Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Pada Agustus 2024, Provinsi NTT mengalami deflasi sebesar -0,25% (month-to-month) atau inflasi 1,22% (year-on-year), menurut rilis Berita Resmi Statistik BPS Provinsi NTT. Tingkat inflasi ini berada di bawah rentang sasaran 2,5±1%. Deflasi disebabkan oleh penurunan harga beberapa komoditas hortikultura, seperti bawang merah, tomat, sawi hijau, ikan kembung, dan daging ayam ras. Secara spasial, hanya Waingapu yang mengalami inflasi, sementara deflasi terjadi di empat wilayah pengukuran IHK lainnya, dengan deflasi terdalam terjadi di Kota Kupang.
Deflasi di NTT terutama disebabkan oleh pasokan hortikultura yang terjaga. Produksi bawang merah lokal meningkat berkat panen di Rote, Semau, dan Waingapu. Panen tomat di Waingapu juga memperkuat pasokan di pasaran. Penurunan harga bawang merah dan tomat terkait dengan meningkatnya produksi bawang merah dan masuknya tomat dari Jawa Timur melalui Surabaya.
Di sisi lain, panen sawi hijau di Kabupaten Sikka menyebabkan deflasi pada komoditas ini. Deflasi ikan kembung dipengaruhi oleh hasil tangkapan ikan kembung yang stabil, sementara penurunan harga daging ayam ras di tingkat produsen secara nasional menyebabkan deflasi pada komoditas ini. Meski deflasi hortikultura biasanya terjadi pada triwulan ketiga, pola ini dapat dianggap musiman, sehingga pengendalian inflasi di masa depan dapat lebih optimal.
Deflasi pada bulan Agustus merupakan peluang emas untuk memperkuat pengendalian inflasi. Selama 11 tahun terakhir, deflasi selalu terjadi di bulan ini, seiring dengan puncak panen hortikultura lokal di NTT dan daerah sentra nasional yang didukung oleh cuaca yang baik. Meskipun penurunan harga konsumen menguntungkan, hal ini dapat merugikan petani, seperti yang tercermin dari penurunan Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) dan Nilai Tukar Petani (NTP) hortikultura pada Agustus yang lebih tajam dibandingkan bulan Juli.
Pola musiman hortikultura ini membuka peluang untuk mendorong Kerja Sama Antar Daerah (KAD) antar kabupaten/kota di NTT. Kerja sama ini dapat mengurangi ketergantungan pada pasokan dari luar NTT dan mengurangi ketimpangan harga petani saat panen. Inisiasi KAD dapat dimulai dengan neraca pangan yang akurat di tingkat kabupaten/kota.
TPID Provinsi NTT berkomitmen untuk meningkatkan sinergi dan kolaborasi dalam menjaga stabilitas harga serta ketahanan pangan melalui berbagai strategi dalam kerangka 4K. Selain tiga program utama, yaitu pembentukan pusat pangan, pangan murah keliling, dan bank benih, penguatan peran Bank Indonesia dilakukan melalui Program Implementasi Kebijakan Ekonomi dan Keuangan Daerah (PI-KEKDA). Program ini diterapkan secara terintegrasi, termasuk melalui program unggulan GNPIP, seperti penanaman cabai dan tomat di Kabupaten Belu. Diharapkan, ini akan memperkuat pengendalian inflasi dari hulu ke hilir dengan melibatkan kelompok tani, off-taker (BUMD dan UMKM), dan TPID.














