Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Dalam rangka merayakan pesta St. Yosef Freinademetz yang jatuh pada 29 Januari mendatang, Komunitas Biara Bruder Gregorius Kupang (BBG) dan asrama putri St. Arnoldus Janssen Kupang melakukan Triduum mengenang sosok St. Yosef Freinademetz, misionaris perdana Serikat Sabda Allah (SVD) pada 26/01-28/01 di Kapela Biara Bruder Gregorius. Pada Triduum hari pertama, Bruder Rus Tatu, SVD sebagai pemimpin Triduum mengangkat tema “Menjadi Segalanya bagi Semua Orang”.
Dalam ibadat Triduum itu, Br. Rus menekankan sosok St. Yosef Freinademetz sebagai imam yang hidupnya telah menjadi Injil yang terbuka bagi banyak orang. Ia menjelaskan bahwa sebagai imam misionaris perdana SVD, St. Yosef meninggalkan tanah airnya yang nyaman, dan menyerahkan seluruh hidupnya untuk mewartakan Kristus di tanah Tiongkok.
Dalam diri St. Yosef Freinademetz, Br. Rus melihat bagaimana sabda Injil benar-benar menjadi daging: “Barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya.”
Br. Rus juga menjelaskan sejarah hidup St. Yosef Freinademetz yang sejak kecil sudah tinggal dan menetap dalam keluarga petani yang sederhana dan saleh. Sejak awal, ia sudah menunjukkan tanda-tanda panggilan rohani yang mendalam.
Setelah ditahbiskan menjadi imam, ia merasa belum cukup hanya melayani umat di paroki. Ada suara halus dalam hatinya yang terus memanggil: “Pergilah dan wartakanlah Injil.”
Panggilan itu membawa dia bertemu dengan Serikat Sabda Allah (SVD), sebuah komunitas misioner yang baru didirikan oleh Santo Arnoldus Janssen.
Tanpa banyak ragu, ia meninggalkan kampung halaman dan berangkat menuju negeri yang jauh, negeri yang bahkan belum pernah ia dengar dengan jelas — Tiongkok.
Terinspirasi dari teks Injil Markus 8:34–37, Br. Rus menegaskan bahwa kisah hidup St. Yosef Freinademetz bukanlah sekadar sejarah seorang misionaris besar, melainkan undangan bagi semua manusia.
Bagi Br. Rus, misi bukan hanya berarti pergi ke negeri asing tetapi juga pergi keluar dari diri sendiri. Misi berarti berani meninggalkan ego, meninggalkan zona nyaman, dan memasuki kehidupan orang lain dengan hati yang penuh kasih.
Dalam konteks hidup umat Allah di masa kini, Br. Rus memberi pesan bahwa setiap orang dipanggil untuk menjadi misionaris: baik itu di rumah, di tempat kerja, di sekolah, dan di lingkungan.
Di akhir ibadat Triduum itu, Br. Rus mengingatkan bahwa Hidup St. Yosef Freinademetz memberi makna nilai hidup yang tidak hanya terletak pada apa yang manusia kumpulkan, tetapi juga pada apa yang diberikan.
Setelah Triduum, kegiatan dilanjutkan dengan makan malam bersama di Komunitas BBG dan asrama putri St. Arnoldus Janssen Kupang.














