Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – “Anak-anak GMIT yang ada di Jemaat GMIT Hosana Sungkaen, harus memiliki karakter Kristus, harus menjadi anak yang beriman, cerdas, peduli dan berani. Anak GMIT harus bisa bertumbuh dengan optimal dalam ruang dan waktu yang berpihak pada anak, mengutamakan kepentingan terbaik pada anak dan harus bebas dari diskriminasi.
Untuk mewujudkan generasi yang beriman, cerdas dan berkarakter Kristus harus didukung dengan semua komponen dan pemangku kepentingan, termasuk gereja, karena gereja itu sebenatnya adalah umatnya. Kita terpangggil sebagai gereja yang mampu mencermati dan mendukung untuk mewujudkan anak-anak sebagai Generasi Emas Indonesia. Gerejapun dapat mengambil peran penting untuk memberi atmosfer yang aman, nyaman dan kondusif bagi tumbuh kembang anak, baik dari aspek iman, pengetahuan, psikomotorik dan afektif.
Pekerjaan dan tanggung jawab kita akan berkelanjutan, dengan ditetapkannya GMIT Jemaat Hosana Sungaen sebagai salah satu Gereja Ramah Anak (GRA) di wilayah pelayanan GMIT. Untuk itu, kita perlu memperkuat sinergi dan kolaborasi antara gereja dan pemerintah bersama semua pemangku kepentingan dengan ditetapkannya GRA Hosana Sungkaen, dengan menciptakan lingkungan bermain sambil belajar mengenal Kristus melalui Firman Tuhan, yang aman dan nyaman untuk mendukung perkembangan anak secara holistik”.
Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Provinsi Nusa Tenggara Timur, diwakili oleh Kepala Bidang Perlindungan Anak (PKA) sekaligus sebagai Plh. Kepala Bidang Pemenuhan Hak Anak (PHA), France Abednego Tiran, saat mengikuti acara Launching Gereja Ramah Anak (GRA) GMIT Hosana Sungkaen di GMITJemaat Hosana Sungkaen, Klasis Kota Kupang Timur, Kelurahan Naimata, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, Minggu, 08 Juni 2025.
Di hadapan ratusan anak PAR GMIT Jemaat Hosana Sungkaen bersama orang tua, France Tiran mengapresiasi atas dideklarasikannya jemaat tersebut, sebagai Gereja Ramah Anak (GRA) dengan harapan penguatan komitmen dari semua komponen di gereja untuk benar-benar Gereja Hosana Sungkaen harus menjadi Gereja Ramah Anak.
“Hari ini kita memperingati Pencurahan Roh Kudus, yang dikenal sebagai Hari Pentakosta, dimana hari ini kita juga memperingati hari lahir gereja, dan saya sangat memberikan apresiasi kepada Bapak Pendeta dan Unit Pembantu Pelayanan (UPP) Persekutuan Anak Remaja dan Taruna (PART) dan semua unsur di jemaat iti, yang telah berupaya keras untuk menjadikan gereja ini menjadi salah satu GRA di Kota Kupang. Ini berarti gereja telah mampu bertransformasi dan memberikan tempat utama bagi anak-anak di gereja, sebagai rumah yang aman, nyaman dan damai bagi anak-anak calon pemimpin gereja dan bangsa ini”, urai France Tiran.
Saat peluncuran GRA, yang disaksikan oleh Walikota Kupang diwakili oleh Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Kupang, Imelda Manafe, Ketua Majelis Sinode GMIT diwakili Ketua UPP Kategorial dan Fungsional merangkap Sekretaris Bidang Perempuan dan Anak, Pdt. Melsy Thelik Mooy, Ketua Majelis Jemaat Hosanaa Sungkaen, Pdt. Eliza J. Riri, France menyampaikan : “Dengan diluncurkannya GRA di jemaat ini, maka semua unsur pelayanan di jemaat ini punya komitmen yang kuat untuk mewujudkan Pemenuhan Hak Anak dan Perlindungan Anak, didorong dengan kesepahaman dan komitmen dari seluruh warga gereja dan pemangku kepentingan”, katanya.
