Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL –Br. Beatus Josef Schondorf, SVD – seorang biarawan misionaris Serikat Sabda Allah asal Jerman yang selama lebih dari 61 tahun berkarya di Timor, meninggal dunia pada Minggu (26/04).
Br. Beatus dilahirkan pada 29 Januari 1932 dan menghabiskan waktu masa kecil bersama keluarganya ketika Perang Dunia II berkecamuk kala itu. Meski hidup di tengah keterbatasan, ia tetap menempuh pendidikan dan melanjutkan untuk bekerja di sebuah perusahaan kontruksi.
Panggilan hidupnya sebagai seorang biarawan disambut baik kedua orang tuanya. Pada 8 September 1959, ia bergabung dengan Biara SVD di St. Wandel. Setahun kemudian, tepatnya pada 8 September 1960, ia mengikrarkan Kaul Pertamanya dalam SVD.
11 November 1964 menjadi hari bersejarah dalam hidupnya. Perjalanan sebagai seorang misionaris dimulai, saat ia menginjakkan kakinya di Pulau Timor. Sembari melanjutkan formasi, Br. Beatus mulai malakonkan karya misinya. Pada 8 September 1966, ia mengikat dirinya dalam Kaul Kekal. Seluruh kehidupannya telah diserahkannya kepada Sang Sabda Sejati.
Sejak tiba di Timor, Br. Beatus mendapati realita sosial masyarakat yang mendorongnya untuk tidak sekadar melakukan pembinaan iman umat, namun juga melibatkan diri dalam pembangunan fisik. Hal itu terbukti, ketika ia membantu P. Franz Lackner, SVD membuka dan membangun sekolah di Sabu pada tahun 1964.
Tak berhenti sampai di situ, Br. Beatus bersama umat membangun Gereja Katedral Kupang pada 1965. Bahkan karena kelihaiannya, ia pun dipercayakan membangun Kapela Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero pada waktu itu.
Pada 15 Agustus 1970, Br. Beatus melebarkan karya pelayanannya di Halilulik, dengan menginisiasi pemeliharaan sapi perah. Demi peningkatan keterampilan umat yang berdampak pada perbaikan ekonomi, ia juga mendirikan kursus menjahit di Uarau dan Oenopu. Karya misi selanjutnya ialah pendirian bengkel di Webora.
Semasa hidupnya, Br. Beatus dikenal sebagai ahli bangunan yang mendedikasikan diri bagi perkembangan Gereja. Berkat dukungan dari Provinsi SVD Timor, para donatur dan seluruh umat, ia telah mendirikan sekitar 19 gereja paroki sepanjang hidupnya.
Kecintaannya akan misi dan pendidikan membuatnya tekun membimbing siapa saja yang datang kepadanya. Tercatat, lebih dari 5.000 orang yang menjadi alumni dari kursus menjahit dan memasak, perbengkelan kayu dan las, yang bahkan banyak di antara mereka yang sudah memiliki bengkel sendiri.
Meski jauh dari tanah kelahirannya, Br. Beatus menemukan kecintaannya pada tanah yang dipijakinya di Timor. Ia adalah sosok yang ulet dan pekerja keras dalam mendampingi kaum muda untuk mengolah tanah, jauh sebelum teknologi seperti traktor berkembang.
Di Lebur, ia tidak hanya akrab dengan manusia, tetapi juga lingkungan. Ia membangun rumah-rumah umat di sana. Pernah suatu waktu, ia menukarkan jagung dari Lebur dengan bambu dari Silawan – Atapupu, demi mendirikan rumah bagi para umat. Bersama Br. Don, SVD, ia mengurus pembangunan gereja setempat dan pemasangan pipa air di daerah Mandeu dan TTU.
Hari-hari hidup Br. Beatus dilaluinya dengan ketekunan dalam doa dan karya. Di masa tuanya, ia tetap tinggal di Lebur, meleburkan diri dengan siapa pun yang masih mencari kehidupan lewat tempat kursus yang didirikannya.
Sejak empat tahun terakhir, ia jatuh sakit. Sempat berobat ke Surabaya, namun karena pertimbangan usia, ia kemudian ditangani di RS Katolik Marianum Halilulik. Puncaknya, pada Minggu (19/04), ia kembali dilarikan ke RS tersebut. Selama beberapa hari dirawat, Br. Beatus menghembuskan nafas terakhirnya tepat ketika Gereja Katolik universal merayakan Hari Doa Sedunia untuk Panggilan (Hari Minggu Panggilan).
Br. Beatus dikebumikan pada Hari Selasa (28/04) di Biara St. Yosef, Nenuk – Atambua, yang diawali dengan Perayaan Ekaristi di Gereja Katolik St. Arnoldus Janssen Lebur. Ia, sang misionaris yang mengabdikan diri selama lebih dari setengah usianya di tanah misi, telah mengakhiri pertandingan hidupnya dengan baik.
Ia, misionaris Serikat Sabda Allah yang lahir tepat pada pesta peringatan St. Yosef Freinadametz – misionaris perdana SVD – dan wafat tepat pada Hari Minggu Panggilan, adalah tanda penyertaan kasih Allah yang sejak semula telah memilihnya untuk meninggalkan keluarga dan kampung halamannya, demi melayani umat di wilayah Provinsi SVD Timor hingga akhir hayatnya.














