanan, dan kasih yang telah dibagikan kepada umat.

“Menjadi imam bukan hanya tentang berdiri di depan altar, tetapi juga tentang hadir di tengah umat. Bukan hanya mewartakan Injil melalui kata-kata yang indah, tetapi juga melalui ketulusan, kesabaran, dan perbuatan kasih,” ungkapnya.

Menurut RD. Bob Muda, jejak pelayanan seorang imam dapat ditemukan dalam kehidupan yang disentuh, hati yang dikuatkan, keluarga yang dihibur, kaum muda yang dibimbing, serta umat yang diteguhkan dalam iman. Karena itu, 25 tahun imamat RD. Adrianus Dimu menjadi momentum untuk mengapresiasi perjalanan yang telah dilalui sekaligus meneguhkan pelayanan pada masa mendatang.

“Dua puluh lima tahun imamat bukanlah garis akhir sebuah perjalanan, melainkan tanda bahwa Tuhan yang memanggil adalah Tuhan yang juga terus menyertai. Masih ada hati yang perlu diteguhkan, jiwa yang perlu dirangkul, dan kasih Tuhan yang harus terus diwartakan,” tuturnya.