Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Ratusan lampion berwarna-warni menerangi sepanjang Jalan El Tari, Kota Kupang, saat Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena secara resmi membuka Lampion Food Street Market 2026 bertema “Harmoni Budaya Dalam Keberagaman”, yang digelar oleh Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI), Jumat (6/3).
Pembukaan acara berlangsung meriah dengan penampilan tarian barongsai dari Komunitas Naga Atoin Meto yang disambut antusias masyarakat. Sebelum kegiatan dimulai, doa pembuka dipimpin oleh Romo Okto Naif.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia perwakilan NTT Abraham Paul Liyanto, Ketua DPRD NTT Emilia J. Nomleni, Ketua Forum Pembauran Kebangsaan NTT Theo Widodo, Kepala Dinas Pariwisata NTT Noldy Hosea Pellokila, Ketua Persaudaraan Wanita Tionghoa Indonesia NTT Any Liyanto, Direktur Utama Bank NTT Charlie Paulus, serta Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT Adidoyo Prakoso.
Dalam sambutannya, Gubernur Melki Laka Lena menekankan bahwa kegiatan tersebut menjadi momentum memperkuat persaudaraan di tengah keberagaman masyarakat NTT.
“Keberagaman kita bukanlah penghalang, tetapi kekuatan besar untuk bersama-sama membangun masa depan NTT yang lebih baik,” ujar Melki.
Ia juga menyampaikan ucapan selamat kepada umat beragama yang sedang menjalani momentum spiritual masing-masing, mulai dari umat Muslim yang menjalankan ibadah puasa Ramadan hingga umat Kristiani yang memasuki masa Pra-Paskah.
“Semoga ibadah puasa dan perjalanan rohani ini memperkuat iman, menumbuhkan kasih, serta semangat solidaritas di seluruh NTT,” katanya.
Selain itu, Melki Laka Lena juga menyampaikan ucapan selamat Tahun Baru Imlek kepada masyarakat Tionghoa di NTT.
“Semoga Tahun Baru Imlek membawa kedamaian, keberuntungan, dan semangat baru untuk berkarya bagi NTT dan bangsa kita,” tambahnya.
Menurut Melki Laka Lena, lampion yang menghiasi kawasan acara memiliki makna filosofis mendalam sebagai simbol harapan, cahaya, dan persatuan.
“Ketika lampion-lampion ini menyala, cahaya yang terpancar menyatukan banyak orang dalam satu perayaan. Ini menggambarkan harmoni dan kehidupan berdampingan dalam keberagaman,” jelasnya.
Tak hanya sebagai perayaan budaya, kegiatan ini juga diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Sebanyak sekitar 80 pelaku UMKM terlibat dalam bazar kuliner.
“Lampion yang menyala malam ini melambangkan semangat masyarakat NTT untuk menggerakkan ekonomi kreatif melalui kolaborasi antara pemerintah, pelaku UMKM, komunitas kreatif, dan masyarakat,” tegas Melki.
Sementara itu, Ketua PSMTI NTT Hengky Lianto mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari perayaan Imlek dan Cap Go Meh yang tidak hanya menjadi milik komunitas Tionghoa, tetapi juga menjadi ruang kebersamaan seluruh masyarakat.
“Perayaan budaya di Kupang bukan hanya milik satu komunitas, tetapi menjadi ajang silaturahmi bagi semua masyarakat dalam semangat harmoni dan persaudaraan,” ujarnya.
Ia menambahkan, kegiatan ini melibatkan sekitar 80 pelaku UMKM yang menampilkan beragam kuliner khas serta produk kreatif lokal.
Sementara itu, Ketua Panitia Lampion Food Street Market, dr. Chandra menyebut antusiasme masyarakat sangat tinggi. Seluruh stand UMKM bahkan telah terisi penuh sejak jauh hari sebelum acara berlangsung.
“Semua stand sudah sold out dan masih ada waiting list. Ini menunjukkan semangat luar biasa masyarakat untuk terlibat dalam ekonomi kreatif,” katanya.
Ia memperkirakan, jika rata-rata transaksi mencapai Rp40 ribu per orang dengan sekitar 10 ribu pengunjung per hari, maka potensi perputaran uang bisa mencapai Rp400 juta hingga Rp500 juta per hari.
“Lampion membawa cahaya harapan di tengah ketidakpastian ekonomi. Kebangkitan kota tidak hanya dari pembangunan fisik, tetapi juga dari kreativitas masyarakat dan ruang ekonomi seperti malam ini,” ujarnya.
Lampion Food Street Market 2026 dijadwalkan berlangsung selama tiga hari dan diharapkan menjadi ikon wisata kreatif baru di Kota Kupang sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi rakyat di NTT.














