Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Provinsi SVD Timor dan Keuskupan Atambua mengadakan rekoleksi umum 150 tahun SVD dan 75 tahun Seminari Menengah St. Immaculata Lalian pada Jumat, (5/09).
Bertempat di Aula Komunitas St. Yosef Nenuk, kegiatan itu menghadirkan RD. Theodorus Sila sebagai pemberi rekoleksi dan dihadiri oleh anggota SVD Timor, anggota Keuskupan Atambua, Kongregasi SSpS dan beberapa kongregasi lain.
Mengawali rekoleksi, P. Iren Bola, SVD sebagai Wakil Provinsial SVD Timor menjelaskan tema rekoleksi yang diangkat. Tema yang diangkat adalah ensiklik Dilexit Nos yang berbicara tentang Cinta Manusiawi dan Ilahi Hati Yesus Kristus.
Bagi Pater Iren, ensiklik yang ditulis oleh Paus Fransiskus itu bertolak dari devosinya kepada Hati Kudus Yesus. Devosi itu juga menjadi devosi yang digunakan oleh St. Arnoldus Janssen ketika mendirikan ketiga kongregasi misinya; SVD, SSpS dan SSpSAP.
Selanjutnya, RD. Theo menjelaskan empat tujuan dari Ensiklik Dilexit Nos. Pertama, ensiklik ini mengajak setiap orang untuk mendekatkan diri kepada Tuhan sebagai pusat dari keseluruhan hidup manusia. Yesus hadir dengan merangkul seluruh hidup manusia agar dipersatukan sebagai tindakan dalam membangun kasih kepada sesama umat Allah.
Kedua, membangkitkan Devosi yang aktif dan sosial. RD. Theo menegaskan bahwa devosi yang dibuat mesti menciptakan situasi kontemplasi dan refleksi yang mendalam. Devosi yang berpangkal kepada dua hal itu akan membentuk gaya hidup seseorang secara teratur.
Ketiga, melawan budaya kekerasan, individualisme dan kekosongan. Ensiklik Dilexit Nos bertujuan untuk menyadarkan hati setiap umat Allah bahwa mereka yang mengikuti Tuhan mesti menjadi penggerak yang selalu siap menentang segala kekerasan dan budaya individualisme yang sering kali menjerat umat manusia di zaman sekarang.
Keempat, ensiklik Dilexit Nos mengajak Gereja menjadi komunitas yang terlibat. RD. Theo mempertegas hal ini dengan menekankan pesan Paus Fransiskus di tengah dunia yang terluka. Gereja sebagai komunitas iman umat Allah tidak hanya terlibat dalam merefleksikan Sabda Allah, tetapi juga berpartisipasi dan terlibat aktif terhadap situasi dunia yang terluka akibat beragam kejahatan yang diciptakan.
Sebelum menutup rekoleksi, Mgr. Dominikus Saku, Pr., Uskup Keuskupan Atambua juga turut memberikan pesan dan harapan dalam konteks 150 tahun SVD dan 75 tahun Seminari Menengah St. Immaculata Lalian. Mgr. Dominikus berpesan bahwa sejarah perjalanan hidup 150 tahun SVD (1875-2025) menjadi suatu permenungan yang bertolak dari peristiwa kepada pemaknaan hidup.
Sejak awal misi di Timor, para misionaris sudah memberikan hidup mereka secara penuh kepada Hati Yesus. Para misionaris mengosongkan diri mereka demi kemurnian panggilan hidup sebagai pengikut Tuhan. Harapan ini juga mesti hadir dalam diri para pengikut Tuhan saat ini. Gereja mesti menjadi penyalur kasih yang konkret dalam kehidupan umat Allah.
Lebih lanjut, Mgr. Dominikus juga menjelaskan kondisi dunia yang terluka. Ia mengharapkan agar Gereja hendaknya menjadi penyembuh di tengah dunia yang terluka. Hal ini ditunjukkan dengan pola hidup yang disiplin dan diimbangi oleh pengembangan inovasi yang baik dari para imam dan misionaris yang berkarya dalam pelayanan.
Di akhir kegiatan rekoleksi, Mgr. Dominikus memberkati Ambo yang akan digunakan di Aula St. Yosef Nenuk dan dalam perayaan 150 tahun SVD pada tanggal 8 September mendatang.














