Dalam sejarah panjang Gereja Katolik yang telah melahirkan 267 Paus, hanya satu nama yang tetap tak tersentuh oleh siapapun setelahnya: Petrus.
Dari Santo Linus hingga Paus Fransiskus, dan kini Paus Leo XIV, para Paus memilih nama-nama yang mengacu pada para santo, pemimpin besar, atau nilai-nilai teologis, profetis yang mereka ingin hidupi dan wariskan. Namun, tidak seorang pun dari mereka pernah memilih nama “Petrus II”.
Mengapa nama Petrus adalah satu-satunya nama yang tidak boleh dipakai seorang Paus? Ceritanya tidak dimulai di Roma, melainkan di tepi Danau Galilea. Di sanalah seorang nelayan bernama Simon dipanggil oleh Yesus dan diberi nama baru: Petrus.
Kata Petrus dalam bahasa Yunani Petros berarti batu karang, dan kata-kata Kristus sangat jelas: “Engkau adalah Petrus, dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku.”(Mat 16: 18) Ini bukan sekadar julukan.
Ini adalah misi ilahi sekaligus mandat. Petrus menjadi fondasi Gereja yang kelihatan. Ia menjadi uskup pertama Roma, yang pertama memegang kunci Kerajaan Surga. Oleh karena itu tradisi Katolik meyakini bahwa otoritas Petrus bersifat unik, pribadi, dan tak dapat diulang. Ia memimpin, mengajar, dan akhirnya disalibkan secara terbalik di kota Roma.
Ia berkata kepada para penganiayanya bahwa “jangan salibkan saya dengan kepala ke atas, karena saya tidak layak untuk disalibkan seperti sang Guru saya Yesus Kristus, tetapi salibkan saya dengan kepala ke bawah”. Ia mengikat pengorbanannya selamanya dengan Gereja yang ia terima langsung dari Kristus.
Berdasarkan gagasan di atas maka mengambil nama Petrus II berarti menyatakan diri setara atau menggantikan Petrus, suatu tindakan yang secara teologis dianggap melampaui batas. Dalam tradisi Gereja, setiap Paus adalah penerus Petrus, bukan Petrus itu sendiri. Bahkan dalam masa skisma, reformasi, dan revolusi, tidak ada Paus yang berani memilih nama itu.
Walau tidak ada hukum resmi yang melarangnya, tapi tradisi dan rasa hormat terhadap Petrus jauh lebih kuat dari sekadar peraturan tertulis. Tradisi membentuk identitas. Tradisi menjaga memori. Tradisi mencegah kesombongan.
Tradisi mencerminkan kerendahan hati, penghormatan kepada sejarah, dan pengakuan bahwa hanya ada satu batu karang, satu fondasi yang diletakkan langsung oleh Kristus.
Beberapa teolog abad pertengahan bahkan percaya bahwa jika suatu saat ada Paus yang berani memakai nama Petrus II, itu akan menandakan akhir zaman, munculnya Paus terakhir dalam nubuat apokaliptik.
Di bawah altar Basilika Santo Petrus di Vatikan, makam Rasul Petrus menjadi pusat spiritual Gereja Katolik. Setiap Paus yang berlutut di sana sadar bahwa jabatan yang diembannya adalah melanjutkan misi, bukan menggantikan pribadi Petrus.
Akhirnya, nama Petrus hanya milik satu orang. Satu batu karang. Satu martir. Setiap Paus sesudahnya hanyalah penjaga, bukan pesaing.
Mereka memakai cincin nelayan, duduk di tahta Petrus, menjaga deposit iman, tetapi tidak pernah mengambil namanya. Oleh karena itu, nama Petrus tetap tak tersentuh, bukan karena takut, tetapi karena kesadaran mendalam bahwa dalam Gereja Katolik, ada satu iman, satu baptisan, dan satu batu karang. Dan namanya adalah Petrus.














