Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Pelatihan Penjamah Makanan bagi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Provinsi Nusa Tenggara Timur digelar di Grand Mutiara Hotel, Kota Kupang, Sabtu (1/11/2025), dan diikuti peserta dari Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), serta Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU).
Kegiatan yang diinisiasi oleh Direktorat Penyuluhan dan Penyaluran Wilayah III, Badan Gizi Nasional Republik Indonesia ini bertujuan meningkatkan kemampuan petugas gizi dalam menjaga kebersihan dan kualitas makanan yang disalurkan kepada penerima manfaat, khususnya anak sekolah.
Ketua Dapur SPPG Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Petrus Renoldy Kii, menjelaskan pentingnya pemahaman tentang peran penjamah makanan dalam proses penyediaan pangan.
“Materinya tentang penjaga makan. Artinya kita yang mengelola dan bersentuhan langsung dengan seluruh proses, mulai dari penerimaan, persiapan, pengolahan, hingga distribusi,” ujarnya saat diwawancarai Radio TIRILOLOK.
Noldy mengingatkan bahwa aspek sanitasi menjadi perhatian utama.
“Yang paling ditekankan adalah menjaga sanitasi, baik di lingkungan luar maupun di area dapur. Kebersihan dapur dan pengelolaan bahan makanan dari penerimaan hingga pengolahan sangat penting,” jelasnya.
Ia menambahkan, setiap bahan makanan yang diterima harus disortir dengan baik agar kualitas gizi tetap terjaga.
“Bahan baku yang masuk harus benar-benar siap diolah,” tuturnya.
Saat ini terdapat delapan SPPG di wilayah Kab. TTU dengan total 160 petugas. Noldy juga menjelaskan bahwa variasi menu menjadi tanggung jawab ahli gizi agar anak-anak tidak merasa bosan.
“Menu makanan diganti setiap hari atas arahan ahli gizi. Tujuannya agar penerima manfaat, yaitu anak sekolah, tidak bosan dengan makanan yang disediakan,” ungkapnya.
Meski dapur mereka belum beroperasi penuh, Petrus mengatakan timnya siap melayani sekitar seribu penerima manfaat pada tahap awal.
“Kami menargetkan seribu penerima manfaat. Jumlah itu akan dibagi ke beberapa sekolah sesuai jenjangnya,” katanya.
Untuk menjaga kesegaran makanan, proses memasak juga diatur dengan ketat.
“Kami diajarkan untuk mulai memasak setelah pukul 12. Dengan begitu, saat makanan selesai dan dikemas, distribusinya ke sekolah bisa berjalan tanpa risiko pembusukan,” ujarnya.
Noldy berharap, pelaksanaan program Makan Bergizi (MBG) berjalan lancar dan mendapat dukungan masyarakat.
“Harapan kami agar tidak terjadi kejadian luar biasa seperti keracunan. Selama ini di TTU tidak pernah ada kasus seperti itu,” tegasnya.
Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak mudah percaya pada informasi palsu yang beredar.
“Banyak berita hoaks yang menyalahkan program ini, padahal manfaatnya besar. Selain menyehatkan anak sekolah, program ini juga membuka banyak lapangan kerja,” tambahnya.
Menutup wawancara, Noldy menjelaskan bahwa istilah kejadian luar biasa (KLB) kerap disalahartikan masyarakat.
“Kalau terjadi sakit perut atau keracunan di satu sekolah, belum tentu sumbernya dari dapur. Misalnya dapur kami melayani 10 sekolah, tapi hanya satu yang terdampak. Artinya perlu ditelusuri penyebabnya secara menyeluruh, bukan langsung menyalahkan dapur,” ujarnya.














