Dari Kupang ke Melbourne, Tya Ragat Bagikan Perjalanan Mengejar Mimpi

Tya Ragat cerita tantangan, beasiswa, dan studi media di Australia.

Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL Radio TIRILOLOK menggelar program Gen-Z Bicara dengan tema Mengejar Impian dan Harapan (From Kupang to Melbourne) pada Rabu, (4/2/2026), bertempat di Studio Radio TIRILOLOK.

Program ini menghadirkan Tya Ragat, mahasiswa Global Media Communication di Melbourne University, sebagai narasumber.

Dalam dialog interaktif tersebut, Tya membagikan kisah perjalanan akademiknya sekaligus proses pencarian passion yang membawanya menempuh studi di bidang komunikasi.

Ketertarikannya pada dunia media. Tya terinspirasi dari sosok Najwa Shihab yang menginspirasinya melalui cara bertutur, keberanian menyampaikan pendapat, serta peran perempuan di ruang publik dan politik.

“Dari situ saya melihat ilmu komunikasi sebagai bidang yang tepat untuk mengasah kemampuan berbicara dan berpikir kritis,” ujarnya.

Tya menyadari bahwa meskipun setiap orang terlahir dengan kemampuan berbicara, menemukan seni dan kedalaman komunikasi bukanlah hal yang mudah.

Melalui studi komunikasi, ia merasa dapat memahami media secara lebih menyeluruh, tidak hanya sebagai sarana penyampaian pesan, tetapi juga sebagai kekuatan yang membentuk budaya dan kehidupan sosial.

Sebelum menekuni ilmu komunikasi, Tya sempat menempuh jalur sains semasa SMA dan aktif mengikuti berbagai kompetisi berbasis kimia.

Namun seiring berjalannya waktu, ia menyadari bahwa tidak semua rencana berjalan sesuai ekspektasi.

“Keberanian untuk beralih arah justru membantu saya menemukan bidang studi yang benar-benar sejalan dengan minat dan semangat hidup,” ungkapnya.

Menurut Tya, ilmu komunikasi menawarkan prospek yang luas, mulai dari jurnalisme, media kreatif, hingga peran sebagai komunikator dan orator.

Disiplin ini juga melatih cara berpikir kritis, termasuk dalam mengonsumsi dan menganalisis konten media sehari-hari.

Ia mencontohkan bahwa tontonan hiburan tidak hanya dinikmati, tetapi juga dapat dikaji dari sisi produksi, ideologi, serta kepentingan yang melatarbelakanginya.

Dalam perjalanannya melanjutkan studi ke luar negeri, Tya menekankan pentingnya riset yang matang, terutama bagi mahasiswa yang berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi.

Ia mengaku mendaftar BPI (Beasiswa Pendidikan Indonesia) dan LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) dengan persiapan serius, mulai dari menentukan tujuan studi, memilih program yang sesuai, hingga merancang gambaran masa depan yang jelas.

Pilihan Tya akhirnya jatuh pada program Global Media Communication di Melbourne University karena kuatnya tradisi akademik serta pendekatan pembelajaran berbasis praktik.

Menurut Tya, mendapatkan pelatihan langsung dari para profesional di bidang media, termasuk jurnalis internasional.

Selain itu, fasilitas penunjang seperti perangkat produksi dan perangkat lunak profesional turut disediakan untuk mendukung proses pembelajaran.

Lingkungan kelas yang multikultural menjadi nilai tambah tersendiri.

Tya mengungkapkan bahwa diskusi bersama mahasiswa dari berbagai negara membuka perspektif baru mengenai dinamika media global.

“Perbedaan sistem, kebijakan, hingga kebiasaan bermedia di tiap negara menjadi pengalaman belajar yang tidak bisa didapatkan hanya dari internet,” ujarnya.

Interaksi lintas budaya tersebut, lanjut Tya, tidak hanya memperluas jejaring, tetapi juga memperkaya pemahaman mahasiswa terhadap peran media dalam konteks global.

Ia menilai pengalaman tersebut menjadi bekal penting bagi mahasiswa komunikasi yang ingin berkiprah di level internasional.

Sebagai informasi, persyaratan IPK untuk beasiswa LPDP yakni minimal 3,00 untuk jenjang S2 dan 3,25 untuk jenjang S3 (skala 4,00), dengan ketentuan khusus untuk program tertentu seperti Afirmasi serta bagi PNS, TNI, dan Polri.