Menurut France, dengan cara pandang yang menghargai hak anak, gereja dapat menciptakan lingkungan yang aman, inklusif, dan bebas dari kekerasan. Keterlibatan seluruh elemen gereja, adalah kunci untuk mewujudkan budaya yang mendukung pemenuhan hak anak. Dengan pendekatan empati dan interaksi yang ramah, guru-guru PART dan para pelayan dapat menjadi pelindung dan teman bagi anak, sementara anak-anak diberi kesempatan untuk menyuarakan pendapat mereka dan berpartisipasi aktif dalam keputusan yang mempengaruhi hidup mereka di gereja.
Dalam tema “Anak GMIT Cinta Kristus”, France mengingatkan : “Gereja Ramah Anak merupakan media pelayanan gereja yang bertujuan untuk menciptakan lingkuangan aman, nyaman dan mendukung anak-anak, serta memberikan perhatian dan perliindungan yang maksimal kepada anak-anak”, jelssnya.
Lanjut France, GRA adalah keputusan tepat dan merupakan tindakan yang berpihak pada anak. Gereja harus memastikan anak merasa diterima, dihargai, dan dapat tumbuh secara otpimal dalam iman dan kehidupan sosial anak.
“Gereja Ramah Anak adalah konsep penting dan perlu diterapkan oleh setiap gereja. Dengan menerapkan prinsip-prinsip Gereja Ramah Anak, gereja dapat berperan dalam pemenuhan hak-hak anak dan pengembangan potensi anak, dalam rangka pembentukan generasi penerus gereja dan penerus bangsa yang berkualitas”, tegas France.
Berkaitan dengan GRA, Ia mengatakan semua pemangku kepentingan di gereja harus bergerak bersama, membangun sistem perlindungan anak yang responsif, berprespektif anak dan berbasis pada anak, termasuk anak-anak disabilitas pun harus mendapat tempat dan ruang yang optimal dan setara di gereja.
“Hari ini launching GRA, ini bukan sekedar seremonial belaka, tapi harus berwujud dengan tindak lanjut dan aksi nyata,, dimana gereja ini harus menyiapkan semua saran prasana yang inklusif dan berpihak pada anak, suasana aman dan nyaman untuk anak dapat belajar dan bereskpresi, ruaang laktasi bagi ibu menyusui, bidang miring untuk aksesibilitas anak-anak dengan disabilitas, dan Juru Bahasa Isyarat, dan harus melibatkan anak-anak dalam pelayanan di gereja. Ini sangat penting, sehingga GRA benar-benar memberi ruang dan kesempatan yang holistik, inklusif dan integratif bagi semua anak-anak termasuk anak dengan disabilitas”, harap France.
Mengakhiri sambutannya, France mengingatkan : “Semua kiita harus merasa bertanggung jawab dalam menciptakan gereja sebagai tempat yang aman dan nyaman, gereja yang bebas dari berbagai bentuk diskriminasi dan kekerasan terhadap anak-anak, sehingga mereka dapat tumbuh berkembang, berpartisipasi dan dilindungi agat mereka menjadi anak-anak yang memilki martabat untuk dihormat”, ungkap France disertai harapan GRA juga makin bertambah di wilayah pelayanan GMIT.
Dalam acara peluncuran GRA GMIT Hosana Sungkaen, yang dipandu oleh Pemerhati Anak sekaligus Pengurus PART Sinode GMIT, Aser Rihi Tugu, dimana acara tersebut diawali dengan Kebaktian Minggu Syukur Peluncuran GRA, dipimpin oleh Calon Vikaris Mercy Amekan, diwarnai dengan sejumlah atrakrasi seni dan budaya dari anak – anak bertalenta jemaat setempat, seperti parade busana daerah NTT oleh anak-anak PART, vokal grup dan tarian dan penampilan anak-anak jemaat tamu seperti dari Jemaat GMIT Bet”El Kampung Baru Penfui, membuat suasana makin gembira dan semangat.
Sementara itu, Walikota Kupang, dalam sambutannya yang diwakili oleh Plt. Kepala Dinas P3A, Imleda Manafe mengatakan bahwa kekerasan pada anak-anak makin marak terjadi, baik kekerasan offline maupun online.
“Kekerasan seksual terhadap anak merupakan salah satu bentuk kekerasan yang paling merusak dan meninggalkan dampak jangka Panjang terhadap korban. Di Kota Kupang, kasus kasus ini mengalami peningkatan tinggi, bahkan dalam situasi yang seharusnya aman bagi anak, seperti di lingkungan keluarga, sekolah dan tempat ibadah, malah anak-anak kita justru mengalami kekerasan di tempat-tempat tersebut”, kata Imelda.
