Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Vian, seorang tukang parkir yang sehari-hari bekerja di kawasan Jl. Piet A. Tallo, mengungkapkan beratnya perjuangan mengais rezeki di tengah tuntutan setoran yang tinggi dan penghasilan yang tidak menentu.
“Setoran saya ke pengelola itu Rp200 ribu per hari,” ujarnya saat diwawancarai oleh Radio TIRILOLOK pada Senin, (6/10/2025). “Tapi kadang sepi, saya cuma dapat Rp50 ribu. Kalau ramai bisa Rp100 ribu, tapi tetap belum tentu cukup buat setor.”
Menurut Vian, kondisi di lapangan kerap tidak mendukung. Salah satunya soal karcis parkir. “Karcis sering habis duluan, sementara banyak yang bayar nggak sesuai tarif. Mobil seharusnya Rp5 ribu, motor Rp2 ribu, tapi banyak yang kasih di bawah itu. Bahkan ada yang nggak bayar sama sekali,” ungkapnya.
Ia mengaku tidak bisa memaksa pengguna jasa untuk membayar penuh. “Saya bukan siapa-siapa juga, cuma tukang parkir. Nggak enak juga kalau harus maksa,” ujarnya lirih.
Masalah lain yang dihadapi adalah distribusi karcis yang tidak menentu. “Biasanya karcis baru turun tanggal 5 sampai 10. Itu juga tergantung pengelola, kapan mereka setor ke dinas,” jelas Vian.
Meski bekerja dari pagi sampai malam, penghasilan bersih yang dibawa pulang tidak seberapa. “Kalau dihitung-hitung, paling saya dapat Rp1,5 juta sampai Rp3 juta sebulan. Itu belum potong makan, belum lagi kalau ada kendala kayak ATM rusak,” ucapnya.
Dengan nada pasrah, Vian menyebut bahwa realita yang ia hadapi jauh dari kata cukup. “Sepi… dua ribu,” katanya pelan, menggambarkan situasi di mana penghasilan hari itu hanya datang dari satu motor yang parkir.














