Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Tradisi caci khas Manggarai mewarnai perayaan 25 tahun imamat tujuh imam di Keuskupan Agung Kupang. Pentas budaya yang digelar di halaman Gereja Paroki Santo Petrus Rasul TDM, Kota Kupang, Kamis (8/10/2026), tersebut menjadi ungkapan syukur atas perjalanan pelayanan para imam sekaligus momentum mempererat persaudaraan dan melestarikan budaya daerah.
Kegiatan ini melibatkan keluarga besar Manggarai di Kota Kupang, mulai dari keluarga-keluarga, mahasiswa, biarawan-biarawati, hingga para pelajar.
Antusiasme masyarakat yang hadir menunjukkan bahwa tradisi budaya tetap memiliki tempat penting dalam kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat.
Dalam wawancara bersama Radio TIRILOLOK, Rekan Pastor Paroki TDM, Romo Deo, menyampaikan rasa syukur atas kepercayaan yang diberikan kepada Paroki TDM sebagai tuan rumah perayaan Pesta Perak Imamat tersebut.
Menurut Romo Deo, perayaan ini menjadi kesempatan untuk mensyukuri penyertaan Tuhan dalam perjalanan panggilan dan karya pelayanan para imam yang telah mengabdi selama 25 tahun di berbagai wilayah tugas.
Sementara itu, Ketua Panitia, Martinus Ora, menjelaskan bahwa pentas caci merupakan salah satu kegiatan seni budaya yang diselenggarakan untuk memeriahkan perayaan Perak Imamat.
Lebih dari sekadar hiburan, kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran umat akan pentingnya peran imam dalam kehidupan Gereja.
“Pentas caci ini bertujuan untuk meramaikan perayaan Perak Imamat. Lebih dari itu, kami berharap kegiatan ini dapat meningkatkan kesadaran umat akan pentingnya peran imam sebagai perpanjangan tangan Tuhan bagi umat,” ujar Martinus.
Ia menegaskan, pentas budaya tersebut melibatkan berbagai unsur keluarga besar
Manggarai yang berada di Kota Kupang. Keterlibatan keluarga, mahasiswa, biarawan-biarawati, dan pelajar menjadi wujud kebersamaan dalam mendukung perayaan keagamaan sekaligus menjaga warisan budaya leluhur.
Martinus juga berharap Pemerintah Kota Kupang dapat mendorong berbagai komunitas etnis untuk menyelenggarakan pentas seni budaya secara rutin setiap tahun.
Menurut Ketua Panitia, kegiatan serupa dapat menjadi ruang bagi masyarakat untuk memperkenalkan kekayaan budaya masing-masing sekaligus memperkuat persatuan di tengah keberagaman.
Ia menilai antusiasme masyarakat yang menghadiri pentas caci di kompleks Gereja Paroki Santo Petrus Rasul TDM menjadi bukti bahwa kegiatan seni budaya memiliki daya tarik besar dan berpotensi dikembangkan sebagai agenda budaya tahunan di Kota Kupang.
Perayaan Perak Imamat tahun ini mengusung semangat syukur kepada Tuhan atas perjalanan 25 tahun pelayanan para imam. Selain menjadi momentum refleksi atas pengabdian yang telah dijalani, perayaan ini juga menjadi kesempatan untuk memohon rahmat dan berkat Tuhan bagi pertumbuhan panggilan imamat di wilayah Keuskupan Agung Kupang.
Adapun tujuh imam yang merayakan Perak Imamat terdiri atas dua imam dari Keuskupan Agung Kupang, dua imam dari Ordo Karmelit Tak Berkasut (OCD), dan tiga imam dari Kongregasi Misionaris Claretian (CMF).
Tujuh imam yang merayakan Pesta Perak Imamat:
- Romo Leonardus Enos Dau
- Romo Ardianus Dimu
- RP. Agustinus Pera, OCD
- RP. Irminus S. Liko, OCD
- RP. Hiasintus Ikun, CMF
- RP. Siprianus Asa, CMF
- RP. Dominikus Kabosu, CMF














