Bawaslu NTT Siapkan Antisipasi untuk TPS Rawan

Sebanyak 303 TPS yang sulit dijangkau karena faktor geografis dan cuaca.

Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Provinsi NTT mengadakan konferensi pers mengenai identifikasi TPS rawan dalam pemilihan serentak tahun 2024 di Provinsi Nusa Tenggara Timur pada Jumat, (22/11/2024), di Hotel Kristal Kupang.

Dalam sambutannya, Ketua Bawaslu NTT, Nonato Da Purificacao Sarmento, menyampaikan bahwa pemilihan tahun 2024 dilakukan identifikasi TPS rawan, sebagaimana tindak lanjut dari pemilu sebelumnya. Hasil identifikasi menunjukkan adanya lima indikator TPS yang paling rawan, sebelas indikator yang cukup sering terjadi, dan empat indikator yang jarang terjadi namun tetap perlu diantisipasi. Pemetaan kerawanan dilakukan berdasarkan delapan variabel.

Ketua Bawaslu NTT juga menambahkan pemilih khusus, seperti mereka yang namanya tidak terdaftar dalam DPT tetapi memiliki KTP, tetap diperhitungkan dan ada cadangan suara. Untuk pemilih yang pindah memilih, penyesuaian dilakukan berdasarkan ketersediaan surat suara di lokasi TPS. Penanganan pelanggaran juga diupayakan dengan memantau laporan dan temuan, dengan total 33 temuan yang diproses, di mana 8 di antaranya bukan pelanggaran dan 36 lainnya tergolong pelanggaran.

Sementara itu, Koordinator Divisi Pencegahan Partisipasi Masyarakat dan Humas Bawaslu NTT, Amrunur Muh Darwan, menjelaskan terdapat 11 indikator potensi kerawanan TPS yang cukup sering terjadi. Di antaranya, terdapat 973 TPS yang mengalami kendala aliran listrik, 545 TPS dengan pemilih yang memenuhi syarat namun tidak terdaftar di DPT, dan 303 TPS yang sulit dijangkau karena faktor geografis dan cuaca. Selain itu, ada 236 TPS yang mengalami kekurangan atau kelebihan logistik, serta 145 TPS yang memiliki riwayat intimidasi terhadap penyelenggara pemilihan.

Amrunur juga mencatat beberapa indikator lainnya, seperti 144 TPS yang memiliki riwayat Pemungutan Suara Ulang (PSU), 138 TPS yang berada di wilayah rawan bencana, 119 TPS yang pernah mengalami kekerasan, dan 114 TPS yang terlambat dalam distribusi logistik.

Berikutnya, ada sebanyak 110 TPS mengalami kerusakan pada logistik, pemungutan, dan penghitungan suara, dan 108 TPS terlibat dalam praktik pemberian uang atau materi lainnya yang tidak sesuai ketentuan pada masa kampanye di sekitar lokasi TPS.

Konferensi pers yang dihadiri oleh sejumlah wartawan dari Kota Kupang.