P. Hendrikus Saku Bouk, SVD: Bruder Gregorius adalah Teladan bagi Semua yang Bekerja di Media

Beato Gregorius memang wafat secara jasmani, tetapi ia menang dalam spiritualitas dan intelektualitas. Semangat inilah yang dapat diteladani oleh setiap orang yang bekerja di bidang media.

Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Bertepatan dengan peringatan St. Barnabas Rasul, komunitas Biara Bruder Beato Gregorius (BBG) Kupang, rayakan misa Triduum hari ketiga menyongsong pesta Beato Gregorius Frackowiak. Misa Triduum hari ketiga berlangsung pada Rabu (11/06/2025). Triduum hari ketiga ini menjadi akhir dari rangkaian tiga hari persiapan spiritual sebelum memasuki puncak peringatan Beato Gregorius Frackowiak yang dirayakan pada Kamis (12/06/2025).

Selama tiga hari berturut-turut, Anggota komunitas BBG Kupang bersama Anggota Asrama Puteri St. Arnoldus Janssen Kupang serta umat yang hadir, diajak untuk merenungkan keteladanan hidup Beato Gregorius, seorang bruder religius yang dengan setia mempersembahkan hidupnya demi iman dan cinta kasih kepada sesama, bahkan hingga wafat sebagai martir pada masa penganiayaan Nazi di Polandia.

Dalam wawancara bersama Radio Tirilolok, Pater Hendrikus Saku Bouk, SVD, menjelaskan bahwa nama Bruder Gregorius memiliki arti “waspada” atau “siaga”. Dalam bahasa Yunani, Gerio dapat berarti “membangunkan” atau “membangkitkan”, sementara dalam bahasa Latin, Gregs berarti “kawanan”. Berdasarkan pengertian tersebut, Pater Hendrik menyimpulkan bahwa nama Beato Gregorius dapat dimaknai sebagai simbol kewaspadaan, kesiap-siagaan, kebersamaan dalam persekutuan, perhatian, serta kemampuan untuk membangunkan dan membangkitkan sesuatu.

Lebih lanjut, P. Hendrik menjelaskan bahwa Gregorius wafat sebagai martir karena keberaniannya mewartakan Sabda Allah melalui media. Hal ini sejalan dengan semangat Santo Barnabas, sahabat seperjalanan Paulus, yang juga mati karena mempertahankan kebenaran imannya.

Pater Hendrik juga mengungkapkan bahwa keempat martir SVD yang dikenang, termasuk Bruder Gregorius, merupakan bagian dari 108 orang yang dibunuh oleh rezim Nazi. Terdiri dari 3 uskup, 52 imam, 26 bruder, 3 seminaris, 8 biarawati, dan 9 awam.

Lebih lanjut, Pater Hendrik menyampaikan bahwa Yesus wafat di kayu salib sebagai bentuk pengorbanan demi menebus seluruh dunia. Pada masa Perang Dunia II, Santo Maksimilianus Kolbe juga mengorbankan dirinya untuk menggantikan seorang ayah agar ia dapat kembali berkumpul dengan keluarganya. Demikian pula, Bruder Gregorius mengorbankan diri untuk menggantikan 100 orang ayah agar mereka bisa kembali kepada keluarga masing-masing.

Tindakan heroik yang dilakukan Beato Gregorius menunjukkan kesiapsediaannya untuk berkorban demi kebenaran Injil, baik melalui perkataan maupun tindakan konkret.

“Dia adalah pribadi yang meneladani tindakan Yesus. Ia laksana biji gandum yang jatuh ke tanah dan mati; sebab jika tidak mati, ia tetap satu, tetapi jika mati, ia akan menghasilkan buah yang berlimpah,” terang Pater Hendrik, mengutip Kitab Suci.

“Ia adalah pribadi yang rela mati demi sahabat-sahabatnya, sebagaimana tertulis dalam Kitab Suci: Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seseorang yang menyerahkan nyawanya bagi sahabat-sahabatnya,” lanjut Pater Hendrik.

Di akhir wawancara, Pater Hendrikus Saku Bouk, SVD, mengajak semua orang, terutama para imam, bruder, dan suster (Anak-anak Arnoldus Janssen) untuk meneladani Beato Martir Gregorius yang berani untuk mewartakan dan menyuarakan kebenaran.

Beato Gregorius memang wafat secara jasmani, tetapi ia menang dalam spiritualitas dan intelektualitas. Semangat inilah yang dapat diteladani oleh setiap orang yang bekerja di bidang media.

Penulis: Ellyne Buga, Vany WujoEditor: Ina Kaseh