Radio TIRILOLOK menggelar acara Gen-Z Bicara dengan tema “Melatih Nalar Kritis Lewat Debat Ilmiah” pada Rabu, (27/8/2025), bertempat di Studio Radio TIRILOLOK. Acara ini menghadirkan tiga narasumber: Reinha R. N. Seluru (Nena), Claudia R. Kelen (Ririn), dan Virginia T. Betan (Vira) dari SMA Santo Arnoldus Janssen Kupang.
Dalam dialog interaktif, Vira berbagi pengalamannya terjun ke dunia debat: “Waktu SMP saya pernah ikut lomba debat Bahasa Inggris, tapi belum lolos ke tahap selanjutnya. Di SMA, saya kembali dijaring oleh pembimbing untuk ikut seleksi dan puji Tuhan saya lolos. Sejak itu, saya mulai dibimbing dan berlatih dengan mosi-mosi yang berlaku di Indonesia dan NTT. Lomba debat pertama saya di UNWIRA Kupang, dan dari situ saya mulai tertarik karena ternyata debat itu seru. Akhirnya saya lanjut sampai sekarang.”
Ririn juga menceritakan awal ketertarikannya: “Saya mulai tertarik ikut debat saat duduk di kelas 11, ketika diajak oleh pembimbing kami. Awalnya saya ragu karena gugup bicara di depan umum. Tapi saya pikir, tidak ada salahnya mencoba. Setelah ikut seleksi, saya lolos, dan lomba pertama saya juga di UNWIRA Kupang bersama Vira. Dari situ saya merasa lebih percaya diri berbicara di depan umum.”
Sementara itu, Nena mengungkapkan:
“Awalnya Pak guru membentuk organisasi debat saat saya kelas 10. Teman-teman termasuk Vira ikut bergabung. Saya sempat ragu karena belum berani bicara di depan umum dan belum paham mekanisme debat. Namun saat diajak ikut lomba di UNWIRA Kupang, kami bertiga ikut serta meski di tim yang berbeda. Persiapan kami belum matang, tapi karena ada bimbingan serius dari Pak Guru, tim kami berhasil meraih juara satu. Setelah ikut lomba itu, saya mulai tertarik dengan debat dan melihat ini sebagai peluang untuk keluar dari zona nyaman. Saya pun diberi kepercayaan ikut lomba tingkat kota bersama Ririn dan Vira. Sejak itu, saya memutuskan untuk serius menekuni debat.”
Sebagai penutup, mengutip Santoso (2004):
“Program debat memberikan kontribusi signifikan bagi siswa, terutama dalam pengembangan kurikulum dan pembentukan masyarakat yang kritis.”














