Diskusi WKRI Bongkar Fakta Kelam Kekerasan Seksual dan Tren Prostitusi Online Remaja

Anak umur 13 tahun dijual via aplikasi polisi minta orang tua waspada.

Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – WKRI DPC Samara Tofa menggelar Diskusi Publik bertema “Peduli Kasih, Putus Rantai, Melawan Stigma, Meraih Sehat Guna Menjawab Isu Sosial Dewasa Ini” dengan menghadirkan tiga narasumber: Direktur LBH APIK NTT Ansy Damaris Rihi Dara, Kanit PPA Polda NTT AKBP Fridinari D. Kameo, SH, dan Sekretaris KPA Kota Kupang Julius T. Bore.

Kegiatan ini diselenggarakan pada Sabtu, (6/12/2025) di Aula Susteran Canossa sebagai bentuk komitmen WKRI dalam mengedukasi masyarakat mengenai bahaya serta pencegahan HIV/AIDS, kekerasan terhadap perempuan dan anak, hingga maraknya prostitusi online.

Dalam pemaparannya, Ansy Damaris Rihi Dara menyatakan bahwa kekerasan seksual bukan hanya bentuk kekerasan fisik atau pemerkosaan semata, tetapi mencakup berbagai tindakan yang menghilangkan rasa aman korban. “Banyak orang masih mengira kekerasan seksual itu hanya yang terlihat. Padahal ada bentuk-bentuk kekerasan yang tidak tampak, tetapi sangat melukai,” ujarnya.

Ia menyatakan pentingnya keberanian korban untuk bersuara dan pentingnya literasi hukum bagi perempuan. “Kita harus berani bicara dan belajar. Jangan sampai kita rajin beribadah, tetapi membiarkan kekerasan terjadi di rumah sendiri,” tambahnya.

Direktur LBH APIK NTT juga mengingatkan agar masyarakat berhenti menyalahkan korban. “Sering kali yang kita lakukan adalah menyalahkan anak atau perempuan yang menjadi korban. Padahal yang benar adalah melindungi, membawa mereka ke layanan kesehatan dan hukum, bukan menambah beban mental mereka,” terangnya.

Sementara itu, AKBP Fridinari Kameo mengatakan bahwa masyarakat tidak perlu takut menjadi saksi kasus kekerasan seksual. “Banyak yang memilih diam padahal mengetahui kejadian. Ketika dipanggil ke kantor polisi, mereka bilang tidak tahu. Padahal kesaksian Anda bisa menyelamatkan korban,” tegasnya.

Ia juga menjelaskan berbagai bentuk kekerasan seksual fisik maupun nonfisik, termasuk tindakan-tindakan yang dianggap remeh tetapi sesungguhnya melecehkan. “Kalau seseorang merasa terganggu oleh perlakuan seperti menatap bagian tubuh secara tidak pantas atau menyentuh tanpa izin, itu sudah termasuk kekerasan seksual,” ujarnya.

Ia juga mengungkapkan kasus-kasus eksploitasi seksual anak yang kini banyak terjadi melalui aplikasi digital. “Ada anak-anak yang dijual melalui aplikasi. Kami menemukan kasus anak 13 tahun yang bisa melayani sampai tujuh orang dalam sehari. Ini sangat memprihatinkan, dan banyak dari mereka sudah terinfeksi penyakit menular,” jelas AKBP Fridinari.

Ia meminta para orang tua lebih memperhatikan aktivitas anak, terutama penggunaan ponsel  dengan tertentu waktu.

Jems menjelaskan situasi HIV/AIDS di Kota Kupang yang terus meningkat. “Dari tahun 2000 sampai 2025, terdapat 2.543 orang terinfeksi HIV. Untuk tahun 2025, dari Januari sampai September, ada 173 kasus baru,” jelasnya.

Ia menyebutkan bahwa ibu rumah tangga menempati posisi tertinggi kedua yang terinfeksi HIV. “Banyak ibu rumah tangga tertular bukan karena perilaku mereka, tetapi karena perilaku suami,” ujarnya.

Ia juga memaparkan bahwa banyak kasus baru terjadi pada laki-laki muda, termasuk hubungan sesama jenis yang meningkatkan risiko penularan. “Dari 129 laki-laki yang positif tahun ini, 69 terinfeksi melalui hubungan sesama jenis,” tambahnya.

Jems mengingatkan masyarakat untuk tidak mengabaikan gejala awal HIV seperti penurunan berat badan drastis, infeksi berulang, dan munculnya jamur di mulut. “Orang yang tampak sehat belum tentu tidak terinfeksi. Itulah mengapa tes dini itu penting,” tegasnya.

Diskusi ditutup dengan ajakan bersama untuk meningkatkan kepedulian terhadap isu kekerasan dan HIV/AIDS, memperkuat peran keluarga, serta lebih peka terhadap perubahan perilaku anak remaja yang berpotensi terkait prostitusi online dan kekerasan seksual.

WKRI mengungkapkan komitmennya untuk terus mengadakan edukasi dan pendampingan guna melindungi generasi muda dari ancaman sosial yang terus berkembang.