Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Mindriyanti Astiningsih menekankan pentingnya nilai edukasi pencegahan dan pengendalian AIDS, Tuberkulosis dan Malaria (ATM) dalam kehidupan sekolah para pelajar. Hal itu disampaikannya dalam pertemuan penguatan forum kemitraan untuk PP ATM pada Rabu (27/8).
Asti turut menyatakan keprihatinannya akan meningkatnya kasus kekerasan seksual yang terjadi di NTT. Kegiatan yang bertempat di Aula Cendana Wangi Poltekkes Kemenkes Kupang itu menghadirkan banyak pihak yang terlibat baik dari Dinas Kesehatan Provinsi dan Kota di NTT, Perguruan Tinggi, LSM, media dan beberapa instansi lainnya.
Dalam sambutannya, Asti menceritakan alasannya untuk ikut dalam kegiatan yang diinisiasi oleh ADINKES. Baginya, kegiatan itu tidak lari jauh dari pencegahan dan pengendalian masalah kekerasan seksual di NTT yang sedang dalam zona merah. Dalam penjelasannya, melalui tim di PKK mereka telah melaksanakan berbagai kampanye, edukasi hingga turun ke lapangan guna memberikan sosialisasi mengenai masalah perlindungan dari perempuan dan anak khusus untuk kasus-kasus tindak kekerasan seksual yang menimba perempuan dan anak.
Dalam berbagai temuan di lapangan itulah, ia melihat bahwa dampak lanjutan dari kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan ini adalah hasil dari isu semakin tingginya angka HIV-AIDS di NTT.
Lebih lanjut, Asti juga menyampaikan penanganan biaya yang sangat tinggi terhadap persoalan ATM ini. Ia melihat adanya hubungan yang terjadi dalam berbagai bidang kehidupan yang mencakup ekonomi, sosial dan budaya yang juga sangat dipengaruh oleh masalah HIV-AIDS itu sendiri. Jumlah yang semakin meningkat akan terus berpengaruh terhadap peningkatan masalah kekerasan seksual itu sendiri.
Terhadap persoalan itu, Asti merekomendasikan pentingnya edukasi dalam mencegah penyakit menular seperti ATM itu sendiri. Edukasi sebagai hal yang paling dekat dengan semua kalangan mesti diperhatikan dari sejak masa kanak-kanak sampai dengan usia lanjut. Edukasi teerjadi di semua lingkungan, mulai dari PAUD sampai ke Perguruan Tinggi bahkan di masyarakat umum.
Asti mencontohkan, untuk masalah perlindungan terhadap perempuan dan anak, Tim PKK sedang membangun komunikasi dengan bidang pendidikan untuk memikirkan cara memasukkan materi ATM ke dalam material wajib. Pendidikan dilihat sebagai cara yang lebih efektif, lebih terstruktur dan masif di luar jalur yang sekarang sedang digunakan.
Terhadap kegiatan ini, Asti mengharapkan juga agar kegiatan semacam ini turut mengikutsertakan perwakilan Dinas Pendidikan dan institusi pendidikan agar dapat memikirkan cara agar materi-materi ini mulai diperkenalkan kepada anak-anak dari usia ini dengan platform masing-masing. Lebih dari itu, ia juga menghimbau agar tidak hanya para pelajar yang menerima materi-materi itu, tetapi juga guru-guru dan orang tua yang mesti mengupdate dirinya di tengah perubahan dunia yang begitu cepat.
Adapun kegiatan ini berlangsung selama dua hari, yakni hingga Kamis (28/8) dan diharapkan dapat menjawabi persoalan terkait ATM di berbagai wilayah NTT.














