Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Radio TIRILOLOK kembali menggelar Acara talkshow Bicara Buku Buku Bicara (B4) dengan mengulas novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori.
Kegiatan yang berlangsung di Studio Radio TIRILOLOK pada Minggu (7/6/2026) itu menghadirkan narasumber Ni Wayan Rupadi Widia Astuti, yang akrab disapa Cantik, alumni SMP Negeri 2 Kota Kupang.
Dalam dialog interaktif tersebut, Cantik menjelaskan bahwa novel Laut Bercerita menggambarkan perjuangan para aktivis mahasiswa pada masa menjelang Reformasi 1998. Cerita berfokus pada sekelompok mahasiswa yang menentang praktik pemerintahan yang dinilai otoriter pada era Presiden Soeharto.
Menurut Cantik, meskipun sampul buku terkesan mengangkat tema laut, isi cerita justru banyak mengulas sejarah, perjuangan, dan dinamika gerakan mahasiswa di Indonesia.
“Awalnya saya juga mengira buku ini bercerita tentang laut. Namun setelah membacanya, ternyata isinya mengangkat kisah perjuangan para aktivis mahasiswa menjelang Reformasi,” ujar Cantik.
Ia menjelaskan, tokoh utama dalam novel tersebut adalah Biru Laut, seorang mahasiswa Universitas Gadjah Mada yang merantau dari Jakarta ke Yogyakarta untuk menempuh pendidikan. Dalam cerita, Biru Laut digambarkan sebagai sosok yang tenang, cerdas, dan cenderung pemalu.
Perjalanan hidup Biru Laut berubah ketika ia bertemu dengan Kasih Kinanti, seorang mahasiswa yang kemudian mengajaknya bergabung dalam kelompok diskusi yang membahas berbagai literatur kritis dan isu-isu sosial politik.
Dari kelompok tersebut, Biru Laut mulai terlibat dalam berbagai aktivitas pergerakan mahasiswa.
Cantik menilai karakter Biru Laut memiliki keterkaitan dengan namanya.
Menurut Cantik, sosok Biru Laut digambarkan memiliki ketenangan layaknya lautan yang identik dengan suasana damai dan reflektif.
“Karakter Biru Laut yang tenang dan pendiam sangat selaras dengan makna laut yang sering diasosiasikan sebagai simbol ketenangan,” jelasnya.
Novel Laut Bercerita sendiri terdiri dari 379 halaman dan menjadi salah satu karya sastra Indonesia yang banyak diperbincangkan karena mengangkat kisah kemanusiaan, kehilangan, serta perjuangan para aktivis pada masa transisi menuju Reformasi.














