Oelamasi, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Yayasan Centrum Inisiatif Masyarakat Mandiri (CIRMA) bekerja sama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), dan Climate Justice Resilience Fund (CJRF) menyelenggarakan Sekolah Lapangan Iklim untuk Keadilan Iklim. Kegiatan ini berlangsung di Desa Camplong II, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang, pada Kamis (20/3/2025).
Acara ini dihadiri oleh Wakil Bupati Kabupaten Kupang, Aurum Titu Eki, jajaran pemerintah setempat, serta perwakilan kelompok tani dari wilayah Camplong II dan sekitarnya.
Kegiatan Sekolah Lapangan Iklim dibagi dalam lima sesi. Sesi pertama membahas gambaran umum tentang Yayasan CIRMA, peran BMKG, serta pengenalan cuaca dan iklim. Sesi kedua mengulas konsep perubahan iklim, mitigasi, dan strategi adaptasi. Sesi ketiga fokus pada diskusi mengenai kearifan pangan lokal dan pemanfaatan informasi iklim dalam pertanian. Sesi keempat membahas jenis-jenis pengganggu tanaman (OPT) serta metode pengendaliannya. Sesi terakhir diisi dengan diskusi mengenai materi yang telah disampaikan serta perencanaan aksi tindak lanjut.
Dalam sambutannya, Wakil Bupati Kabupaten Kupang, Aurum Titu Eki, menekankan bahwa kegiatan Sekolah Lapangan Iklim memiliki peran penting dan bermanfaat bagi para petani. Program ini tidak hanya menambah wawasan tentang iklim, tetapi juga meningkatkan pemahaman mengenai pengelolaan pertanian yang baik di tengah kondisi iklim yang tidak menentu.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Kupang mendukung penuh program yang diselenggarakan oleh Yayasan CIRMA bersama BMKG dan CJRF. Ia juga menjelaskan bahwa isu ketahanan pangan merupakan bagian dari program nasional yang harus menjadi perhatian bersama.
Dalam wawancara bersama Radio TIRILOLOK, Direktur Yayasan CIRMA, John Mangu Ladjar, menjelaskan bahwa kegiatan Sekolah Lapangan Iklim merupakan upaya literasi iklim bagi petani kecil. Dalam dua hingga tiga tahun ke depan, Yayasan CIRMA akan mendampingi para petani di enam kabupaten di wilayah Timor.
Ia menambahkan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman petani kecil mengenai perubahan dan tantangan iklim yang sedang dihadapi saat ini. Hal ini penting karena petani kecil merupakan kelompok yang paling terdampak oleh perubahan iklim, meskipun kontribusi mereka terhadap kerusakan iklim sangat minim.
Direktur Yayasan CIRMA itu berharap melalui kegiatan ini, para petani dapat memperoleh wawasan yang lebih baik tentang iklim serta menjadi lebih tangguh dalam menghadapi perubahan iklim. Dengan demikian, mereka dapat merencanakan dan mengelola pertanian secara lebih efektif.
Sementara itu, Kepala Stasiun Klimatologi Provinsi NTT, Rahmattulloh Adji, menegaskan bahwa pihaknya akan terus menjalin kerja sama dengan Yayasan CIRMA dalam menyelenggarakan kegiatan sosial, seperti Sekolah Lapangan Iklim. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai iklim, sehingga mereka dapat membaca dan memahami informasi yang disampaikan oleh BMKG dengan lebih baik. Dengan demikian, informasi tersebut tidak hanya sekedar diterima, tetapi juga dapat dimanfaatkan secara efektif.
Lebih lanjut, Rahmattulloh Adji berharap agar para peserta Sekolah Lapangan Iklim dapat membagikan pengetahuan yang mereka peroleh kepada masyarakat lainnya. Dengan penyebaran informasi yang lebih luas, pemahaman masyarakat terhadap informasi iklim dari BMKG dapat meningkat, sehingga mereka lebih siap dalam menghadapi berbagai kondisi cuaca dan perubahan iklim.
Adapun Sekolah Lapangan Iklim ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman petani tentang iklim dan ketahanan pangan.














