Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menggelar konferensi pers terkait perkembangan inflasi Maret 2026, Rabu (1/4/2026), di Aula BPS NTT.
Dalam keterangan pers, Kepala BPS NTT, Matamira B. Kale, menjelaskan bahwa rilis kali ini mencakup perkembangan indeks harga konsumen (IHK), nilai tukar petani, ekspor-impor, pariwisata, serta indikator transportasi.
Ia menyebutkan, inflasi merupakan indikator yang menggambarkan perubahan harga barang dan jasa di tingkat konsumen dari waktu ke waktu.
“Pada Maret 2026, NTT mengalami inflasi bulanan sebesar 0,25 persen, melanjutkan tren inflasi Februari yang tercatat 0,45 persen,” ujarnya.
Secara kumulatif, inflasi Januari–Maret 2026 mencapai 1,35 persen, sementara inflasi tahunan (year-on-year/yoy) sebesar 2,4 persen.
Inflasi Maret 2026 dipicu kenaikan harga pada enam dari 11 kelompok pengeluaran. Penyumbang utama inflasi berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan inflasi 0,33 persen serta andil 0,13 persen. Disusul kelompok transportasi yang mengalami inflasi 0,41 persen dengan andil 0,05 persen.
Sementara itu, penahan inflasi berasal dari kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang mengalami deflasi 0,09 persen dengan andil minus 0,01 persen.
Berdasarkan wilayah, inflasi terjadi di seluruh daerah cakupan IHK. Inflasi tertinggi tercatat di Timor Tengah Selatan sebesar 0,38 persen, sedangkan terendah terjadi di Maumere sebesar 0,02 persen.
Secara tahunan, seluruh kota juga mengalami inflasi. Inflasi yoy tertinggi tercatat sebesar 2,88 persen, disusul Kota Kupang sebesar 2,87 persen.
Komoditas utama penyumbang inflasi pada Maret 2026 antara lain tarif angkutan udara, ikan tembang, bahan bakar rumah tangga, cabai rawit, dan cabai merah.
Kenaikan tarif angkutan udara dipicu tingginya permintaan selama periode libur panjang Hari Raya Nyepi dan Idulfitri.
Setelah itu, kenaikan harga cabai dan ikan disebabkan penurunan produksi akibat faktor cuaca dan musim hujan.
Adapun kenaikan harga bahan bakar rumah tangga dipengaruhi kelangkaan LPG di sejumlah wilayah.
Di sisi lain, komoditas yang menahan inflasi antara lain bawang putih, kangkung, angkutan laut, sayur sawi hijau, serta beberapa jenis ikan.
Secara tahunan, inflasi didorong oleh kenaikan harga pada delapan kelompok pengeluaran. Kelompok dengan andil terbesar adalah perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 1,24 persen, diikuti makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,79 persen.
Sementara itu, deflasi tahunan terjadi pada kelompok pendidikan sebesar minus 0,09 persen serta kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar minus 0,04 persen.














