Uskup Agung Ende Ajak Sesama Terlibat dalam Karya Penyelamatan Dunia Bersama SVD

Gereja dalam bekerja sama dengan semua pihak yang berkehendak baik, untuk mengupayakan penyelamatan dunia.

Para peserta seminar "Bersaksi Tentang Terang Dari Segala Penjuru Bagi Setiap Orang SVD dan Penyelamatan Lingkungan Hidup di Tengah Dunia Terluka” di Ballroom St. Hendrikus UNWIRA

Kota Kupang , TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Universitas Katolik Widya Mandira (UNWIRA) Kupang bersama Yayasan Pendidikan Katolik Arnoldus (YAPENKAR) menutup seluruh rangkaian kegiatan menyongsong perayaan puncak 150 tahun SVD lewat penyelenggaraan seminar pada Sabtu (30/08) di Ballroom St. Hendrikus Rekrorat Lantai IV Kampus Penfui.

Mengusung tema “Bersaksi Tentang Terang Dari Segala Penjuru Bagi Setiap Orang”, dengan sub-tema “SVD dan Penyelamatan Lingkungan Hidup di Tengah Dunia Terluka”, seminar ini menghadirkan tiga narasumber, yakni Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD; Kasatgaswil NTT Densus 88, Kombes Pol. Sri Astuti Ningsih, S.Sos; dan Dekan Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UNWIRA, Br. Anggelinus Nadut, S.Si., M.Si.

Dalam sambutannya menjelang seminar, Rektor UNWIRA, P. Dr. Philipus Tule, SVD menyebut bahwa topik seputar lingkungan, yang juga menjadi panggilan gereja, termasuk misi SVD selama 150 tahun, dalam perkembangannya telah menjadi sangat luas, multidimensional dan membutuhkan kolaborasi berbagai pihak.

Lebih lanjut, P. Philipus mengutip adagium lama yang berkembang di Gereja Katolik pra-Konsili Vatikan II, yakni “Extra Ecclesiam Nulla Salus” yang berarti “di luar gereja, tidak ada keselamatan”. Dinilainya bahwa dewasa ini, para teolog telah mengembangkan aksioma baru, “Extra Mundum Nulla Salus” – “di luar dunia tidak ada keselamatan” yang berarti bahwa usaha untuk mencapai keselamatan akhirat mesti dimulai dari kehidupan di dunia ini.

P. Philipus menambahkan, upaya merawat lingkungan semestinya tidak sebatas pada menjaga kebersihan udara, air, tanah dan alam, tetapi juga untuk menjaga keharmonisan dengan alam semesta dan merawat relasi antar sesama manusia, demi mewujudkan lingkungan sosial yang bersih dari etnosentrisme, intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme.

Sementara itu, Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD mengawali pemaparannya dengan mengajak para peserta untuk memahami Teologi Ciptaan, bahwa manusia ditempatkan di dunia sebagai bagian dari ciptaan dan menerima anugerah khusus untuk memelihara alam.

Hadir secara daring melalui platfrom Zoom, ia mengajak seluruh peserta seminar untuk meneladani kehidupan St. Fransiskus Asisi, tokoh yang menginspirasi dunia karena perhatiannya pada lingkungan dan komitmennya dalam membantu orang-orang miskin, terutama perempuan dan anak-anak.

Mantan Superior General SVD itu juga menyoroti peran gereja dalam bekerja sama dengan semua pihak yang berkehendak baik, untuk mengupayakan penyelamatan dunia. Dijelaskannya bahwa semangat pendirian SVD oleh St. Arnoldus Janssen ialah spirit untuk mewartakan Sabda Allah kepada bangsa-bangsa yang belum mengenal Injil. Sebagaimana yang selalu disuarakan oleh St. Arnoldus Janssen, Sabda Allah adalah penuntun yang tepat bagi manusia untuk terlibat dalam penyelamatan dunia dan mempersiapkan diri bagi keselamatan akhirat.

Uskup Kleden melanjutkan uraiannya bahwa sejak didirikan, SVD tidak hanya mewartakan injil, tetapi juga bergerak dalam berbagai bidang seiring perkembangannya. Salah satunya dengan berkomitmen untuk terlibat dalam beragam persoalan sosial, dengan terbentuknya JPIC (Justice, Peace, amd Integrity of Creation) atau Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan. JPIC kemudian terpatri menjadi satu dari empat matra khas SVD, selain Kerasulan Kitab Suci, Animasi Misi, dan Komunikasi.

Pemimpin Gereja Katolik di Keuskupan Agung Ende itu mengundang para konfrater dan seluruh sahabat SVD untuk berpartisipasi dalam karya penyelamatan dunia menuju keselamatan akhirat lewat berbagai cara, di antaranya dengan memaknai seruan Paus Fransiskus lewat Ludato Si, juga aneka102 aksi nyata lainnya dengan mendengarkan jeritan bumi, jeritan kaum miskin, menemukan kembali Injil Ciptaan, dan menyadari bahwa penyalahgunaan ciptaan merupakan dosa ekologis yang harus dihentikan.

Hadir dalam kegiatan tersebut, civitas akademika UNWIRA, pimpinan dan anggota sejumlah kongregasi religius, kelompok Soverdia, serta undangan lainnya, baik secara daring maupun luring.

Penulis: Katarina LamablawaEditor: Ina Kaseh