Mengasah Pemikiran Kritis Generasi Z di Era Digital

Kabar Gembira dari Seminari Menengah St. Rafael.

Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Radio TIRILOLOK menyelenggarakan acara Generasi-Z Bicara pada Rabu, (23/10/2024), dengan topik “Kabar Gembira dari Seminari Menengah St. Rafael”. Acara Gen-Z Bicara menghadirkan dua siswa berprestasi, Marcelino R. Silab yang diakarab Valdy dan Yeremias Koli biasa dipanggil Yermi, bertempat studio Radio TIRILOLOK.

Dalam dialog interaktif, Valdy menjelaskan pentingnya aspek akademik di seminari. Belajar di seminari memerlukan dedikasi tinggi karena calon imam harus memahami berbagai latar belakang umat. Oleh karena itu, waktu belajar yang tersedia sangat banyak dan harus dimanfaatkan dengan baik.

Valdy juga menyoroti pentingnya kesehatan. Sebelum masuk seminari, calon siswa menjalani tes kesehatan untuk memastikan mereka dalam kondisi baik secara fisik dan mental. Pola makan dan olahraga diatur untuk mendukung kesehatan dan membentuk karakter. Proses pembinaan di seminari membantu seminaris menemukan jati diri mereka.

Valdy berharap siswa seminari terinspirasi dari perayaan Pesta Panca Windu yang keempat puluh dengan tema “Merajut Kebersamaan, Mendorong Kolaborasi, Menuju Semester Unggul”. Tema dipilih berarti untuk semua siswa seminari untuk merenungkan makna kolaborasi dan persatuan demi mencapai tujuan yang lebih baik.

Yermi menambahkan pentingnya sikap bijaksana dan solidaritas di seminari. Dengan beragam latar belakang, seminari mendorong interaksi antar siswa dari berbagai daerah, bukan hanya dalam lingkungan paroki.

Yermi juga menyampaikan pesan kepada generasi Z untuk tidak terlalu bergantung pada teknologi. Yermi mengingatkan bahwa meski teknologi penting, pembelajaran manual seperti membaca dan menulis juga sangat berharga dalam membentuk pola pikir kritis.

Harapan Yermi adalah SMA Seminari Menengah St. Rafael Oepoi Kupang dapat membentuk calon imam yang berkualitas, baik dalam iman maupun tindakan, serta menjadi komunitas yang bermanfaat bagi umat Katolik yang ingin mengabdikan anak-anak mereka kepada Tuhan.

Cara hidup para imam Katolik dengan mengutamakan selibat, ketaatan, dan kesederhanaan sebagai wujud pelayanan dan pewartaan Injil. Gaya hidup yang disiplin yang dibina sejak masa seminari, sehingga mereka dapat menjauhkan diri dari sikap “lepas bebas” yang bertentangan dengan panggilan mereka.