Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL Perayaan misa puncak pesta St. Yosef Freinademetz yang berlangsung pada 29/01 mengangkat tema “St. Yosef Freinademetz sebagai Model Inkulturasi.”
Perayaan yang berlangsung di Aula SMA St. Arnoldus Janssen itu dipimpin oleh Pater Hendrik Saku Bouk, SVD dan imam konselebran dari Komunitas Biara Bruder Gregorius (BBG).
Dalam kotbahnya, P. Hendrik menjelaskan St. Yosef Freinademetz sebagai sosok misionaris yang hidup dalam budaya.
Sosok St. Yosef dilihat sebagai misionaris ulung yang memiliki peran penting dalam penyebaran misi Serikat Sabda Allah (SVD) yang berbaur dengan kebudayaan orang Cina secara khusus di wilayah Jining, Tiongkok.
Terinspirasi dari bacaan-bacaan misa, P. Hendrik juga melihat spirit kerendahan hati St. Yosef yang belajar dari sosok Daud dalam segala kepemimpinannya bagi umat Israel.
Ia menuturkan bahwa spirit kerendahan hati St. Yosef dapat dilihat dari kondisi keluarga dan rumahnya yang amat sederhana tetapi mampu menerangi hidup umat Cina dengan kesederhanaan yang dibawanya.
Lebih lanjut, P. Hendrik juga menyatakan empat keutamaan hidup yang perlu dipelajari dari sosok St. Yosef Freinademetz. Pertama, ketaatan misioner. St. Yosef adalah misionaris perdana yang diutus oleh St. Arnoldus Janssen dalam mewartakan dan menyebarkan Sabda Allah ke seluruh penjuru dunia.
Sikap taat kepada St. Arnoldus dan terhadap pewartaan Sabda Allah inilah yang menjadi bekal utama bagi St. Yosef dalam mendekatkan diri kepada budaya umat Allah di Tiongkok.
Pater Hendrik menandaskan bahwa berkat keutamaan ini, St. Yosef mendapatkan penghargaan kanonisasi pada tanggal 5 Oktober 2003.
Keutamaan kedua adalah hidup Doa. Bagi P. Hendrik, St. Yosef menerangi hidup umat Allah secara mendalam. Hal ini dilihatnya dari Kitab Suci yang selalu dibawa oleh St. Yosef dalam segala pewartaan dan karya misinya bagi umat di Cina.
Ketiga, kerendahan hati. Pater Hendrik menambahkan bahwa St. Yosef tidak pernah melihat diri sebagai orang asing, tapi menggaungkan komunitas lokal yang penuh dengan nilai inkulturasi.
Keempat, cinta terhadap umat yang tinggal di Cina. P. Hendrik melihat St. Yosef sebagai tokoh multikultural yang sempurna. St. Yosef mencintai orang Cina sehingga Ia juga mau mati sebagai orang Cina.
Di akhir kotbah, P. Hendrik mempertanyakan misionaris yang berkarya di Pulau Timor yang mau mengikuti St. Yosef Freinademetz dan mati sebagai orang lokal.
Selanjutnya, acara ditutup dengan makan malam dan rekreasi bersama dengan umat Allah yang hadir dalam perayaan itu.














