Psikolog: Stigma Kesehatan Mental Hambat Masyarakat Berani Speak Up

Pengalaman Hidup Didengar: Suara Nyata, Perubahan Nyata.

Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Stigma terhadap persoalan kesehatan mental masih menjadi salah satu hambatan bagi masyarakat untuk berani mengungkapkan kondisi emosional dan pengalaman hidup yang mereka alami.

Anggapan bahwa seseorang yang mengalami masalah kesehatan jiwa adalah pribadi yang lemah atau memiliki gangguan serius dapat membuat orang memilih diam dan enggan mencari bantuan profesional.

Persoalan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam talkshow interaktif Radio TIRILOLOK bekerja sama dengan Pemerintah Kota Kupang bertema “Lived Experience Heard: Real Voices, Real Change” atau “Pengalaman Hidup Didengar: Suara Nyata, Perubahan Nyata”, yang berlangsung di Studio Radio TIRILOLOK pada Jumat 9 Oktober 2026.

Talkshow ini menghadirkan Riani Dilianti Ratu, psikolog klinis, dan Ratnasari Kinanggi, psikolog. Keduanya membahas pentingnya pemahaman kesehatan mental, keberanian untuk berbicara tentang pengalaman pribadi, serta perhatian terhadap kesehatan psikis dalam kehidupan sehari-hari dan dunia kerja.

Dalam dialog tersebut, Riani Dilianti Ratu menjelaskan bahwa stigma sosial dapat membuat seseorang berpikir berulang kali sebelum menceritakan persoalan yang sedang dihadapinya. Salah satu penyebabnya adalah kecenderungan masyarakat memberikan label negatif kepada orang yang mengalami masalah kesehatan mental.

Menurut Riani, kesehatan jiwa tidak hanya berkaitan dengan kondisi gangguan mental yang berat. Kesulitan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari secara normal juga dapat menjadi tanda adanya persoalan yang perlu diperhatikan.

Ia menilai, ketika seseorang khawatir akan dicap lemah, dianggap bermasalah, atau dinilai negatif oleh lingkungan, keberaniannya untuk berbicara dan mencari dukungan dapat terhambat.

Selain stigma, kekhawatiran bahwa cerita pribadi akan menyebar luas dan menjadi bahan penilaian orang lain juga membuat sebagian orang memilih untuk menutup diri.

Padahal, mengungkapkan perasaan dan pengalaman bukan berarti seseorang tidak mampu menghadapi persoalannya sendiri, melainkan dapat menjadi langkah untuk memperoleh pemahaman dan dukungan yang dibutuhkan.

Pembahasan selanjutnya menyatakan pentingnya kesehatan jiwa dalam dunia kerja, terutama berkaitan dengan persyaratan pemeriksaan kesehatan bagi calon pekerja.

Psikolog Ratnasari Kinanggi menjelaskan bahwa kesehatan fisik dan kesehatan psikis sama-sama memiliki peran penting dalam mendukung kesiapan seseorang untuk bekerja. Aspek seperti konsentrasi, ketelitian, tanggung jawab, dan kesiapan menjalankan tugas menjadi bagian yang perlu diperhatikan dalam proses penilaian calon tenaga kerja.

Menurut Ratnasari, perhatian terhadap kesehatan psikis merupakan bagian dari upaya mendapatkan sumber daya manusia yang mampu menjalankan pekerjaannya secara optimal.

Ia juga menyinggung kekhawatiran sebagian masyarakat ketika harus mengikuti psikotes atau pemeriksaan kesehatan jiwa sebagai bagian dari proses rekrutmen. Ketakutan tidak lolos seleksi dapat menimbulkan kecemasan tersendiri bagi pencari kerja.

Karena itu, pemahaman yang tepat mengenai pemeriksaan psikologis menjadi penting agar masyarakat tidak langsung memandang psikotes sebagai sesuatu yang menakutkan. Pemeriksaan tersebut perlu dipahami sesuai tujuan dan konteks pelaksanaannya, bukan sebagai alasan untuk memberikan stigma kepada seseorang.

Dalam dialog tersebut, pentingnya sikap terbuka, pengertian, dan pemahaman terhadap orang yang sedang menghadapi persoalan juga menjadi perhatian.

Dukungan yang diberikan dengan empati dapat membantu seseorang merasa lebih aman untuk menceritakan pengalamannya dan mempertimbangkan langkah yang tepat untuk memperoleh pertolongan.

Melalui talkshow bertema “Lived Experience Heard: Real Voices, Real Change”, Radio TIRILOLOK bersama Pemerintah Kota Kupang diharapkan dapat memperluas pemahaman masyarakat tentang kesehatan mental, mengurangi stigma, serta membangun lingkungan yang lebih terbuka dalam mendengarkan pengalaman hidup orang lain.

Mendengarkan tanpa menghakimi dan memberikan dukungan secara tepat menjadi bagian penting dalam menciptakan masyarakat yang lebih peduli terhadap kesehatan jiwa, baik di lingkungan keluarga, masyarakat, maupun dunia kerja.