Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Universitas Widya Mandira (UNWIRA) Kupang menggelar kegiatan bedah buku Sketsa Dasar, Mengenal Manusia dan Masyarakat (Pintu Masuk Ilmu Antropologi) karya Gregorius Neonbasu pada Jumat, (14/11). Bertempat di Aula St. Paulus Lantai 4 Gedung Rektorat UNWIRA, kegiatan itu menghadirkan penulis buku dan ketiga dosen sekaligus yang menjadi pembedah buku dalam kesempatan itu. Mereka adalah Didimus Dedi Dhosa, Yohana Fransiska Medha dan Bruno Rey Sonbay Pantola.
Mengawali kegiatan itu, Wakil Rektor 3 UNWIRA, Servatius Rodriques sekaligus mewakili Rektor UNWIRA yang tidak sempat hadir dalam kesempatan itu memberikan sambutan kepada para dosen serta mahasiswa/i yang sempat dalam kesempatan itu. Servatius menegaskan pentingnya aktus membaca sebagai suatu langkah dalam mengenal dunia secara lebih luas. Membaca merupakan suatu proses menyerap ilmu pengetahuan yang kemudian dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Lebih lanjut, Ia juga menyebut kegiatan bedah buku yang terjadi pada hari itu sebagai suatu pembaharuan yang dilakukan untuk mendapatkan suatu kajian yang lebih mendalam pada kesempatan terbitan atau edisi selanjutnya. Melalui kegiatan bedah buku ini, kebaruan dalam sebuah buku dapat ditemukan kembali dengan mengevaluasi kekurangan yang ada dan kelebihan yang memacu hasil yang lebih maksimal dalam ilmu antropologi dan perbandingannya dengan ilmu-ilmu lainnya.
Lebih lanjut, Ketua panitia bedah buku, Gerardus Umbu Zogara atau biasa disapa Umbu Geral menguraikan tiga tujuan dari kegiatan bedah buku tersebut. Pertama, memperdalam pemahaman tentang ilmu antropologi baik dari segi materi maupun secara praktis dalam kehidupan kaum akademisi dan masyarakat umum. Kedua, melatih berpikir kritis dengan mengevaluasi kekurangan dan kelebihan yang terkandung dalam isi buku Sketsa Dasar, Mengenal Manusia dan Masyarakat (Pintu Masuk Ilmu Antropologi) secara menyeluruh. Ketiga, sebagai motivasi dalam meningkatkan minat baca bagi mahasiswa dan dosen. Keempat, memperkuat fondasi intelektual dan kajian akademik dalam dunia kampus.
Pada bagian lain, Gregorius Neonbasu atau biasa disapa Pater Gregor mengutarakan latar belakang kegiatan bedah buku yang telah ditulisnya pada tahun 2020 silam itu. Ia menjelaskan bahwa buku itu akan dijadikan sebagai buku pedoman ajar di seluruh Indonesia. Sebab itu, sebelum menambah jumlah eksemplar buku itu, Gregor ingin agar buku itu dikaji ulang terlebih dahulu agar menemukan suatu kebaruan dan relevansi yang dekat dengan kehidupan manusia dan masyarakat yang hidup pada zaman ini dan zaman yang mendatang. Dalam pemaparannya, ia juga menemukan kunci utama dari bukunya yang merujuk atau sedang mencari humanisme melalui sketsa pengalaman.
“Dalam mencari humanisme, kita perlu memiliki dua hal penting ini. Pertama, harus ada sketsa untuk bernalar. Dan kedua, membutuhkan skema dalam menjelaskan sesuatu.” tandas Gregor singkat.
Lebih lanjut, Gregor juga menjelaskan kehidupan masyarakat sebagai suatu sistem yang perlu belajar basis budaya popular. Ia menekankan empat hal yang penting. Keempat basis budaya popular itu mencakup; Memahami kebudayaan, mengerti tradisi, mendalami adat istiadat dan mempelajari warisan leluhur. Keempat hal ini menjadi bekal yang perlu dipelajari secara mendetail dalam kehidupan bermasyarakat.
Untuk menambah kekuatan kebaruan dalam buku sebelum diperbanyak dan dikonsumsi oleh publik secara luas, ketiga pembedah memberikan satu dua input yang perlu ditambahkan dalam buku itu. Pembedah pertama, Didimus Dhosa mengkritisi isi buku yang kurang menampilkan sisi antropos secara menyeluruh. Baginya, kekurangan ini menjadi aspek yang penting dalam memasuki dunia atau ilmu antropologi itu sendiri. Selanjutnya, Pembedah kedua, Yohana Fransiska Medha mengungkapkan isi buku secara menyeluruh yang dunia masyarakat dari berbagai perspektif. Baginya, refleksi kritis penulis amat dibutuhkan dalam mengukur kedalaman isi tulisan itu sendiri. Sementara itu, pembedah ketiga, Bruno Rey Sonbay Pantola menambahkan aspek ilmu antropologi yang dikaji dari ilmu pemerintahan itu sendiri. Ia menilai bahwa hal ini perlu dilakukan untuk memperkuat dan menambah wawasan dari mahasiswa/i serta dosen yang bergelut dalam dunia pemerintahan itu sendiri.
Kegiatan bedah buku ini kemudian ditutup dengan memberikan doorprize kepada para peserta yang bertanya dan melakukan sesi foto bersama.














