Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Proses pemilihan Direktur Perumda Air Minum Kota Kupang saat ini telah memasuki tahap presentasi makalah. Tahapan ini merupakan bagian dari rangkaian seleksi yang dilaksanakan oleh Panitia Seleksi (Pansel) yang dibentuk awal September 2025. Setelah proses seleksi selesai, keputusan akhir akan ditetapkan oleh Wali Kota Kupang.
Pada Rabu (24/9/2025), di Kantor Wali Kota Kupang, salah satu calon direktur, Isidorus Lilijawa, menyampaikan kesiapannya mengikuti seluruh tahapan seleksi hingga selesai. Dalam wawancara usai presentasi di hadapan panelis, ia menjelaskan bahwa para calon menyampaikan paparan terkait rencana bisnis masing-masing.
“Hari ini kami mempresentasikan makalah yang sudah kami serahkan minggu lalu. Dalam presentasi, kami menjelaskan rencana kerja jika dipercaya menjadi Direktur Perumda. Kami bertiga siap mengikuti proses ini sampai selesai,” ungkapnya.
Isidorus Lilijawa juga menanggapi dua target utama yang dibebankan kepada calon direktur, yakni peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan peningkatan pelayanan air minum kepada masyarakat.
“Kunci peningkatan PAD dari sektor air minum adalah pelayanan yang maksimal. Jika jaringan air lancar dan masyarakat mendapat pasokan air dengan baik, mereka pasti akan bersedia membayar retribusi,” jelasnya.
Sebaliknya, jika pelayanan buruk, kata dia, masyarakat akan enggan membayar. Oleh karena itu, ia menawarkan strategi berbasis tiga pilar, yaitu:
1. Kinerja Perusahaan
2. Sinergi Pelayanan
3. Transformasi Digital yang Holistik
“Jika ketiga pilar ini berjalan baik, maka Perumda akan menjadi perusahaan yang sehat, modern, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Soal Tantangan Sumber Air Terbatas
Isidorus Lilijawa juga menyatakan persoalan klasik di Kota Kupang: keterbatasan sumber air baku. Menurutnya, beberapa sumur bor tidak lagi berfungsi, dan potensi besar seperti SPAM Kali Dendeng belum dimanfaatkan optimal.
“SPAM Kali Dendeng memiliki kapasitas 150 liter per detik. Pemerintah sudah menyepakati pembangunan 12 ribu sambungan rumah sejak 2020, tapi yang terealisasi baru sekitar 3 ribu. Ini harus didorong lagi agar manfaatnya dirasakan masyarakat,” jelasnya.
Terobosan Kolaboratif Melalui B2B dan PPP
Isidorus Lilijawa juga menawarkan pendekatan kolaboratif untuk memperluas akses air, termasuk melalui konsep Business to Business (B2B) dan Public-Private Partnership (PPP). Ia menyebut potensi kerja sama dengan warga yang memiliki sumur bor, pengembang perumahan, hingga peluang pendanaan dari pemerintah pusat.
“Kita tidak bisa bekerja sendiri. Harus membuka jejaring dan mencari dukungan, termasuk dari Komisi V DPR RI,” pungkasnya.














