Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Di tengah arus modernisasi yang terus berkembang, Kelurahan Nunhila, Kecamatan Alak, Kota Kupang, memilih menjadikan budaya sebagai jembatan antara generasi tua dan generasi muda.
Semangat tersebut diwujudkan melalui Festival Budaya Kelurahan Nunhila Tahun 2026 yang mengusung tema “Merajut Warisan Budaya, Merangkul Masa Depan” atau “Pemanno Lua Peakki Hadda Nga Uku Rai Tu Ta Hedape Lai Leto”.
Kegiatan ini resmi dibuka pada Senin (7/9/2026) dan berlangsung hingga Rabu (9/9/2026) di kawasan Ekowisata Batu Kepala Beach, Kelurahan Nunhila.
Mewakili Wali Kota Kupang dr. Christian Widodo, Asisten III Sekretaris Daerah Kota Kupang, Yanuar Dally, S.H., M.Si., saat membuka kegiatan tersebut menegaskan pentingnya peran generasi tua dalam meneruskan seni dan budaya kepada generasi penerus.
Menurut Yanuar Dally, pelestarian budaya tidak dapat dilakukan secara individual. Dibutuhkan persatuan dan kebersamaan seluruh elemen masyarakat agar berbagai warisan seni dan budaya tetap hidup serta dapat diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
“Generasi tua memiliki tanggung jawab untuk melanjutkan seni dan budaya kepada generasi penerus. Saya percaya generasi tua akan dengan senang hati membimbing generasi muda untuk memahami dan menguasai berbagai kegiatan seni dan budaya yang perlu diwariskan secara turun-temurun,” ujarnya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk menjaga persatuan, kedamaian dan keharmonisan di tengah keberagaman masyarakat Kota Kupang.
Menurut Yanuar Dally, keberagaman suku dan budaya yang ada di Nunhila tidak boleh menjadi sekat pemisah. Festival budaya, kata dia, harus menjadi ruang bersama untuk saling menghargai, menghormati dan memperkuat persatuan.
“Perbedaan tidak boleh membuat kita berpisah. Mari bergandengan tangan, saling menghargai dan menghormati, sehingga persatuan dan kesatuan tetap terjaga,” katanya.
Ia memberikan apresiasi kepada panitia, pemerintah kelurahan dan masyarakat yang telah bekerja sama menyelenggarakan kegiatan tersebut.
Festival Budaya Kelurahan Nunhila kemudian secara resmi dinyatakan dibuka yang ditandai dengan pemukulan gong.
Ketua Panitia Festival Budaya Kelurahan Nunhila, Daud Padja, mengatakan kegiatan tersebut tetap berfokus pada kebudayaan dan tradisi adat yang berkembang di tengah masyarakat.
Selain budaya Sabu yang menjadi salah satu tradisi dominan di Nunhila, festival ini juga menghadirkan kekayaan budaya dari berbagai suku di Nusa Tenggara Timur, di antaranya Sumba, Rote dan Alor.
“Yang kami tampilkan adalah tradisi adat, makanan lokal dan tenun adat. Ada Sumba, Sabu, Rote, Alor dan lainnya. Memang dominannya Sabu karena masyarakat Nunhila banyak berasal dari suku Sabu, tetapi tidak menutup kehadiran suku-suku lainnya,” jelas Daud.
Tidak hanya pertunjukan budaya, festival tersebut juga menyediakan ruang bagi pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) melalui mini expo.
Selama tiga hari pelaksanaan, pengunjung dapat melihat sekaligus menikmati berbagai produk lokal dan kuliner tradisional. Panitia juga menghadirkan demonstrasi pembuatan sejumlah makanan khas, seperti kue cucur dan lain-lain.
Daud mengajak masyarakat Kota Kupang untuk memanfaatkan momentum tersebut dengan mengunjungi Festival Budaya Kelurahan Nunhila selama tiga hari.
Ia berharap kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi agenda tahunan, tetapi mampu menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap adat dan budaya daerah sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat setempat.
Festival Budaya Kelurahan Nunhila 2026 pada akhirnya diharapkan menjadi ruang untuk mempertemukan warisan leluhur dengan kreativitas generasi masa kini—merawat identitas budaya sekaligus membuka peluang baru bagi masyarakat melalui ekonomi kreatif dan UMKM.














