Larantuka, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Romo Yohanes Hans Monteiro yang ditunjuk Paus Leo XIV sebagai Uskup Larantuka menggantikan Mgr. Fransiskus Kopong Kung, resmi ditahbiskan pada Rabu, (11/2/2026).
Prosesi penahbisan berlangsung khidmat di Gereja Katedral Reinha Rosari Larantuka dan dihadiri ribuan umat Katolik dari Flores Timur dan Lembata yang memadati katedral sejak pagi hari.
Penahbisan imam Projo Keuskupan Larantuka tersebut turut dihadiri 34 uskup dari berbagai keuskupan di Indonesia, perwakilan Nunsius Apostolik Vatikan di Jakarta, Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena sekitar 300 imam Katolik, serta sejumlah pejabat daerah dari Flores Timur dan Lembata.
Dalam sambutannya, Mgr. Yohanes Hans Monteiro menyampaikan bahwa penahbisannya bukanlah karena kehendak pribadi, melainkan panggilan dan rahmat Allah melalui Gereja.
“Saya berdiri di sini bukan karena kehendak atau rencana saya sendiri, tetapi karena panggilan dan rahmat Allah yang bekerja melalui Gereja-Nya,” ujar Mgr. Yohanes Hans Monteiro.
Ia menyatakan bahwa tahbisan episkopal bukanlah sebuah kehormatan pribadi, melainkan bentuk pelayanan kepada Gereja dan umat Allah.
“Tahbisan ini bukan suatu kehormatan pribadi, melainkan tanggung jawab pelayanan. Saya hadir bukan sebagai pemilik Gereja, tetapi sebagai pelayan persekutuan, penjaga kesatuan, dan saksi pengharapan bagi umat,” tegasnya.
Mengacu pada ajaran Konsili Vatikan II dalam Lumen Gentium, Uskup Larantuka menjelaskan bahwa tahbisan episkopal merupakan kepenuhan Sakramen Imamat yang menempatkan seorang uskup dalam kesinambungan para rasul sebagai tanda kehadiran Tuhan Yesus di tengah umat.
“Melalui penumpangan tangan dan doa tahbisan, Gereja memohon agar Roh Kudus dicurahkan supaya saya mampu menjalankan tugas sebagai pengajar iman, pengudus umat, dan gembala yang setia,” katanya.
Bagi Gereja lokal Keuskupan Larantuka, tahbisan tersebut menjadi penegasan bahwa Kristus terus menyertai umat sejak benih iman ditaburkan para misionaris Dominikan, Serikat Yesus, dan hingga berkembang dan dihidupi umat melalui devosi kepada Tuan Ma di Larantuka.
Mgr. Yohanes Hans Monteiro juga mengungkapkan apresiasi atas peran komunitas basis Gereja serta pelayanan para imam, biarawan, dan biarawati yang terus menjaga pertumbuhan iman di keuskupan tersebut.
“Saya berterima kasih kepada para imam, biarawan-biarawati, serta seluruh umat yang selama ini setia merawat iman di tanah ini. Tanpa kebersamaan dan doa umat, pelayanan ini tidak mungkin saya jalankan,” ujarnya.
Tahbisan tersebut memiliki makna pribadi bagi Mgr. Yohanes Hans Monteiro karena berlangsung di Katedral Larantuka, tempat ia menerima baptis, komuni pertama, sakramen tobat, krisma, ditahbiskan menjadi imam, dan kini menerima kepenuhan imamat sebagai uskup.
“Di katedral inilah saya dibaptis, menerima komuni pertama, krisma, ditahbiskan menjadi imam, dan hari ini menerima kepenuhan imamat sebagai uskup. Ini adalah rahmat yang sungguh besar dalam perjalanan iman saya,” ungkapnya.
Ia pun menegaskan komitmennya untuk melayani umat dengan setia dan rendah hati.
“Sebagai gembala, saya ingin berjalan bersama umat, mendengarkan mereka, dan melayani dengan setia serta rendah hati,” tuturnya.
Mgr. Yohanes Hans Monteiro, yang akrab disapa Mgr. Hans, lahir di Larantuka pada 15 April 1971.














