Misteri Jejak Sandal di Coban Rais

Hujan turun sejak pagi. Tipis, ragu-ragu, namun cukup membuat jalan setapak menuju Coban Rais menjadi licin dan beraroma tanah basah yang menusuk hidung. Kabut tipis menggulung kaki bukit, menyelubungi pepohonan tinggi seperti jubah putih yang turun dari langit.

Di tengah suasana itu, empat sosok perempuan berkerudung biru rapi dan berjaket warna gelap perlahan menyusuri jalan setapak.

Mereka adalah Suster Marta Neka ALMA, dan tiga suster yunior dari tarekat  ALMA  Puteri yang baru saja menyelesaikan tugas pelayanan di Malang. Perjalanan ke Coban Rais ini bukan sekadar rekreasi. Ini adalah healing, sebuah jeda dari rutinitas rohani dan kerasulan, sekaligus bentuk syukur atas kehidupan.

“Langitnya seperti ikut berdoa,” ujar Suster  Angel, salah satu suster yunior, sambil menengadah ke langit yang kelabu.
“Dan kabutnya seperti pelukan Bunda Maria,” timpal Suster Ilen, tersenyum lembut.

Suster Marta hanya tersenyum. Ia memimpin langkah, pelan tapi pasti, melewati bebatuan dan akar pohon yang mencuat dari tanah basah. Meski sudah tidak muda, semangatnya tak kalah dari para yunior yang masih belajar menjelajah dunia dengan mata rohani. Saat mereka tiba di titik pandang ke arah air terjun, kabut makin tebal. Deru air Coban Rais hanya terdengar, tak terlihat. Suasana hening. Hanya suara alam dan degup hati masing-masing yang berbicara.

Namun, tiba-tiba Suster Sindi, yang paling muda, berhenti dan menunjuk tanah basah di depannya. “Suster… itu apa?”
Mereka semua menoleh. Di tanah berlumpur, terlihat jejak sandal kecil, seperti bekas langkah anak-anak. Namun, anehnya, jejak itu hanya satu arah masuk ke arah hutan, tanpa jejak keluar.

“Jangan-jangan ada yang tersesat?” Suster Ilen berbisik, agak cemas.

Suster Marta mendekat, menatap jejak itu lama. Kemudian menunduk dan berdoa sejenak. Ia lalu berkata tenang, “Kita ikuti. Tapi tetap bersama-sama.”

Mereka mengikuti jejak itu beberapa meter ke dalam hutan, namun semakin jauh, jejak itu menghilang begitu saja. Tidak ada tanda-tanda keberadaan manusia. Hanya pohon, kabut, dan gemerisik hujan.
“Seperti… membawa kita ke tempat ini dengan sengaja,” gumam Suster Angel.

Tempat itu ternyata adalah sebuah celah di antara dua batu besar, tempat di mana kabut menipis dan pemandangan lembah tampak menghampar di kejauhan. Indah, tenang, dan membuat mereka semua terdiam.

Tak ada satu pun dari mereka yang bicara selama beberapa menit. Hanya ada rasa syukur yang tumbuh diam-diam di hati masing-masing.

Suster Marta akhirnya duduk di batu dan berkata pelan, namun tegas: “Alam tidak pernah membosankan. Ia bisa menjadi guru, teman, bahkan penunjuk jalan… bahkan dalam bentuk sepasang jejak sandal.”

Semua tersenyum, dan Suster Sindi menambahkan, “Mungkin itu malaikat kecil yang mengajak kita melihat keindahan ini.”
Mereka tertawa ringan, hati menjadi lebih hangat dari sebelumnya. Saat kabut mulai menipis dan hujan reda, mereka pun memutuskan kembali. Jejak sandal itu tidak ditemukan lagi di perjalanan pulang.

Namun, jejaknya tertinggal di dalam hati mereka sebagai pengingat bahwa kadang Tuhan menyapa bukan lewat kata-kata, tapi lewat kabut, hujan, dan sepasang jejak misterius di tanah.

Penulis: Sr. Angela Florida Mau, ALMA