Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Talithakum Jaringan Kupang menyelenggarakan acara talkshow dengan tema “Perdagangan Manusia adalah Kejahatan Terorganisir – Akhiri Eksploitasi.”
Acara talkshow menghadirkan narasumber Sr. Renty, CM – Talithakum Kupang, Suratmi Hamida – Kepala BP3MI NTT, Veronika Ata – Ketua LPA NTT, dan Romo Marsel, Pr – Keuskupan Agung Kupang.
Penanggap dalam acara talkshow pencegahan perdagangan orang adalah Sr. Laurentina SDP – JPIC dan Pdt. Emy Sahertian – Komisi HAM Perempuan dan dimoderatori oleh Grace Gracelia – WALHI NTT, yang dilaksanakan pada Kamis, (31/7/2025) di Aula Gereja Assumpta Kupang.
Dalam sesi dialog interaktif, Sr. Renty menjelaskan, Talithakum berasal dari kisah Injil Markus 5:41, ketika Yesus membangkitkan anak perempuan yang telah meninggal dengan seruan “Talitha kum”, yang berarti “Hai anak, bangkitlah.”
Makna simbolik digunakan sebagai nama jaringan internasional lintas kongregasi yang berkomitmen untuk mengakhiri perdagangan manusia di seluruh dunia sejak tahun 1998.
Inisiatif mendorong sinergi global melalui kerja sama dengan berbagai organisasi, terutama dalam isu eksploitasi perempuan dan anak, serta kampanye migrasi yang aman dan adil.
Selanjutnya, Tori Ata mengatakan, realitas migrasi di Nusa Tenggara Timur seringkali bermula dari kemiskinan struktural dan tekanan budaya. Banyak individu, terutama perempuan dan anak, menjadi rentan terhadap eksploitasi dan perdagangan orang.
Setelah itu, berbagai program sosialisasi, pelatihan keterampilan, serta pemberdayaan komunitas terus diupayakan oleh lembaga perlindungan perempuan dan anak untuk mengurangi risiko yang ada.
Lebih lanjut, Suratmi Hamida menyatakan, berdasarkan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2017 tentang Perlindungan Pekerja Migran Indonesia, penyebutan TKI telah digantikan menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI).
BP3MI bertugas menjangkau wilayah-wilayah rawan di NTT yang terdiri dari 22 kabupaten/kota dengan lebih dari seribu pulau dan ribuan desa.
Faktor utama yang mendorong migrasi non-prosedural adalah kemiskinan, keterbatasan lapangan kerja, perubahan iklim, serta dinamika politik lokal yang diskriminatif.
Kondisi yang sering kali membuat masyarakat kehilangan akses terhadap bantuan pemerintah dan akhirnya memilih migrasi sebagai jalan keluar, meski harus menempuh jalur ilegal.
Sementara itu, Romo Marsel menyampaikan bahwa perdagangan orang bukan hanya tindakan melanggar hukum, tetapi juga pelanggaran moral yang serius terhadap martabat manusia.
Dalam ajaran Gereja, Almarhum Paus Fransiskus melalui dokumen Evangelium Vitae dan Fratelli Tutti mengajak umat untuk terlibat aktif melawan segala bentuk eksploitasi manusia, seperti perdagangan manusia, perbudakan modern, dan ketidakadilan sosial, demi menjaga martabat dan kehidupan setiap pribadi.
Dokumen memposisikan martabat manusia sebagai pusat dari seluruh tindakan pastoral, hukum, dan sosial.
Selain itu, ajaran Gereja mendorong kerja sama lintas negara, agama, dan organisasi sipil dalam membangun budaya perlindungan dan solidaritas.
Acara talkshow dihadiri oleh peserta dari berbagai organisasi dan komunitas, termasuk WALHI NTT, JPIC Baumata, WKRI, OMK, komunitas religius seperti suster, frater, pater, serta masyarakat umum yang peduli terhadap isu perdagangan orang.














