Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Radio TIRILOLOK menggelar program Viral NTT bertajuk “Musik Liturgi dan Tantangan Kekinian” pada Sabtu, (16/5/2026), di Studio Radio TIRILOLOK. Acara Talkshow tersebut menghadirkan dosen musik Universitas Katolik Widya Mandira (UNWIRA) Kupang, Stanis Tolan, serta aktivis koor KUB dan Ketua Yaspensi, Rian Seong.
Dalam dialog interaktif itu, Stanis Tolan menilai perkembangan musik liturgi saat ini semakin mengkhawatirkan.
Kebebasan berekspresi, menurut Stanis Tolan, kerap melampaui batas dan tidak diimbangi pemahaman memadai mengenai liturgi gereja, terutama di kalangan generasi muda.
“Minimnya pendidikan dan pelatihan musik liturgi menjadi salah satu penyebab utama terjadinya pergeseran tersebut,” ujar Stanis Tolan.
Ia menjelaskan, pelatihan musik liturgi berskala besar terakhir berlangsung sekitar tahun 1980-an. Setelah itu, pembinaan maupun kursus khusus musik liturgi dinilai semakin jarang dilakukan.
Kondisi tersebut, lanjutnya, melahirkan generasi baru yang tidak memiliki pemahaman mendalam mengenai tradisi musik gereja.
Akibatnya, gaya bermusik di lingkungan gereja mulai banyak dipengaruhi lagu populer dan tren hiburan modern dibanding kaidah liturgi yang seharusnya dijaga.
Stanis Tolan juga menyatakan masuknya unsur hiburan secara berlebihan ke dalam pelayanan gereja.
Menurut Stanis Tolan, kurangnya pemahaman tidak dapat sepenuhnya dijadikan alasan karena penyimpangan dinilai sudah terlalu jauh dari nilai dasar musik liturgi.
Sementara itu, Rian Seong menilai keresahan terhadap perkembangan musik liturgi turut memunculkan perdebatan di media sosial. Fenomena konten gereja yang dibuat demi mengejar popularitas, jumlah penonton, likes, dan subscriber disebut semakin marak.
“Banyak pelaku musik gereja sebenarnya memahami batas-batas liturgi. Namun, dorongan untuk tampil menonjol sering kali lebih dominan dibanding tujuan pelayanan,” ujar Rian Seong.
Ia menambahkan, media sosial mempercepat perubahan orientasi tersebut. Selain itu, ia melihat adanya jarak antara pegiat musik liturgi dengan pelayan musik gereja di lapangan.
Menurut Rian Seong, kondisi itu bukan sepenuhnya kesalahan generasi muda, melainkan dampak lemahnya pembinaan dari pengurus musik liturgi di tingkat paroki, stasi, maupun keuskupan.
Kurangnya pendampingan dan pendidikan berkelanjutan membuat banyak anggota koor gereja berkembang tanpa arahan yang tepat.
Situasi itu kemudian memicu kritik publik ketika muncul penampilan yang dianggap tidak sesuai dengan semangat liturgi.
Rian Seong menilai generasi muda lebih tepat dipandang sebagai korban pembiaran selama bertahun-tahun dibanding pihak yang sepenuhnya bersalah.
Karena itu, peran seksi musik liturgi serta pendamping gereja dinilai perlu diperkuat agar pembinaan berjalan lebih aktif dan konsisten.
Perubahan orientasi pelayanan musik gereja, lanjutnya, mulai terlihat baik di lingkungan Katolik maupun Kristen.














