Workshop Komunikasi SVD Perkuat Strategi Media Sosial untuk Evangelisasi

Strategi manajemen media sosial.

Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Workshop media dan komunikasi bagi para Imam, Biarawan, Biarawati, serta mitra awam Serikat Sabda Allah (SVD) dari Regio Indonesia dan Timor Leste memasuki hari ketiga, Rabu (23/9/2026). Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Santo Paulus, Lantai 4, Universitas Katolik Widya Mandira (UNWIRA) Kupang, mengusung tema “Strengthening Digital Communication for Evangelization” dan berlangsung selama empat hari, 21–24 September 2026.

Pada hari ketiga, peserta mendapat materi tentang strategi manajemen media sosial yang dibawakan Lisa, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta.

Dalam materinya, Lisa menekankan pentingnya mengenali dan menentukan segmen audiens sebelum memproduksi sebuah konten. Menurutnya, karakter audiens sangat memengaruhi gaya bahasa, pemilihan gambar dan warna, format video, hingga cara menyampaikan pesan.

“Kalau kita mau membuat konten, kita harus tahu siapa yang mau kita sasar. Karena karakter audiens akan menentukan bagaimana kita berkomunikasi,” ujar Lisa.

Ia menjelaskan, konten yang ditujukan kepada orang muda dapat menggunakan visual yang lebih dinamis, dilengkapi teks, highlight, serta hook yang mampu menarik perhatian. Sementara konten bagi kelompok usia yang lebih dewasa perlu disesuaikan dengan karakter dan kebutuhan mereka.

Lisa juga mendorong lembaga dan komunitas untuk membangun tim media sosial dengan pembagian tugas yang jelas. Tim tersebut dapat terdiri atas konseptor atau manajer, penulis naskah, desainer grafis, editor video, pengelola akun, serta unsur pendukung internal.

Menurutnya, pembagian fungsi diperlukan agar pengelolaan media sosial tidak hanya bergantung pada satu orang. Dengan kerja tim yang terstruktur, produksi konten dapat berjalan lebih konsisten dan berkelanjutan.

Pengelolaan media sosial, lanjut Lisa, juga dapat dimanfaatkan untuk mendukung promosi panggilan hidup dan karya pastoral, khususnya dalam menjangkau orang muda. Bahasa dan gaya komunikasi yang dekat dengan kehidupan mereka dapat membuat pesan keagamaan lebih mudah diterima dan menjangkau audiens secara lebih efektif.

Dalam sesi tersebut, peserta juga diperkenalkan pada konsep why, who, dan how. Why berkaitan dengan alasan dan tujuan sebuah konten diproduksi, who menyangkut siapa audiens yang hendak dijangkau serta bagaimana posisi lembaga di mata audiens, sedangkan how berkaitan dengan cara menyampaikan pesan kepada kelompok sasaran.

Selain itu, peserta mempelajari analisis SWOT yang mencakup strength dan weakness sebagai faktor internal serta opportunity dan threat sebagai faktor eksternal. Analisis ini dapat digunakan untuk melihat kapasitas tim, ketersediaan bahan konten, komitmen pengelola, peluang kreativitas orang muda, hingga persaingan konten di ruang digital.

Strategi komunikasi digital juga membutuhkan segmentasi, penentuan target, dan positioning. Segmentasi dilakukan dengan mengenali kebutuhan serta karakter pengikut berdasarkan usia, wilayah, status, pekerjaan, kondisi ekonomi, kepribadian, dan kebiasaan.

Sementara positioning diperlukan agar sebuah akun memiliki karakter dan identitas yang membedakannya dari akun lain.

Melalui materi tersebut, peserta diajak melihat media sosial bukan sekadar sebagai sarana publikasi, tetapi sebagai ruang komunikasi yang membutuhkan strategi, perencanaan, kreativitas, dan kerja tim.

Penguatan kapasitas komunikasi digital ini diharapkan dapat mendukung karya evangelisasi SVD sehingga pesan Injil, panggilan hidup, dan karya pastoral dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas, terutama generasi muda di tengah perkembangan ruang digital.