Imelda yang juga Sekretaris DP3A Kota Kupang juga menyampaikan apresiasi karena dengan hadirnya satu lagi GRA di Kupang Kupang, maka GMIT Hosana Sungkaen turur berupaya agar Kota Kupang dapat menjadi Kota Layak Anak.
“Dengan membangun komunikasi dan koordinasi yang efektif, gereja dapat menjadi tempat yang mendukung tumbuh kembang anak secara holistik. Langkah-langkah ini tidak hanya memperkuat pelaksanaan Gereja Ramah Anak, tetapi juga berkontribusi pada upaya menjadikan Kota Kupang sebagai Kota Ramah dan Layak Anak, yang akan berdampak untuk menciptakan masa depan yang lebih cerah bagi anak-anak”, pungkas Imelda.
Sedangkan Pendeta Melsy Thelik – Mooy, yang hadir membawakan Suara Gembala, mewakili Ketua Sinode GMIT : “Gereja terus berupaya aagar makin lama jumlah GRA di wilayah pelayanan GMIT, makin bertambah dengan kualitas yang mumpuni, sehingga keterpanggilan gereja untuk mewujudkan anak-anak GMIT yang beriman dan cerdas serta memiliki karakter Kristus dapat terwujud”, katanya.
Ia melanjutkan bahwa GMIT menginginkan kolaborasi yang makin kuat antara gereja dan pemerintah serta semua pemangku kepentingan, sehingga dapat bersama menekan angka kekerasan terhahadap anak.
“GMIT membentuk GRA dan juga Satgas GRA dengan bekerja sesuai SOP Perlindungan Anak, sehingga anak dapat melindungi dirinya sendiri dan dapat juga melindungi temannya, serta GMIT juga terus berupaya untuk meningkatkan keberpihakannya terhadap anggaran perlindungan anak-anak, sehingga keberpihakan terhadap anak-anak sebagai generasi penerus gereja dapat terwujud optimal dan makin berkualitas”, jelas Melsy yang pernah melayani di Jemaat Betel Nitneo Klasis Kupang Barat dan Jemaat GMIT Ora El Labora RSS Oesapa Klasis Kota Kupang Timur.
Mewarnai acara Peluncuran SRA, juga disampaikan suara hati Jemaat Hosana Sungkaen oleh Dr. Polce Aryanto Bessie,S.S.,M.Hum, mengatakan bahwa keberadaan anak-anak penting bagi pertumbuhan gereja hari ini, besok dan di masa yang akan datang.
“Ketika kita mau mencetak gereja yang mau bertumbuh dan mengikut Kristus, maka hal ini dimulai dari anak-anak. Seberapa banyak konteks gereja berperan dalam memberikan ruang yang cukup bagi anak-anak untuk bertumbuh dan berkembang? Hal ini penting untuk kita pikirkan dan tindak lanjuti”, ungkap Polce yang adalah seorang akademisi perguruan tinggi di Kota Kupang.
Ia mengatakan bahwa Gereja sebagai wadah belajar Holistik, yaitu gereja yang menjamin terpenuhinya hak-hak anak juga melindungi anak dari kekerasan, eksploitasi, diskriminasi dan hal-hal yang bertentangan dengan hak anak.
“Untuk itu kami sebagai Koordinator pelaksana harian yakni pengajar anak dan remaja yang berhubungan langsung dengan kebutuhan anank-anak di Jemaat Hosana Sungkaen, mengajak bapak/ibu dan para tamu undangan semuanya untuk menyatakan satu komitmen yang sangat diperlukan hari ini untuk kita deklarasikan gereja sebagai Gereja Ramah Anak yang berkelanjutan bagi kehidupan generasi penerus gereja, yakni dimulai dari para pendeta, penatua, diaken dan para pemimpin di Kota Kupang sebagai pengambil kebijakan untuk berkomitmen dan akan dilanjutkan dengan program-program teknis yang bermuara pada perkembangan anak”, pungkasnya.
Suara Anak-anak GMIT Hosana Sungkaen, yang disampaikan oleh Elisabeth Christiani Leoanak, iaa menyampaikan : “Kami anak-anak PART GMIT Hosana Sungkaen sangat senang dan berterima kasih atas program Gereja Ramah Anak ini. Kami berharap program seperti ini semakin banyak, sehingga kami bisa lebih aktif belajar, bermain, berkarya dan melayani di gereja.
