Missio Dei: Garam yang Tak Pernah Hambar, Terang yang Tak Pernah Padam

Refleksi atas Matius 5:13–16 dalam Semangat 150 Tahun Misi SVD.

Yesus berkata, “Kamu adalah garam dunia… Kamu adalah terang dunia” (Mat 5:13–16). Ini bukan sekadar ajakan, tetapi pernyataan identitas. Para murid Kristus, dipanggil bukan hanya untuk hadir di dunia, melainkan memberi rasa, harapan dan arah yang jelas. Menjadi garam berarti menjaga dunia agar tak membusuk oleh kejahatan dan kekuasaan gelap. Menjadi terang berarti membantu sesama melihat harapan di tengah kegelapan.

Dalam terang dan semangat Sabda Yesus dalam Injil Matius 5: 13-16, kita diajak untuk berefleksi atas 150 tahun karya misi Societas Verbi Divini (SVD). Bermisi selama 150 tahun adalah sebuah kisah panjang penuh dedikasi, kesetiaan, dan pengorbanan. Para misionaris SVD telah menjadi garam dan terang, hadir di berbagai pelosok dunia, termasuk di Nusa Tenggara Timur (NTT), membawa kabar sukacita dan wajah Allah yang penuh belas kasih.

Garam tak banyak bicara, tapi kehadirannya terasa. Begitulah karya para misionaris: mereka tidak hanya berkhotbah, tetapi hidup bersama umat, merasakan denyut jantung kehidupan mereka, mengangkat yang kecil, dan menyuarakan yang terpinggirkan.

Salah satu perwujudan konkret dari semangat misi SVD adalah Radio Tirilolok Swara Verbum yang setia menjalankan misi dengan moto profetiknya: “We are the voice of the voiceless.” Inilah garam yang bekerja dalam senyap, tapi menghadirkan rasa iman yang menyegarkan dan menghidupkan.
Dunia saat ini sedang mengalami kehilangan rasa garam dan terang baik itu oleh kebencian, prasangka, egoisme, dan ketidakpedulian.

Maka semangat untuk melanjutkan missio Dei tidaklah mudah. Para murid Kristus harus diberi semangat untuk menjadi garam yang memberi rasa kasih, pengampunan, dan menjadi terang yang memberi harapan baru. Jangan biarkan hidup kita menjadi garam yang hambar dan terang yang redup.

Ketika Yesus menyebut para murid-Nya terang dunia, Ia mengingatkan bahwa terang harus ditaruh di atas kaki dian, bukan disembunyikan. Artinya, hidup kita harus berdampak, menjadi penunjuk jalan bagi orang lain. Selama 150 tahun, terang misi SVD telah menyala dalam banyak bentuk: pendidikan, pelayanan kesehatan, katekese, media, pemberdayaan ekonomi, dan pewartaan Sabda Allah.

Terang ini tetap menyala, meski diterpa pergeseran nilai, badai post-truth yang membingungkan, pandemi yang mengguncang, maupun derasnya arus perubahan zaman. Ia tetap menjadi penuntun dalam gelap, pelita harapan di tengah ketidakpastian, dan suara kebenaran di tengah hiruk-pikuk kebisingan dunia.

Sebagai generasi penerus, para murid Kristus diundang untuk meneruskan terang ini dalam konteks dunia yang baru yang tengah dikuasai oleh dunia digital. Di tengah derasnya arus informasi, kabut hoaks, dan kekeringan spiritual, identitas palsu para murid Kristus ditantang untuk menghadirkan identitas yang otentik dan gaya pewartaan yang profetik dalam menjalankan “Missio Dei”.

Di sinilah kreativitas dan keberanian diperlukan agar kita tetap menjadi garam dan terang.

Radio TIRILOLOK Swara Verbum menjadi contoh konkret pewartaan yang adaptif, inovatif, dan kontekstual di era digital. Dalam dunia digital radio Tirilolok selalu menampikan diri sabagai “One Voice, Many Faces,” yang hadir di berbagai platform digital seperti live streaming, TikTok, Facebook, YouTube, dan Instagram.

Bukan sekadar mengikuti tren, tetapi sebagai strategi untuk menjangkau aneka telinga, yang dikenal sebagai “One Voice, Many Ears” yakni para pendengar dari berbagai usia, latar budaya, dan bahasa yang tersebar di wilayah Nusa Tenggara Timur. Kawasan ini dikenal sebagai mozaik keberagaman, kaya akan tradisi lokal dan pluralitas agama.

Di tengah keragaman itu, Radio TIRILOLOK Swara Verbum tetap setia menyuarakan Sabda (Verbum), menjadi ruang dialog yang inklusif, dan menghadirkan harapan lewat suara profetik yang menyejukkan, membangkitkan, dan menyapa setiap hati.

Daerah Nusa Tenggara Timur adalah mozaik kehidupan yang unik, dengan ratusan suku dan bahasa seperti Dawan, Tetun, Manggarai, Sabu, dan Sumba. Tradisi dan nilai-nilai lokal masih kuat dihidupi dalam keseharian. Dalam konteks ini, pewartaan tak bisa asal salin. Ia harus membumi. Dan Radio TIRILOLOK berhasil menjadi ruang dialog yang menyapa masyarakat dengan bahasa hati, dengan pewartaan yang inklusif dan membangkitkan harapan.

Sebagai bagian dari keluarga misioner, para murid Kristus diajak memakai teknologi bukan untuk pamer, tapi untuk bersaksi. Bukan untuk menambah kebisingan, tapi untuk menyuarakan kebenaran. Jadilah influencer Injil—bukan demi likes dan followers, tetapi demi kemuliaan Tuhan yang hidup dan bekerja melalui kita.

150 tahun Serikat Sabda Ilahi (SVD) adalah jejak iman yang penuh dedikasi—bukan sekadar perayaan angka, tetapi pernyataan misi yang terus hidup. Tema yubileum, “Bersaksi tentang Terang dari Segala Penjuru bagi Setiap Orang,” mengajak kita semua untuk melanjutkan warisan ini: menghadirkan cahaya Kristus di tengah dunia yang gelap, dan memberi rasa kasih di tengah kehidupan yang sering tawar. Misi ini belum selesai.

Masih banyak hati yang menanti disentuh, dan banyak ruang yang menanti dijangkau. Kini, giliran kita untuk melangkah. Jadilah terang yang membimbing, jadilah garam yang menghidupkan. Teruslah bersaksi, dari mana pun kita berada, untuk siapa pun yang kita jumpai karena Missio Dei harus menjadi garam yang tak pernah hambar dan terang yang tak pernah padam.