Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretaris Daerah Kota Kupang, Ignasius R. Lega, S.H., menghadiri dan menyampaikan sambutan pada Forum Jejaring Pendanaan Iklim yang berlangsung di Hotel Aston Kupang, Selasa (23/6). Kegiatan tersebut menjadi wadah strategis yang mempertemukan pemerintah daerah, mitra pembangunan, lembaga pendanaan, akademisi, organisasi masyarakat sipil, dan berbagai pemangku kepentingan dalam membangun kolaborasi untuk mendukung aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.
Pada kesempatan tersebut, Ignasius R. Lega membacakan sambutan Wali Kota Kupang sekaligus menegaskan komitmen Pemerintah Kota Kupang dalam memperkuat ketahanan iklim melalui pembangunan yang berkelanjutan. Turut hadir dalam kegiatan tersebut Country Manager Catholic Relief Services (CRS) Indonesia dan Timor Leste, Yane A. Tamonob, para narasumber dan mitra pendanaan, pimpinan perangkat daerah lingkup Provinsi NTT dan Kota Kupang, perwakilan pemerintah kabupaten se-NTT, akademisi, pimpinan NGO/LSM, serta insan pers dan media massa.
Dalam sambutan yang dibacakannya, Ignasius menyampaikan apresiasi kepada Catholic Relief Services (CRS), Kelompok Kerja Perubahan Iklim Kota Kupang, Kelompok Kerja Perubahan Iklim Provinsi Nusa Tenggara Timur, serta seluruh mitra yang telah menggagas dan memfasilitasi terselenggaranya forum tersebut.
Menurutnya, forum ini menjadi momentum penting untuk memperkuat jejaring kemitraan dan membuka peluang kolaborasi yang lebih luas dalam mendukung berbagai program ketahanan iklim di daerah.
Ia menjelaskan bahwa bagi Kota Kupang, perubahan iklim bukan lagi isu yang akan dihadapi di masa depan, melainkan kenyataan yang sedang dirasakan saat ini. Dengan karakteristik wilayah semi-arid, Kota Kupang menghadapi tantangan berupa musim kemarau yang panjang, keterbatasan ketersediaan air, suhu yang cenderung tinggi, serta tekanan terhadap ekosistem dan lingkungan hidup. Kondisi tersebut menuntut adanya langkah-langkah adaptasi yang terencana dan berkelanjutan.
Lebih lanjut disampaikan bahwa perubahan iklim telah memunculkan berbagai risiko yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat, mulai dari meningkatnya ancaman kekeringan, cuaca ekstrem, penurunan kualitas lingkungan, hingga gangguan terhadap kesehatan, perekonomian, dan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, kesiapan menghadapi perubahan iklim harus menjadi agenda bersama seluruh pemangku kepentingan.
Meski menghadapi berbagai tantangan tersebut, Pemerintah Kota Kupang memilih untuk terus bergerak dan mengambil langkah-langkah nyata. Sejalan dengan visi Kota Kupang sebagai Kota Kasih, rumah bersama yang maju, mandiri, sejahtera, dan berkelanjutan, berbagai program adaptasi dan mitigasi terus diperkuat.
Di antaranya melalui gerakan tanam air dan panen air untuk memperkuat ketahanan sumber daya air, rehabilitasi daerah aliran sungai dan reboisasi, peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pelestarian lingkungan, pengembangan pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular, serta memastikan pembangunan kota berjalan selaras dengan prinsip ketahanan iklim.
Ignasius menegaskan bahwa Pemerintah Kota Kupang hadir dalam forum tersebut bukan sekadar untuk mencari dukungan pendanaan, melainkan membawa komitmen, rencana aksi, dan kemauan untuk bekerja bersama seluruh pihak.
Menurutnya, tantangan perubahan iklim yang semakin kompleks tidak mungkin diselesaikan oleh satu pihak saja, tetapi membutuhkan sinergi yang kuat antara pemerintah, lembaga pendanaan, dunia usaha, organisasi masyarakat sipil, akademisi, dan komunitas lokal.
“Pendanaan iklim bukan sekadar soal uang, tetapi merupakan investasi untuk menjaga sumber daya air, melindungi masyarakat rentan, dan memastikan generasi mendatang tetap dapat menikmati lingkungan yang layak huni,” ujarnya saat membacakan sambutan Wali Kota Kupang.
Menurutnya, Forum Jejaring Pendanaan Iklim menjadi ruang strategis untuk mempertemukan kebutuhan pembangunan daerah dengan berbagai peluang pendanaan yang tersedia, sekaligus membangun kepercayaan dan kolaborasi yang dapat diwujudkan dalam program-program nyata yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Dalam forum tersebut, Pemerintah Kota Kupang juga memaparkan berbagai risiko iklim yang dihadapi daerah serta rencana aksi adaptasi perubahan iklim yang sedang dan akan dilaksanakan. Paparan tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif kepada para mitra mengenai kebutuhan, prioritas, dan peluang kerja sama yang dapat dikembangkan bersama ke depan.
Mengakhiri sambutan, Pemerintah Kota Kupang menyatakan optimisme bahwa melalui kolaborasi yang semakin kuat antara pemerintah, mitra pembangunan, lembaga pendanaan, dan masyarakat, berbagai tantangan perubahan iklim dapat dihadapi secara lebih efektif. Forum ini diharapkan menjadi awal dari kemitraan yang lebih erat, investasi yang lebih berdampak, serta langkah-langkah nyata dalam mewujudkan masa depan Kota Kupang yang tangguh, berkelanjutan, dan sejahtera bagi seluruh masyarakat.
Dalam kesempatan yang sama, Country Manager Catholic Relief Services (CRS) Indonesia dan Timor Leste, Yane A. Tamonob, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Kupang dan seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya Forum Jejaring Pendanaan Iklim.
Menurutnya, forum tersebut menjadi ruang penting untuk mempertemukan berbagai ide, sumber daya, dan potensi yang dimiliki para pemangku kepentingan guna membangun kolaborasi yang lebih kuat dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.
Yane menegaskan bahwa forum ini tidak hanya membahas pendanaan, tetapi juga upaya membangun ekosistem pendanaan iklim yang inklusif dan berkelanjutan. Ia menilai ketahanan iklim hanya dapat terwujud apabila pemerintah, masyarakat sipil, sektor swasta, dan lembaga donor bekerja bersama serta menempatkan aktor lokal sebagai bagian utama dari solusi.
Ia berharap forum tersebut menghasilkan tindak lanjut yang konkret, mulai dari terbentuknya jejaring pendanaan iklim yang lebih kuat, meningkatnya akses pemerintah daerah dan organisasi masyarakat sipil terhadap sumber pendanaan, hingga lahirnya berbagai program yang mampu memperkuat ketahanan iklim masyarakat di Nusa Tenggara Timur. CRS, lanjutnya, berkomitmen untuk terus menjadi mitra pemerintah daerah dalam membangun kolaborasi dan memperluas akses pendanaan iklim di masa depan.