Kami tahu bahwa kami adalah bagian penting dari gereja, dan kami ingin menjadi anak-anak yang patuh, beriman, dan berguna bagi gereja dan bangsa. Kami juga berharap gereja akan selalu menjadi tempat yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi kami.
Untuk itu, kami ingin mengucapkan terima kasih banyak karena sudah membimbing kami dengan sabar dan penuh kasih. Terima kasih karena tidak hanya mengajar, tapi juga mendengarkan kami. Kami senang ke gereja karena kami diterima, tidak dimarahi dan diajak bertumbuh. Kami bisa bernyanyi, bermain, dan belajar Firman Tuhan dengan gembira.
Kami percaya, gereja ini adalah rumah kami juga. Tempat di mana kami boleh bertumbuh menjadi diri sendiri, tempat kami disayangi dan dibentuk untuk mengenal Tuhan Yesus lebih dalam. Kami butuh didoakan, didengar, dan ditemani bertumbuh. Tolong terus doakan kami, tuntun kami dengan cinta, agar kami menjadi anak-anak yang takut akan Tuhan dan penuh sukacita. Mari kita bersama-sama menjaga dan menghargai semua anak-anak di gereja, agar gereja kita menjadi tempat yang paling kita cintai dan kasihi”, ungkapnya disaksikan oleh Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Kupang, Zenal, Satuan Tugas GRA Sinode GMIT, Dortje Joesoef, Ketua dan Pengurus UPP PART Klasis Kota Kupang Timur,
Dalam kesempatan tersebut juga dibacakan deklarasi Stop Kekerasan pada Anak yang berisikan :
1.Terimalah dan kasihilah kami tanpa diskriminasi.
2.Lindungilah kami dari berbagai tindakan kekerasan, diskriminasi dan eksploitasi dalam pelayanan jemaat, dalam keluarga dan dalam kehidupan bermasyarakat.
3.Seluruh kebijakan dan keputusan pelayanan jemaat hendaknya memperhatikan kepentingan terbaik anak yang ada dalam jemaat.
4.Dukunglah proses tumbuh, kembang, dan beri ruang keterlibatan dan partisipasi anak dalam pelayanan jemaat sesuai tahapan perkembangan kami.
5.Mewujudkan program dan anggaran serta lingkungan rumah ibadah yang ramah kepada anak berkebutuhan khusus dan kaum disabiilitas.
6.Menghadirkan lingkungan gereja yang aman, nyaman, bebas dari rokok, minuman keras, narkotika, obat-obatan terlarang dan pornografi
Diakhir acara, ditandai dengan penandatangan Deklarasi Gereja Ramah Anak GMIT Jemaat Hosana Sungkaen oleh semua tamu undangan, dimana deklarasi tersebut juga dibacakan oleh Jeriyanto Elimanafe, dan diikuti oleh semua peserta tamun undangan.
Adapun isi dari Deklarasi Gereja Ramah Anak sebagai berikut :
1.Mewujudkan perlindungan anak dari berbagai tindakan kekerasan, diskriminasi dan eksploitasi dalam pelayanan jemaat, dalam keluarga dan dalam kehidupan bermasyarakat
2.Seluruh kebijakan dan keputusan pelayanan jemaat berorientasi pada kepentingan terbaik anak yang ada dalam jemaat
3.Mendukung proses tumbuh, kembang, dan beri ruang keterlibatan dan partisipasi anak dalam pelayanan jemaat sesuai tahapan perkembangan anak.
4.Mewujudkan program dan anggaran serta lingkungan rumah ibadah yang ramah kepada anak berkebutuhan khusus dan kaum disabiilitas.
5.Menghadirkan lingkungan fisik gereja yang aman, nyaman, bebas dari rokok, minuman keras, narkotika, obat-obatan terlarang dan pornografi.
Gereja Ramah Anak mendorong tumbuh kembang anak yang inklusif dan partisipatif. Artinya, semua anak, tanpa memandang latar belakang sosial, ekonomi, atau budaya, diberi kesempatan yang sama untuk terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran, bermain dan pelayanan Metode yang diterapkan juga interaktif dan menyenangkan, sehingga menciptakan suasana kondusif aman dan nyaman bagi anak-anak.














