Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Misa pertama Hari Minggu Biasa XXVII berlangsung di Kapel YMY Liliba, Minggu, (4/10/2026). Misa dipimpin oleh Romo Stef Mau, Pr.
Dalam homilinya, Romo Stef Mau mengajak umat merefleksikan kehidupan melalui gambaran kebun anggur dalam Kitab Suci. Menurut Romo Stef, kebun anggur merupakan gambaran kehidupan umat yang telah menerima kasih, perlindungan, dan pemeliharaan Tuhan.
“Kita semua adalah bagian dari kebun anggur Tuhan. Karena itu, kehidupan yang kita jalani harus menghasilkan buah kebaikan, baik dalam keluarga, pekerjaan, maupun pelayanan,” ujarnya.
Romo Stef Mau menjelaskan, Rasul Paulus dalam surat kepada jemaat di Filipi memberikan tiga pedoman penting bagi kehidupan rohani umat. Pertama, umat tidak boleh dikuasai oleh kekhawatiran.
Kedua, setiap persoalan hendaknya dibawa dalam doa dan permohonan yang disertai ucapan syukur. Ketiga, pikiran perlu dipenuhi dengan hal-hal yang benar, mulia, adil, suci, manis, dan sedap didengar.
“Kehidupan batin kita juga perlu dirawat seperti sebuah kebun yang harus terus disirami. Doa dan kesetiaan menjadi bagian penting agar hati kita tetap subur dan mampu menghasilkan buah kebaikan bagi sesama,” ujarnya.
Melalui bacaan Injil, umat juga diajak menyadari bahwa segala sesuatu yang dimiliki merupakan titipan Tuhan. Bakat, waktu, harta, pekerjaan, dan kesempatan untuk melayani merupakan tanggung jawab yang harus digunakan secara bijaksana.
“Tuhan sudah memberikan berbagai fasilitas kepada kita agar dapat bertumbuh dan menghasilkan buah. Karena itu, ketika kita lalai menghasilkan kebaikan, kita bukan hanya tidak taat, tetapi juga tidak mensyukuri rahmat yang sudah diberikan Tuhan,” ujarnya.
Dalam refleksinya, Romo Stef Mau menegaskan bahwa Kristus merupakan batu penjuru kehidupan. Menurutnya, menolak Kristus dan ajaran-Nya berarti kehilangan arah dalam membangun kehidupan yang menghasilkan buah.
“Kristus harus menjadi batu penjuru dalam kehidupan kita. Kalau kita menolak Kristus dan ajaran-Nya, kita akan kehilangan arah dalam membangun kehidupan yang menghasilkan buah,” ujarnya.
Ia pun mengajak umat untuk kembali memeriksa buah kehidupan masing-masing, terutama dalam keluarga, karya, pelayanan, dan kehidupan batin.
“Marilah kita bertanya kepada diri sendiri, buah apa yang sudah kita hasilkan dalam kehidupan ini? Apakah kehadiran kita sudah membawa kebaikan bagi keluarga, sesama, dan lingkungan tempat kita bekerja dan melayani?” ujarnya.
Romo Stef Mau berharap umat mampu menjadi penggarap kebun anggur Tuhan yang setia, sehingga kehidupan yang dijalani tidak hanya memberikan manfaat bagi sesama, tetapi juga menjadi persembahan yang memuliakan Tuhan.
“Semoga kita menjadi penggarap kebun anggur Tuhan yang setia, yang mampu merawat kehidupan, menghasilkan buah kebaikan, dan melalui seluruh hidup kita memuliakan Tuhan,” ujarnya.














