Sinode GMIT Fokus pada Kebutuhan Penyandang Disabilitas

Melalui program Insa Disabilitas, Sinode GMIT menunjukkan komitmennya untuk menciptakan gereja yang ramah bagi penyandang disabilitas.

Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Melalui program Insa Disabilitas, Sinode GMIT menunjukkan komitmennya untuk menciptakan gereja yang ramah bagi penyandang disabilitas, demi mewujudkan pelayanan yang lebih inklusif di rumah ibadah.

Dalam wawancara bersama Radio TIRILOLOK pada Sabtu, (11/10/2025), di Hotel Kristal Kupang, Ketua Panitia Insa Disabilitas sekaligus Majelis Gereja GMIT Jemaat Paulus Kota Kupang, Ricky, menyampaikan pentingnya aksesibilitas yang setara bagi semua jemaat, termasuk penyandang disabilitas.

“Konsep Gereja Ramah Disabilitas harus dijalankan bukan hanya di tingkat sinode dan klasis, tetapi juga oleh para pendeta dan majelis di jemaat masing-masing,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa GMIT Jemaat Paulus telah membangun fasilitas aksesibel seperti bidang miring untuk mendukung penyandang disabilitas fisik, termasuk pengguna kursi roda dan tongkat. Namun, Ricky mengakui belum semua gereja di bawah lingkup Sinode GMIT, khususnya di Kota dan Kabupaten Kupang, memiliki fasilitas serupa.

“Masih banyak gereja yang belum memenuhi standar aksesibilitas. Harapannya, ke depan seluruh gereja benar-benar ramah disabilitas, bukan hanya secara fisik, tapi juga dalam pelayanan,” jelasnya.

Lebih lanjut, Ricky mengatakan bahwa kebutuhan penyandang disabilitas bukan hanya soal akses bangunan.

“Kita juga perlu menyediakan bahan bacaan dalam huruf braille atau format audio bagi tuna netra, serta juru bahasa isyarat untuk jemaat tuna rungu. Mereka juga ingin memahami firman Tuhan dengan cara yang sesuai dengan kemampuan mereka,” ujarnya.

Menurut Ricky, gereja yang inklusif adalah gereja yang menghadirkan rasa nyaman, setara, dan memberdayakan seluruh anggota jemaat tanpa kecuali.

“Penyandang disabilitas tidak hanya butuh fasilitas fisik, tapi juga pelayanan yang memahami kebutuhan mereka secara utuh.”

Upaya ini diharapkan dapat menghapuskan rasa terpinggirkan, sekaligus memperkuat semangat kebersamaan dalam ibadah dan pelayanan.