Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Minggu, (13/4/2025), umat Katolik Stasi Fialaran, Paroki Lahurus, merayakan Hari Minggu Palma dengan menggabungkan unsur budaya lokal dalam Perayaan Ekaristi. Perayaan dilangsungkan di Kapela Stasi Fialaran dan dipimpin oleh Pater Dismas Longginus Mauk, SVD.
Perayaan dimulai dengan ritus pembukaan di pelataran kapela, kemudian dilanjutkan dengan perarakan menuju dalam kapela. Prosesi perarakan ini diiringi dengan tarian Likurai, salah satu tarian khas daerah Timor, khususnya wilayah Tetun. Kehadiran tarian tersebut turut memperkaya makna perayaan dengan nuansa budaya setempat.
Dalam homilinya, Pater Dismas menekankan tiga pokok refleksi penting, yang diangkat dari simbol Keledai dalam Injil. Pertama, mengenai ajakan untuk membebaskan diri dari segala hal yang buruk. Dengan mengacu pada kisah keledai dalam Injil yang dilepaskan ikatannya untuk kemudian membawa Yesus masuk ke Yerusalem, umat diajak untuk melepaskan diri dari belenggu dosa. Dengan demikian, setiap orang dapat dengan bebas menjalankan tugas mulia yang dipercayakan oleh Kristus dalam hidupnya masing-masing.
Kedua, pentingnya membina sikap kelembutan dalam diri. P. Dismas menjelaskan bahwa Keledai merupakan binatang yang sering dianggap sebagai simbol damai dan kasih. Hal ini menjadi teladan bahwa setiap pribadi diundang untuk bersikap lemah lembut dan penuh kasih. Pesan ini sejalan dengan hukum utama dalam ajaran iman Katolik, yakni hukum kasih.
Ketiga, menjaga sikap rendah hati. P. Dismas menegaskan bahwa ketika Yesus memasuki Yerusalem, sorak-sorai dan sambutan meriah diarahkan kepada-Nya, bukan kepada keledai yang ditunggangi-Nya. Ini menjadi pengingat bahwa segala bentuk pelayanan yang kita lakukan hendaknya dilandasi dengan kerendahan hati, bukan untuk mencari pujian, tetapi untuk memuliakan Tuhan.
Perayaan Minggu Palma di Stasi Fialaran ini menjadi momen iman yang kaya akan makna, tidak hanya secara liturgis tetapi juga kultural.














