Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Dunia jurnalistik di Nusa Tenggara Timur kembali berduka. Wartawan senior harian Kompas, Kornelis Kewa Ama, berpulang pada Rabu (11/3/2026) karena faktor usia.
Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, serta rekan-rekan jurnalis di daerah tersebut.
Berdasarkan identitas pada kartu tanda penduduk, Kornelis Kewa Ama lahir di Demodei, Adonara, 13 September 1964.
Semasa hidupnya, ia tercatat sebagai warga Jalan Taebenu, Kelurahan Liliba, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang.
Dalam perjalanan karier jurnalistiknya, Kornelis dikenal sebagai sosok wartawan yang tenang, berwibawa, dan memiliki dedikasi tinggi terhadap profesi.
Bagi banyak rekan seprofesi, ia bukan sekadar wartawan senior, melainkan juga sahabat yang rendah hati dan mudah bergaul.
Kornelis Kewa Ama dikenal sebagai wartawan yang sangat rendah hati. Meski memiliki pengalaman panjang di dunia pers nasional, ia tetap bersikap sederhana dan tidak pernah menempatkan dirinya lebih tinggi dari rekan-rekan sesama jurnalis.
Di berbagai lokasi peliputan, Kornelis selalu menyapa rekan-rekan jurnalis dengan ramah. Meski memiliki pengalaman panjang di dunia pers, ia tidak pernah menjaga jarak dengan wartawan yang lebih muda. Sebaliknya, ia kerap membuka ruang diskusi untuk saling bertukar pandangan.
“Ade,” demikian sapaan khas yang sering ia ucapkan kepada para jurnalis yang lebih muda.
Dengan sikap tenang dan penuh wibawa, Kornelis sering mengajak rekan-rekannya berdiskusi mengenai berbagai isu yang berkembang di lapangan. Baginya, bertukar pikiran merupakan bagian penting dari kerja jurnalistik agar setiap informasi yang disampaikan kepada publik tetap akurat, berimbang, dan memiliki kedalaman.
Salah satu kenangan yang masih membekas bagi rekannya, Goris Takene, terjadi pada Desember 2020. Saat itu, tanpa pemberitahuan sebelumnya, Kornelis datang mengunjungi rumahnya di wilayah Bello, Kota Kupang.
Ia tiba dengan mengendarai mobilnya sendiri pada hari libur. Dengan sikap sederhana dan bersahaja, Kornelis bertamu dan mengajak berbincang santai.
Percakapan yang awalnya ringan kemudian berkembang menjadi diskusi mengenai literasi pertanian dan ekonomi masyarakat. Pada masa itu, isu literasi ekonomi dan pertanian tengah didorong sebagai bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat, khususnya bagi para petani di Nusa Tenggara Timur.
Diskusi tersebut kemudian menginspirasi Kornelis menulis sebuah artikel di harian Kompas berjudul “Pendidikan Literasi Memberdayakan Hidup Masyarakat NTT.”
Tulisan itu menjadi salah satu bukti kepedulian Kornelis terhadap berbagai persoalan pembangunan di daerah, terutama yang berkaitan dengan peningkatan kapasitas masyarakat melalui pendidikan dan literasi.
Kerendahan hati Kornelis juga dikenang oleh para wartawan yang lebih muda. Wartawan junior Maksi Markco mengatakan, Kornelis selalu menyapa dan memperlakukan wartawan muda seperti keluarga sendiri.
“Bagi kami wartawan junior, beliau seperti bapak. Selalu menyapa dengan ramah dan tidak pernah membeda-bedakan. Kerendahan hati beliau membuat kami merasa dihargai,” ujar Maksi.
Hal senada disampaikan wartawan junior lainnya, Sintus Fahik. Menurutnya, Kornelis merupakan sosok senior yang selalu memberikan teladan dalam bersikap di lapangan.
“Kami selalu menyapa beliau sebagai bapak. Beliau sangat rendah hati dengan teman-teman wartawan junior dan selalu memberi ruang untuk belajar bersama,” kata Sintus.
Kepergian Kornelis Kewa Ama meninggalkan banyak kenangan bagi rekan-rekan jurnalis di NTT.
Ia dikenang bukan hanya sebagai wartawan yang tekun menulis, tetapi juga sebagai pribadi yang hangat dalam pergaulan serta terbuka dalam berbagi pengetahuan.
Bagi para sahabatnya di dunia jurnalistik, kenangan kebersamaan di berbagai lokasi peliputan akan selalu melekat.
Kornelis dikenang sebagai wartawan yang bekerja dengan hati, menjaga integritas profesi, serta menghargai setiap proses dalam pencarian informasi.
Doa dan penghormatan pun mengalir dari para sahabat dan koleganya. Mereka mengenang dedikasi Kornelis Kewa Ama sebagai bagian dari perjalanan panjang dunia pers di Nusa Tenggara Timur.
Selamat jalan, Ama Kornelis. Jejak pengabdianmu dalam dunia jurnalistik akan selalu dikenang.














