Hadapi Tantangan Sekuralisme, Fakultas Filsafat UNWIRA Gelar Kuliah Umum Internasional

Kuliah umum internasional bertajuk “Living the Christian Faith Within the Secular World in Post Truth Era”

Rektor UNWIRA bersama aktivis Comunione E Liberazione Indonesia

Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || INTERNASIONAL – Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira (UNWIRA) Kupang bekerja sama dengan Comunione E Liberazione Indonesia menggelar kuliah umum internasional bertajuk “Living the Christian Faith Within the Secular World in Post Truth Era” yang menghadirkan dua narasumber, yakni RD Leonardus Mali, Pembina Comunione E Liberatzione Indonesia dan Rev. Fr. Michiels Peeters dari Tilburg University, Belanda.

Berlangsung di Aula St. Hendrikus Kampus Penfui pada Jumat (24/5), acara tersebut dihadiri oleh para mahasiswa UNWIRA dan beberapa kampus di Kota Kupang, antara lain STIPAS Keuskupan Agung Kupang. Adapun sejumlah aktivis Comunione E Liberazione Indonesia turut serta berpartisipasi pada agenda itu.

Rektor UNWIRA, P. Dr. Philipus Tule, SVD dalam sambutannya sebelum membuka kegiatan secara resmi, mengapresiasi Comunione E Liberazione sebagai sebuah gerakan katolik internasional yang berdiri sejak 1954. Sebagai gerakan dengan sejarah yang panjang, P. Dr. Philipus Tule, SVD menarik sebuah kesimpulan yang dimaktubkannya dalam sebuah pertanyaan penting yang ditujukan bagi umat kristiani dewasa ini, termasuk para mahasiswa Fakultas Filsafat itu sendiri serta para akademisinya.

Menurut doktor antropologi itu, saat ini dunia tengah menghadapi sekularisme, baik di Eropa dan Asia, khususnya Indonesia. Disebutkannya bahwa dunia yang multidimensi ini kini sedang terluka. Luka yang dimaksudkan datang dari sekuralisme, materialisme, ateisme, radikalisme agama, bahkan juga karena distraksi dan penetrasi teknologi tinggi seperti Artificial Intelligence.

Maka pertanyaan yang dimunculkan oleh P. Dr. Philipus Tule SVD itu yakni sejauh mana perkembangan teknologi, ideologi, dan filsafat berkontribusi terhadap cara hidup manusia dalam bidang sosial kultural dan agama, terutama dalam kehidupan akademik di UNWIRA.

Ia menyambut baik perhelatan kuliah umum internasional itu sebagai ruang untuk saling berbagi dan menginspirasi, terutama melalui pengalaman hidup Fr. Michiels sebagai seorang religius di Belanda. Diharapkannya bahwa hal itu juga dapat meneguhkan para peserta yang hadir, teristimewa para mahasiswa UNWIRA.

Sebagai informasi, Fakultas Filsafat UNWIRA merupakan sebuah fakultas yang secara khusus mendidik para calon Imam dalam formasi seminari tinggi dan sejumlah biara lainnya.